
Daeng Lawa kemudian menjalani proses penyelenggaraan jenazah. Almarhum dimandikan 5 orang anaknya yang laki-laki ditambah saudara Almarhum yakni H Tutu (H Ahmad Yani Daeng Tutu).
Berikutnya dikafani masih di rumah duka di Jalan Sungai Bialo. Seorang Ustadz dipercayakan menyelenggarakan proses yang menjadi sebuah kewajiban atau keharusan bagi seluruh Muslim dan Muslimah tersebut.
Berlanjut dimana Daeng Lawa diShalati oleh keluarga terdekatnya di rumah duka itu. Kemudian diusung menuju ambulance lalu diantar ke Masjid Besar Taqwa Tompong di Kelurahan Letta.
Di Masjid tertua kedua yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan (SulSel) itu, Almarhum menunggu Shalat Dhuhur ditunaikan terlebih dahulu oleh jama’ah. Itu berarti ratusan orang secara berjama’ah men-Shalati Daeng Lawa yang kala itu sudah berstatus jenazah.
Bergeser lagi, jenazah diantar menuju Pemakaman Umum Lembang. Letaknya tak jauh dari rumah duka.
Dia berdampingan dengan Almarhumah Daeng Kenna (Haedar Ali Daeng Kenna), isteri pertama Almarhum. Di sekitar kuburannya juga telah terbaring untuk selamanya beberapa keluarganya, diantaranya sang Ayah, H Abd Majid.
Maka tuntaslah prosesi pemakaman Almarhum secara Islam. Pihak keluarga berencana menggelar Tausyiyah selama 3 malam berturut-turut dengan menghadirkan Muballigh.
Rumpun Keluarga
Rentetan keluarga Daeng Lawa terbilang besar dan luas seperti halnya keluarga besar lainnya di Bantaeng. Menjadikan Almarhum dikenal luas pula disamping dikenal atas kebaikan dan persahabatannya yang sangat dielu-elukan sebagian besar orang.
Almarhum menyandang gelar Tetta bukan sekedar penamaan saja. Dia bagian dari kerabat bangsawan yang menjadi ciri khas masyarakat Bugis-Makassar.
Tetta, sebutan yang melekat pada
sang Ayah atau Paman bangsawan. Berasal dari penghalusan sebuah kata yakni kata Tuangta atau Tuanta (Tuan Kita).










