Puluhan Remaja Melukis Koleksi Museum Karaeng Pattingalloang

 

Melukis Museum Karaeng Pattingalloang.
Muhammad Jufri menyemangati peserta Lomba Melukis Museum Karaeng Pattingalloang (03/11/21).

AMBAE.co.idGowa. Tak kurang dari 46 orang mengikuti Lomba Melukis yang dilaksanakan di Baruga Karaeng Pattingalloang, Benteng Somba Opu pada Rabu (03/11/21). Merupakan kaum milenial yang masih berstatus siswa/siswi SMA dan juga Mahasiswa.

Lomba berlangsung selama 3 jam sebagaimana panitia dan tim juri menetapkan durasinya. Aturan main yang lain seperti, dilarang mencontek termasuk penggunaan ponsel pintar sebagai referensi sejak lomba dimulai waktunya.

Bertajuk Lomba Melukis Museum Karaeng Pattingalloang dengan tema “Temu Kenalilah Koleksi Museum Karaeng Pattingalloang di Kawasan Benteng Somba Opu sebagai Wujud Cinta Budaya dan Cinta Museum“, lomba itu dibuka secara resmi Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), Kemal Redindo Syahrul Putra.

Dikatakan bahwa dengan kegiatan itu dapat lebih mendekatkan masyarakat utamanya pelajar dan mahasiswa untuk mengenali museum. Berikut isinya berupa benda-benda peninggalan bersejarah, diantaranya memberi gambaran kejayaan Kerajaan Gowa-Tallo lewat peralatan perang.

Read:  Bantaeng 1 dari 202 Kabupaten Kota Sehat se-Indonesia

Museum yang berlokasi di Jalan Abdul Kadir, Kelurahan Benteng Somba Opu, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa itu dibangun tahun 1525 oleh Sultan Gowa ke-9, Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi Kallonna. Sementara Museum Pattingalloang dibangun tahun 1989 dengan sejumlah koleksi berupa mata uang, keramik, seni rupa dan ragam peninggalan budaya lainnya.

“Keberadaan museum amatlah diperlukan. Sejumlah benda-benda bersejarah di dalamnya bisa menambah wawasan kita,” kata Dindo yang membacakan sambutan tertulis Kepala Disbudpar Sulsel, Muhammad Jufri.

Namun justru karena pemeliharaan, perawatan yang kurang diperhatikan menjadikannya makin jarang dikunjungi. Ada kesan malas, ketimbang berkunjung ke mall yang tren hingga saat ini karena mengusung nuansa entertainment.

“Terkadang masyarakat tidak berminat berkunjung karena kondisinya yang kurang terawat mungkin, begitu juga lingkungan disekitarnya, bisa jadi sampah membuatnya jorok. Sekarang ini, kita harus bangkitkan lagi animo masyarakat berkunjung ke museum,” urai dia.

Padahal, segudang ilmu pengetahuan bisa dijadikan pelajaran dan pedoman untuk menentukan langkah ke masa depan. Semisal, bagaimana Kerajaan Gowa-Tallo mempertahankan tanah tumpah darah Indonesia, utamanya Sulsel sekaligus mengusir penjajah.

“Museum menjadi sarana untuk pengembangan budaya. Masyarakat mengunjungi museum dengan beberapa tujuan, seperti study tour, penelitian, dan juga rekreasi,” terangnya.

Sementara untuk lomba itu sendiri, Dindo mengharapkan peserta lebih kreatif menghasilkan lukisan yang mencerminkan Museum Karaeng Pattingalloang. Tiap peserta mencoba mengeksplorasi tema dan menuangkannya ke dalam kanvas untuk kemudian diwarnai dengan cat air.

Read:  Baru 8 Daerah Tersertifikasi Tenaga Kerja Pariwisata, Kadisbudpar Jufri: Cukupkan

Siangnya, Muhammad Jufri mengunjungi lokasi lomba dengan harapan bisa melihat lebih dekat seperti apa pelaksanaannya. Tak hanya itu, di hadapan peserta dia memberi semangat sekaligus membuka pandangan peserta untuk tidak terlalu kaku memaknai tema dalam skala yang begitu sempit.

Melukis yang disebutnya adalah seni, indah tidaknya lukisan bergantung pada pelukisnya. Dapatkah mewarnai kanvas dengan ide kreatif ataupun justru mengosongkan kanvas itu tanpa warna selain putih ataukah malah hanya menggoreskan garis tipis saja.

Read:  Penari Jawa-Bali-Sumatera-Kalimantan Ramaikan Pemilihan Duta Anak Bantaeng

Terlepas dari kreativitas sang pelukis berekpresi dengan warna, pensil, kuas, dan kanvas. Perlu diperhatikan kata Jufri, lukisan mesti memiliki arti dan makna.

“Jangan sampai pelukisnya justru tidak paham apa makna lukisan yang dibuatnya. Jadi, Saya berharap selain telah sesuai tema, warnanya juga sesuai, beri pemaknaan, lukisan sama halnya dengan foto sebagai bagian dari seni, ada arti di dalamnya karena gambar-gambar ini bercerita kepada penikmatnya,” pungkasnya.

Turut hadir menyaksikan lomba diantaranya Kepala Bidang Sejarah dan Cagar Budaya, Andi Hasnul Hasanuddin, Kepala Bidang Pengembangan Destinasi, Hj Djamila Hamid, dan Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata, Bruno S Rantetana. Sementara peserta didampingi guru dan orang tuanya. (*)