Satupena Sulawesi Selatan Membawa Warna Baru Untuk Ragam Nuansa

Warna baru Satupena Sulsel.
Pengurus Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena Sulawesi Selatan (15/05/22).

AMBAE.co.idMakassar. Sebagai organisasi baru, Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena Sulawesi Selatan diharapkan bisa memberi makna bagi profesi kepenulisan dan gerakan literasi di daerah ini. Mereka tak harus larut dan terbawa arus budaya digital tapi bisa memberi warna dan pembeda atas fenomena yang ada.

Sehingga bisa memberi arah, panduan, dan kompas bagi kemajuan peradaban. Begitu sari pati pertemuan sejumlah penulis, penyair, sastrawan, akademisi, penggiat literasi, dan pekerja seni yang tergabung dalam Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena Sulawesi Selatan yang dihelat pada Minggu, 15 Mei 2022.

Pertemuan pagi itu berlangsung santai di Roemah Lamdoek, Jalan Lamadukelleng, Kota Makassar. Di depan peserta tersaji kopi hangat, pisang, dan ubi goreng melengkapi hangatnya perbincangan.

Koordinator Satupena Sulawesi Selatan, Rusdin Tompo, memulai pertemuan dengan menyampaikan mandat yang diberikan Ketua Umum Pengurus Pusat, Denny JA. Disampaikan, berdasarkan amanah itu, Koordinator Satupena di setiap provinsi diminta membentuk grup WhatsApp dengan 100 anggota.

Read:  Hari Pertama Sekolah, Orang Tua, Siswa dan Guru Hormati Bendera

Kemudian mengadakan deklarasi. Lantas, Satupena di setiap provinsi, menggelar acara Buku dan Musik di kafe atau kedai kopi.

“Alhamdulillah, Satupena Sulawesi Selatan, sudah punya grup WA dengan 105 anggota. Tinggal nanti kita deklarasi, setelah terbentuk pengurus,” terang penulis buku yang belakangan aktif memberikan penguatan bagi Sekolah Ramah Anak itu.

Terkait itu, dua agenda yang akan dibicarakan, yakni menyusun struktur kepengurusan dan menetapkan hari pelaksanaan deklarasi Satupena Sulawesi Selatan. Dia lalu menyampaikan soal bentuk organisasi yang dibayangannya tidak terlalu gemuk.

Harapannya agar lebih dinamis dan produktif. Apalagi pengurus pusat memberi keleluasaan membentuk organisasi sesuai kebutuhan daerah.

“Di luar AD/ART dan SK yang jadi rujukan, pengurus juga dimungkinkan untuk berkreasi. Semua boleh kecuali yang dilarang,” ucap Rusdin Tompo, meniru pesan Denny JA dalam grup Pengurus Daerah Satupena.

Dr Fadli Andi Natsif, akademisi, dan Hardodi, SH, MH, praktisi hukum yang hadir dalam pertemuan, mengingatkan agar Satupena Sulawesi Selatan tetap berpedoman pada mandat yang diberikan. Itulah mengapa istilah yang digunakan adalah “koordinator” bukan ketua.

Read:  Kisah Heroik Relawan Demokrasi 2019 Bakal Dibukukan

Peserta yang hadir kemudian membahas kepengurusan Satupena Sulawesi Selatan, termasuk divisi-divisinya. Disepakati, kepengurusan Satupena Sulawesi Selatan, periode 2022-2027, terdiri dari satu orang koordinator, satu sekretaris, dan satu bendahara.

Koordinator didampingi 5 wakil koordinator, yang membawahi masing-masing divisi. Ada 5 divisi di Satupena Sulsel, yaitu Divisi Penulisan dan Penerbitan, dengan tugas antara lain mendorong kegiatan penulisan dan penerbitan, serta melakukan peningkatan kapasitan penulisan melalui pelatihan.

Juga ada Divisi Diskusi dan Pertunjukan, dengan tugas antara lain membuat kegiatan diskusi, seminar, pertunjukan literasi, secara off air maupun daring. Divisi Produk Kreatif dan Media Digital, tugasnya antara lain mengelola akun medsos, portal, membuat produk merchandise sebagai bagian dari fundrising.

Read:  Keakraban TNI-Warga dalam Perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-77 di SD Negeri Parinring

Sementara Divisi Jejaring dan Hubungan Masyarakat, yang menjalankan kegiatan kerjasama, pemberitaan. Berikutnya ada Divisi Advokasi Gerakan Literasi.

“Divisi Advokasi Gerakan Literasi ini bagian dari social movement,” imbuh Dr Adi Suryadi Culla, yang merupakan Ketua Dewan Pendidikan Sulsel.

Divisi ini diharapkan akan jadi motor bagi Satupena Sulawesi Selatan mewujudkan Kota Literasi. Mereka yang hadir optimis bisa mendorong lahirnya Perda terkait Kota Literasi karena beberapa orang punya pengalaman sebagai legal drafter.

Setiap kegiatan akan ditangani oleh 2-3 divisi karena program yang ada saling beririsan. Spirit sinergitas dan kolaborasi akan jadi semangat dalam mengembangkan organisasi.

Mereka yang hadir juga menyadari tantangan dan peluang era digital. Sehingga dipandang perlu membuat program yang menyasar segmen milenial dan Gen Z, dengan memanfaatkan beragam platform digital. Mereka bertekad, setiap tahun ada buku yang ditelorkan Satupena Sulsel. (*)