
Demi menyelamatkan sang Ayah, keluarga besar Tetta Lawa sepakat merawatnya di Jalan Sungai Bialo II tempat disemayamkannya Tetta Lawa sejak Ahad pagi kemarin.
Dari pantauan AMBAE pada Ahad malam, sekitar pukul 20:00 Wita, Bia mengemas dan memindahkan beberapa barang dari rumah suaminya ke dalam mobil. Terparkir tepat di depan rumah itu, tampak berjejalan barang rumah tangga seperti piring dan gelas siap dipindahkan ke tempat lain.
Hal itu dibenarkan H Untung selaku Ipar Tetta Lawa yang rumahnya hanya berjarak sekitar 50 Meter dari tempat kejadian itu. H Saenab dalam penuturannya di rumah duka bahkan menyebut-nyebut bahwa dirinya sangat senang jika benar itu menandai kepindahannya.
“A’lampa lalo mako liba. Ikau mintu passabakkang na nia Daeng Lawa ri kammayya inne”, tutur dia.
Katanya, “Cepatlah kamu pergi meninggalkan kami. Kamulah penyebab dari apa yang dialami Daeng Lawa (dan juga keluarga) sampai saat ini”.
Dari beberapa sumber menjelaskan bahwa sempat terjadi perpecahan dalam tubuh rumpun keluarga besar itu. Dua hingga tiga orang diantaranya untuk waktu relatif singkat melakukan pertemanan untuk mendukung sikap dan perilaku dari Bia.
Sementara mendominasi keluarganya pro kepada anaknya yang mendapat perlakuan tidak beradab dari Bia. Satu diantaranya dari perlakuan itu, Bia kerap menyembunyikan makanan dan minuman yang seharusnya dapat juga dinikmati sang anak.
Membuat anak kandung Tetta Lawa seakan kelaparan karena tidak mendapat bagian di rumah orang tuanya sendiri. Hingga akhirnya putuslah hubungan keakraban.
Namun di akhir kisah sebelum Tetta Lawa meninggal dunia, sebagian keluarganya yang pro ke Bia, perlahan mulai berpindah ke kubu yang satu setelah mengetahui kisah sebenarnya yang jauh dari ekspektasi mereka karena kemunculannya di permukaan sangat berbeda.
Kisah Tetta Lawa dengan keluarganya ini patut menjadi pelajaran berharga bagi siapapun. Semoga memberi inspirasi untuk selalu berbuat baik dalam segala hal demi kesejahteraan di dunia dan keselamatan di akhirat kelak. (*)
