Pelajar SD 7 Letta Menapaki Jalan Sejauh 1330 Meter Menuju Pensi dan Bulan Bahasa

Pelaksanaan defile Pensi SDN 7 Letta Bantaeng.
Pelajar SDN 7 Letta memulai defile di Lapangan Pantai Seruni Bantaeng (19/12/19).

AMBAE.co.id – Bantaeng. Tak tanggung-tanggung, siswa dan siswi SD Negeri Nomor 7 Letta berjalan kaki sejauh kurang lebih 1.330 Meter atau 1,33 Kilometer pada Kamis pagi (19/12/19) sekitar pukul 07:15 Wita. Rombongan dikawal Mobil Patroli Jalan Raya (PJR) dari Polres Bantaeng.

Defile ratusan pelajar sekolah itu untuk mengikuti Pentas Seni (Pensi) ataupun Porseni (Pekan Olah Raga dan Seni) dan Bulan Bahasa di sekolah yang berloksi di Jalan Dr Ratulangi, Kelurahan Letta, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng.

“Anak-anakku sekalian, kita berkumpul di Lapangan Pantai Seruni Bantaeng pagi ini untuk mengikuti defile dalam rangka Pensi dan Bulan Bahasa”, ujar Sitti Rosbiah selaku Kepala Sekolah.

Di lokasi start itu, Rosbiah menghimbau siswa dan siswi SDN 7 Letta agar menjaga keutuhan barisan selama defile. Pasalnya barisan yang mencapai 13 kotingen itu harus melewati jalan protokol yang padat dengan arus lalu lintas.

Read:  TKKT Dihelat, Wabup Bantaeng: Jangan Timbulkan Kerawanan Sosial

Dari Lapangan Pantai Seruni Bantaeng, pelajar menuju arah Timur di Jalan Teratai, lalu ke Utara di Jalan Kenanga. Berikutnya mengarah ke Timur di ujung Jalan Raya Lanto, lalu melintasi Jembatan Lembang Cina dan mengikuti jalur Jalan Dr Ratulangi hingga memasuki halaman sekolah.

“Hati-hati anak-anakku di jalan, semoga kita tiba sehat di sekolah. Untuk para orang tua yang mendampingi anaknya, mohon jangan terlalu dekat agar anak kita merasa lumayan bebas dan belajar mandiri”, imbuhnya.

Rosbiah pun menerangkan jika para Guru tetap mendampingi para siswa dan siswi demi keamanan dan ketertiban selama defile. Selain itu, penampilan defile menjadi bagian penilaian yang turut dilombakan dalam Pensi dan Bulan Bahasa SDN 7 Letta.

Read:  Rakor PKK Bantaeng November 2019, Sri Dewi Yanti Minta Pengurus Lebih Peduli Kasus Kebakaran

Para siswa mengenakan busana beragam, berbeda antara kontingen atau kelompok yang satu dengan lainnya. Mulai dari busana tradisional, seragam sekolah hingga karakter-karakter animasi yang kerap diidolakan anak, khususnya di era milenial. (*)