Kadisbudpar Sulsel: Perkuat Desa Wisata Untuk Mengatasi Konflik Sosial

 

Desa Wisata atasi konflik sosial.
Para Duta Wisata dari 24 Kabupaten/Kota menyimak pemaparan Kadisbudpar Sulsel di Whiz Prime Hotel Makassar (10/12/21).

AMBAE.co.idMakassar. Jum’at pagi (10/12/21) di Whiz Prime Hotel Makassar, dilaksanakan Workshop Pelatihan Dasar Layanan Dukungan Psikososial (LDP) Angkatan II 2021 yang diinisiasi Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan (Dinsos Sulsel) melalui Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial.

Saat itu Kepala Dinad Kebudayaan dan Kepariwisataan (Kadisbudpar) Provinsi Sulsel, Muhammad Jufri dimandat sebagai salah satu pemateri. Narasumber lainnya yakni Helmiyadi Kuswardhana yang memaparkan materi kegawatdaruratan bertajuk “Kasus-kasus Emergency”.

Sementara Jufri mengupas tuntas tentang desa wisata. Bahwa desa wisata merupakan medium yang efektif untuk mencegah sekakigus bisa mengatasi konflik sosial di masyarakat.

“Desa Wisata menjadi media yang bisa mengatasi konflik sosial yang kerap terjadi dan dialami masyarakat kita. Menjadi salah satu solusi yang tepat Saya kira, masyarakat akan disibukkan dengan aktivitas yang bernilai positif,” kata Prof Jufri.

Malah, multiplier effect-nya begitu luar biasa. Ketika masyarakat lebih produktif, niscaya akan mendorong meningkatnya pertumbuhan ekonomi di Desa Wisata tersebut.

Lebih jauh pada wilayah desa secara keseluruhan, lalu merambah ke lingkungan yang lebih luas hingga kecamatan, kabupaten atau kota, provinsi dan nasional. Mempengaruhi orang-orang di sekitarnya untuk melakukan hal serupa.

Read:  Toraja International Festival 2021 Berjaya di H+1

Prioritas tentunya pada level Desa Wisata terlebih dahulu. Masyarakat dilatih, dibimbing, dan dibina untuk aktif menghasilkan produk industri kreatif. Pengrajin memproduksi kerajinan tangan seperti gerabah, anyaman, dan manik-manik.

Sentra kuliner diramaikan dengan makanan dan minuman khas daerah setempat. Begitupun dengan souvenir-souvenir yang kesemuanya menjadi pemikat bagi wisatawan untuk dijadikan buah tangan sebelum pulang.

Masyarakatlah yang akan mengambil peran menggerakkan ekonomi kreatif. Sementara rumah-rumah warga dijadikan homestay, ditata sedemikian rupa dengan standar CHSE (Cleanliness, Health, Safety and Environment).

“Bisa jadi pemilik rumah juga tinggal di rumah itu, tapi ada kamar yang bisa disewa wisatawan. Rumahnya bersih, nyaman, lalu toiletnya juga bersih, keamanannya terjaga. Saya kira kalau ini ditata dengan baik, homestay boleh jadi rumah yang sudah lama ada, tapi karena layanannya bagus, standarnya mungkin setara hotel melati ataupun bintang 1, 2 atau bintang 3,” tuturnya.

Untuk membangkitkan sikap dna perilaku sadar wisata yang mencerminkan kepekaan bahwa Desa Wisata punya segudang potensi layak jual dan bisa menambah nilai ekonomi masyarakat, perlu pelibatan semua unsur terkait. Dalam dunia kepariwisataan dikenal dengan pentaheliks pariwisata (tourism pentahelix).

“Adik-adik sekalian, Saya cenderung menyapa sebagai teman ya. Para Duta Wisata yang milenialnya kayak Saya, ayo kita bergerak bersama menciptakan suasana yang makin sadar wisata di tengah masyarakat. Dari contoh-contoh yang datangnya dari kita, kemudian kita mengajak orang disekitar kita, Inshaa Allah perlahan ini bisa kita wujudkan,” pinta Mantan Kepala Dinas Pendidikan Sulsel itu.

Workshop itu diikuti para Duta Wisata dari Kabupaten/Kota se-Sulsel yang tak lain telah melalui kompetisi Pemilihan Duta Wisata Sulsel 2021 pada Oktober lalu. Termasuk Andi Suci Nurul Aisyah selaku Duta Pariwisata Indonesia 2021.

Read:  Siapkan Jalur Rempah, Pemprov SulSel Bakal Sambut Kapal Arka Kinari

Tampak pula Tarisa Dinda Maharani dan Muh Jihad Abdullah S, pasangan Juara Duta Wisata Sulsel 2021. Merekalah kata Prof Jufri yang akan menempati garda terdepan dalam upaya mengoptinalkan keberadaan Desa Wisata dalam hal mencegah dan mengatasi terjadinya konflik sosial masyarakat.

Lanjut Jufri, Desa Wisata yang tampil menawarkan daya tarik wisata serta layanan yang baik, diyakini akan banyak dikunjungi wisatawan baik lokal, domestik maupun mancanegara. Kendati begitu, wisatawan domestik atau nusantara masih jadi perhatian utama selama Pandemi COVID-19, mengingat pembatasan demi pembatasan arus masuk Indonesia.

“Kalau Desa Wisata bisa ditata, dikelola dengan baik, maka desa-desa kita akan memiliki daya saing luar biasa,” pungkasnya.

Lagi-lagi menerangkan, Desa Wisata yang unggul akan menjadi obyek kunjungan wisata. Dampak turunannya lebih besar lagi, tatkala daya ekonomi masyarakat bagus, maka daya saing juga bagus.

Read:  Luar Biasa, Cuma 1 Karya Budaya Sulsel Tidak Lolos Warisan Budaya Tak Benda Tahun Ini

Sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenparekraf/Baparekraf RI) di tangan Sandiaga Salahuddin Uno. Berkolaborasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko) yang dipimpin Airlangga Hartarto, dan juga Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) dibawah kendali Abdul Halim Iskandar.

Jufri mengatakan bahwa Mas Menparekraf/Kepala Baparekraf RI punya harapan besar untuk mewujudkan pembangunan Indonesia yang semakin maju karena peran dan fungsi desa yang dioptimalkan. Jalannya kata dia, melalui Desa Wisata yang punya keterkaitan dengan sektor lain daripada pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif itu sendiri. (*)