Bedanya Mudik ke Pelosok Desa, Muhlis Gunakan Jurus Ninja Hatori

Mudik.
Kondisi jalan di Dusun Pattallassang, Gowa sulit dilewati kendaraan karena licin.

Hanya bermodal roda dua yang dia sebut sepeda motor, ditambah tas ransel berisi peralatan dan kebutuhan di perjalanan. Lalu sedikit biaya di jalan, yang besar katanya justru uang lebaran alias THR mesti dibawa serta secara tunai karena di tempat asalnya belum tersedia fasilitas seperti ATM dan semacamnya.

“Teman-teman di Jawa mungkin lebih enjoy dan punya cerita menarik tiap tahun dia mudik. Tapi coba larut ke dalam ceritaku dan mencoba peruntungan Mudik ke kampungku, dijamin sangat menarik”, kata Muhlis.

Banyak kisah bisa diceritakan pasca Mudik itu. Dan sebagai Penulis, baginya sangat pas dijadikan bahan tulisan, bahkan mengajak Penulis lain untuk menggali potensi menulisnya lewat perjalanan yang dilaluinya.

“Diakhir perjalanan panjangku selalu ada kebahagiaan dan kepuasaan yang mengobatiku. Dari jauh isteriku dan anakku sudah pasti menunggu, menatap Saya dari beranda rumahku”, jelasnya.

Bahkan harus menitikkan air mata saat anaknya yang masih kecil berteriak begitu kencang memanggil namanya. Isterinya pun ikut menyambut di depan rumah tatkala dia semakin dekat.

Read:  Gelaran SulSel Maraja, Isteri NA Tegaskan Pentingnya Inovasi UKM

Kisah nyata mengharukan si Muhlis ini seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi Pemerintah. Betapa tidak, fasilitas umum seperti jalan di desanya sangat memprihatinkan.

Kendaraan roda empat adalah pilihan terakhir baginya karena tidak akan bisa mencapai kampung halamannya apalagi rumahnya. Makanya dipilihlah motor untuk bisa melalui jalan licin serta jembatan gantung yang lebarnya hanya sekitar 1 meter saja.

Read:  Breaking News: Laka Lantas Depan Pekuburan, Korban Dilarikan ke RSUD Bantaeng

Muhlis mengakhiri pernyataannya dengan “Berbahagialah Anda yang punya kota, hidup di kota dan mengenyam kemegahan kota dengan segala fasilitasnya yang serba wah. Selamat bermudik ria dan selamat merayakan hari Raya Idul Fitri 1440 H, dari Saya penghuni pelosok desa”. (*)