Guliran Cerita Syekh Abdul Gani Berujung Abadi Untuk Masjid

Kegiatan keagamaan oleh PKK Bantaeng.
Salah satu kegiatan keagamaan di Masjid Agung Syekh Abdul Gani Bantaeng.

Keberlanjutan perjuangan Syekh Abdul Gani tentu tidak boleh berhenti. Pemerintahan saat ini yang mencanangkan pembangunan untuk fokus pada pengembangan SDM (Sumber Daya Manusia) menjadi harapan terbesar bagi masyarakat agar dapat dengan serta merta meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan masyarakat Bantaeng yang beragama Islam.

Masjid yang kemudian telah dicatat Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Sistem Informasi Masjid itu diberi label sebagai masjid dengan ID penomoran 01.2.26.03.02.000001 di seluruh Indonesia (source : Simas Kemenag RI). Dibangun tahun 2000 di atas tanah seluas 15 ribu meter persegi.

Read:  Terlibat Curanmor, IA Disanksi 4 Tahun Penjara

Sementara bangunannya seluas 3600 meter persegi. Terdapat ruang belajar TPA/Madrasah, kantor sekretariat, kamar mandi/WC, tempat wudhu, perlengkapan pengurusan jenazah dan kelengkapan lainnya seperti sound system dan multimedia, pembangkit listrik/genset, gudang, tempat penitipan sepatu/sandal.

Di sisi depan disiapkan lahan parkir luas di kiri dan kanan Masjid yang dipercantik dengan taman-taman serta gapura megah di tengah paling depan. Dari sisi depan bisa disaksikan keseluruhan bangunan Masjid dengan sebuah menara menjulang di sisi kanannya setinggi 67 meter atau sama dengan jumlah desa dan kelurahan di Kabupaten Bantaeng.

Read:  Tumbuhkan Kebersamaan, Kades Mappilawing Gelar Buka Bersama Warga

Kembali menjelaskan jika Syekh Abdul Gani yang pernah bermukim di Bantaeng, melanjutkan kiprah perjuangannya ke Kabupaten Selayar sekitar tahun 1913. Masyarakat Selayar bahkan meyakini dia wafat dan dimakamkan di Binanga Sombaya, Binanga Benteng, Selayar.

Di kesempatan lain akan kita ulas Tokoh Islam lainnya yang pernah mendiami daerah berjuluk Butta Toa (Tanah Tua) ini. Disebut tertua di Sulawesi Selatan karena Bantaeng tercatat dalam Kitab Kertagama di era Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1254 yang kemudian 7 Desember 1254 ditetapkan sebagai Hari Jadi Bantaeng. (*)