Tinta Cina Menggores, Membahana di Kampus Merdeka MAIM

 

Goresan Tinta Cina MAIM di Atmosphere.
Lukisan dengan memanfaatkan tinta cina dipamerkan MAIM (26/06/22).

AMBAE.co.idMakassar. Pameran lukisan yang diikuti Yudi ini merupakan bagian dari kegiatan Makassar Art Initiative Movement (MAIM), sebuah wadah bagi para perupa Indonesia Timur. Dia bergabung di MAIM sejak awal didirikan, tahun 2018, diajak oleh Faisal Syarif, sekarang Yudi merupakan Sekretaris MAIM.

MAIM menggelar pameran dengan pola melukis secara bergantian pada dinding yang sama, sejak 26 Mei 2022 di Artmosphere yang berlokasi di Kota Makassar. Begitu lukisan jadi, akan dipamerkan minimal selama sehari, tapi ada kalanya 4-5 hari baru diganti.

Read:  Tanpa Diduga, Prof Jufri Bermalam Minggu Sembari Memantau Sulsel Great Sale 2021

Jenry Pasassan, perupa sekaligus pemilik Artmosphere, mengungkapkan bahwa yang pertama merespon dengan melukis seluruh dinding studio adalah Faisal Syarif. Dia menggunakan cat tembok dan tinta cina. Kedua, adalah dirinya, dengan bahan kertas dan cat tembok.

Saat finishing dia memakai lampu neon fleksibel. Ketiga, Ahmad Fawzy dengan cat tembok, spidol, dan tinta cina, Keempat Anzul, bahannya cat tembok dan tinta cina.

Selanjutnya Faisal Syarif lagi, lalu Asman, dengan bahan kertas, cat tembok dan spidol. Jadi, lukisan Yudi merupakan pameran ketujuh yang dilakukan MAIM.

Read:  PKK SulSel ke DPMD Luwu: Pertanggung Jawabkan Stunting

Faisal Syarif, yang sudah dua kali menuangkan ide lewat lukisannya di situ, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan cara mereka untuk setiap hari saling menguatkan, saling belajar. Untuk lebih mengesplorasi ide.

Karena, kata Faisal, di seni rupa itu, “eksplorasi” merupakan jantungnya. Biar selalu ada kebaruan.

“Kebaruan itu penting kalau bicara seni rupa kontemporer,” tutur Ical, sapaannya.

Ditambahkan, di MAIM itu dibuat pola bahwa ini adalah sebuah gerakan yang mudah, konsisten, dan tidak membebani. Empat hal ini jadi rule mereka dalam proses berkarya.

Read:  Ratusan Pasapeda Promosikan Pariwisata Makassar Hingga Gedung MULO

Ini upaya mereka agar tidak terbelenggu saat berkesenian. Dia menyukai gagasan dan konsep ini, yang disebutnya menantang.

Diakui bahwa mereka sering berdiskusi, tapi lebih penting dari itu langsung praktik. Jadi harus bergerak tanpa harus menunggu konsepnya matang terlebih dahulu. Akhirnya, pola ini jadi gaya unik dari MAIM.

Bahkan sekarang ini, kata dia, mereka rebutan. Siapa yang punya waktu, langsung mengeksekusi. Ini semacam kampus merdeka, yang selalu memproduksi pengetahuan baru.

“Ini yang kami sebut MAIMstream,” tegas pria yang kerap terlihat mengenapan topi itu. (*)