Air Mata “Lawa” Sucikan Kisah Pedih

Kisah Daeng Lawa, warga Bantaeng yang telah meninggal dunia di bulan Agustus 2019.
Kuburan/makam keluarga Tetta Lawa.

Lebih lembut lagi diucapkan dengan kata Tuatta dan juga Tatta. Dari kata itulah muncul sebutan Tetta yang kemudian menjadi Etta (Etta berarti Ayah dan Ibu atau Paman dan Bibi).

Tetta Lawa punya pertalian kekerabatan sangat dekat dengan Puang Bandu (H Labandu). Merupakan tokoh berpengaruh di Kabupaten Bantaeng terkait penyebarluasan agama Islam sekitar ratusan tahun silam.

Read:  16 Pejabat Bantaeng Batal Libur, Bupati Paksa Pakai Laptop

Labandu Wajo kala itu adalah seorang dermawan. Memprakarsai berdirinya Masjid Besar Taqwa Tompong pada tanggal 22 Jumadil Akhir 1304 Hijriyah.

Sekitar bulan Maret 1885 dalam penanggalan Masehi. Masjid itu masih berdiri kokoh sejak masa Kerajaan Karaeng Panawang dan tetap difungsikan.

Memiliki dimensi 31,5 x 21 x 16 Meter pada ukuran panjang, lebar dan tingginya. Salah satu ciri khasnya pada bentuk bangunan yang menyerupai Masjid Demak.

Read:  Isteri Nurdin Abdullah Coaching 28 Guru PAUD Untuk Diberangkatkan ke Jepang

Keluarga Labandu ini kemudian mendiami Lingkungan Lantebung, Tompong dan Lembang hingga kini. Termasuk rumpun kecil Tetta Lawa.

Labandu dan Tetta Lawa juga berkerabat dengan HM Anwar Makkatutu yang dijadikan nama RSUD Bantaeng.

Kerabat lainnya diantaranya H Sinyo (H Abd Rahim) dan Mantan Anggota DPRD Kabupaten Bantaeng dari Partai Golkar, H Ibnu Mas’ud Sikki.

Read:  Legislator Cantik Bantaeng Berharap 45 Butir Pancasila Kembali Dibudayakan

Berikutnya dikenal seorang Penjagal senior, H Nurdin Daeng Nguntung di Kelurahan Letta serta Daeng Solo (Soltan Raja), salah seorang Tokoh Masyarakat sangat disegani di Kelurahan Lembang.

Demikian pula rumpun keluarga H Benny Nurdin, keluarga besar Burhan Daeng Sitaba dan rumpun keluarga lainnya yang mendiami kota kecil di SulSel ini.