Jelajahi Toraja, 13 Kali Sandiaga Uno Mencuci Tangan

 

CTPS Sandiaga Salahuddin Uno.
Sandiaga Uno (ketiga dari kiri) menyaksikan vaksinasi di Sa’pak Bayo-bayo, Tana Toraja (23/11/21).

AMBAE.co.idToraja Utara. Sedikitnya 13 kali Sandiaga Uno mencuci tangannya selama berada di Toraja (Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara), utamanya di ruang-ruang publik selama kunjungannya 21 hingga 22 November 2021. Sejumlah tempat dikunjungi, menjelajahi Toraja nyaris tanpa istirahat.

Pertama saat tiba di Bandar Udara Buntu Kunik di Kabupaten Tana Toraja pada Minggu pagi, 21 November 2021. Sebelum memasuki area indoor bandara, terlebih dahulu mencuci tangannya pada fasilitas CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun).

Diikuti rombongan dari Jakarta yang menyertai dirinya ke Toraja. Tampak pula Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan, Muhammad Jufri, mewakili Plt Gubernur Sulsel dan Direktur Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Makassar, Muhammad Arifin.

Sandi dan rombongan tidak lupa mencuci tangan sebelum memasuki area publik dalam penejelajahannya ke negeri di atas awan itu. Bahkan pada beberapa tempat, juga mencuci tangan sebelum meninggalkan tempat tersebut ataupun dengan hand sanitizer.

Pantauan AMBAE, Sandi mencuci tangan kedua kalinya di Royal Square Cafe and Resto. Tempat bersantap siang, menikmati kuliner Tana Toraja, lokasinya di sekitar Bundaran Kolam dan juga Patung Lakipadada di Makale.

Lanjut di Sa’pak Bayo-bayo meninjau vaksinasi. Lalu di Desa Wisata Kole Sawangan, Sandi mencuci tangan sebanyak dua kali di dua titik berbeda.

Read:  13 Orang Isi Kepengurusan GenPI SulSel Untuk Periode 2020-2021

Di hari yang sama, bergeser ke Toraja Utara untuk menginap di To’tombi. Juga dua kali mencuci tangan saat dijamu di sebuah area kuliner dan sebelum beristirahat di homestay.

Untuk kedelapan kalinya pada Senin pagi, 22 November 2021, dia jogging menuju Lempe yang menjadi puncak tertinggi negeri di atas awan Lolai. Dia mencuci tangan sebelum sarapan sembari menikmati indahnya hamparan awan yang menyerupai lautan luas tak bertepi.

Kembali ke homestay di To’tombi juga mencuci tangan dengan sabun. Hari Senin itu dia menyambangi Desa Wisata Lembang Nonongan di Toraja Utara dan mencuci tangan sebanyak 2 kali saat baru saja tiba serta usai dirinya mengayuh sepedanya ke titik kedua di Desa Wisata itu.

Sandi mengakhiri kunjungannya dengan meninjau vaksinasi di Museum Pongtiku Toraja Utara lalu kembali ke Bandar Udara Buntu Kunik untuk melanjutkan perjalanannya ke Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar di Kabupaten Maros. Cuci tangan yang disebutnya bagian tak terpisahkan dari CHSE pun selalu diingatnya dan dilakukan sebelum pesawat take off.

Praktis 13 kali Sandi mencuci tangan yang disaksikan orang banyak. Dalam penuturannya kepada Awak Media, Sandi berharap kebiasaan itu dibudayakan sebagai salah satu langkah pencegahan dini untuk mengantisipasi dan mengurangi resiko penularan dan penyebaran COVID-19 maupun biang penyakit lainnya.

“Di tengah Pandemi kita berkolaborasi, bergandengan tangan dalam rangka serbuan vaksin. Sudah hampir 700 ribu masyarakat Parekraf yang ter-vaksinasi difasilitasi oleh kita,” kata Sandi di Sa’pak Bayo-bayo pada Minggu (21/11/21).

Serbuan vaksinasi yang digencarkan Kemenparekraf/Baparekraf RI (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indoensia Republik Indonesia) menurutnya akan mendorong percepatan pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Read:  Taman Budaya Benteng Somba Opu Boyong Seniman Ikuti TKTB se-Indonesia XX di Lampung

Sehingga destinasi wisata seperti Sa’pak Bayo-bayo, Negeri Di Atas Awan, Burake dan sebagainya akan ramai kembali dengan kunjungan wisatawan. Sandi menekankan pentingnya untuk menjaga pola cuci tangan itu sebagai bagian tak terpisahkan dari kebiasaan hidup bersih dalam setiap aktivitas keseharian masyarakat.

Sementara Jufri dalam pernyataannya pada Senin (22/11/21) mendorong penyiapan fasilitas CTPS yang steril dan siap dalam hal ketersediaan bahan baku seperti air bersih, sabun. Termasuk pemeliharaan intens dilakukan terhadap prasarana yang berstandar untuk menjaga higienitas sebagaimana CHSE mensyaratkannya.

“Fasilitas CTPS ini mesti ada di setiap destinasi (wisata) kita. Paling tidak di pintu masuk atau di dekat loket, di spot-spot tertentu juga harusnya ada agar tidak menumpuk orang yang ingin mencuci tangan. Paling penting lagi, airnya dijaga agar selalu available (tersedia) ya, terus tempat airnya rajin dikuras,” imbuh Jufri.

Bruno S Rantetana selaku Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata Disbudpar Sulsel yang ditemui AMBAE pada Selasa (23/11/21) turut bersuara. Dijelaskan, untuk menjaga kondisi alami dari sebuah Desa Wisata, dia mewanti-wanti Pengelola Desa Wisata dan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) untuk tetap memanfaatkan sumber daya alam yang ada dengan konsep lama yang tradisional.

“Pakai bambu saja, justru lebih bagus. Ada yang mau paksakan beli tandon, Saya bilang kalau tidak ada, sebaiknya yang lebih tradisional, yang begini tidak akan didapatkan wisatawan di tempat asalnya,” terang Bruno di Toraja Utara.

Masyarakat Toraja dikenal kental dengan budayanya. Kearifan lokal tercermin melalui kebiasaan-kebiasaan masyarakat setempat, mampu memikat wisatawan untuk berwisata dalam waktu cukup lama.

Read:  Kemenkominfo Pertemukan Start-up Digital Makassar pada Roadshow V HUB.ID

Malah pancuran air dari material bambu masih bisa ditemui di Toraja. Masyarakat memanfaatkannya untuk mandi dan cuci tangan selepas bekerja di kebun dan sawah. (*)