FGD Laboratorium Inovasi, Asisten III Setda Bantaeng Imbau ASN Tidak Destruktif

FGD Need Assessment Kebutuhan dan Harapan tentang Laboratorium Inovasi� Pemkab Bantaeng.
Asruddin (tengah) hadir memberi pencerahan di acara FGD tentang Laboratorium Inovasi Pemkab Bantaeng (11/03/20).

AMBAE.co.id – Bantaeng. Hadir pada pertemuan bersama perwakilan OPD (Organisasi Perangkat Daerah), Asruddin selaku Asisten III Bidang Administrasi Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Bantaeng menegaskan pentingnya ASN (Aparatur Sipil Negara) menempatkan diri sebagai pelayan masyarakat, Rabu siang (11/03/20).

Dengan status itu, dia minta adanya perhatian penuh kepada masyarakat. Salah satunya kata dia yang urgent disikapi agar bisa menjadi corong informasi bagi Pemerintah.

Dengan begitu, program dan kegiatan yang direncanakan dan dijalankan Pemerintah dapat tersosialisasikan dengan baik. Bukan malah membangun argument serta beropini yang kesannya justru mendiskreditkan Pemerintah di mata rakyatnya.

“Jadilah corong informasi Pemerintah untuk masyarakat. Jadi ketika ada pertanyaan dari masyarakat, kita jelaskan sesuai substansinya, jawablah pertanyaan yang dasar”, pinta Asruddin.

Lagi-lagi jebolan STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri) itu mengajak untuk tidak berkutat pada persepsi. Pertanyaan dan jawaban yang demikian dapat memunculkan pertanyaan baru yang akan menjauhkan dari intisari sosialisasi.

Read:  Hari Pertama Betugas, Kabag Humas Bantaeng yang Baru Adakan Briefing

Hal itu dengan tegas disampaikan di Ruang Rapat Bappeda Bantaeng yang berlokasi di Zona Perencanaan Museum Balla Lompoa Bantaeng. Pada kesempatan itu berlangsung Focus Group Discussion (FGD) Need Assessment Kebutuhan dan Harapan tentang Laboratorium Inovasi.

“Buku ini harus memberikan panduan bagi kita semuanya karena kita juga akan memegang buku ini. Maka kita juga patut menyusunnya sesuai kaidah penulisan yaitu rumus 5W+1H, misalnya untuk program bantuan modal, bagaimana itu berjalan, siapa yang akan melaksanakan, siapa sasarannya, kapan dilaksanakan, berapa dan penjelasan lainnya”, urai Asruddin.

Dia mengunci dengan kata konstruktif. ASN satu paket dengan Pemerintah, makanya tidak seharusnya ASN berpikir apalagi berlaku destruktif. Harapannya berupa masukan dan kritikan yang lebih konstruktif.

Read:  Rakor PKK Bantaeng November 2019, Sri Dewi Yanti Minta Pengurus Lebih Peduli Kasus Kebakaran

Sementara itu, Direktur Bonthain Institute, Abd Rahman Ramlan yang didaulat sebagai fasilitator kegiatan oleh Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bantaeng menuturkan jika Buku Saku yang akan dicetak akan memuat sejumlah penjelasan teknis terkait program Pemkab Bantaeng melalui Laboratorium Inovasi.

“Paling utama muatannya tentang penjelasan teknis program. Kami juga minta OPD, Kecamatan dan unsur lain untuk memberi masukan untuk penyusunan buku ini, pertanyaan yang sering muncul kita jawab sesuai teknisnya, bukan dengan opini”, jelas dia.

Karenanya instansi terkait dihadirkan untuk meramu bersama konsep buku saku. Rahman kepada AMBAE ingin dengan buku itu agar jajaran Pemerintah tidak lagi berbeda persepsi tatkala memberi pemahaman kepada masyarakat atau justru belum tau program dan kegiatan yang dilaksanakan itu yang mana dan seperti apa. (*)

Read:  Berbagi Takjil Komunitas Conebo Sasar Tukang Becak dan Penyapu Jalan