Kemenparekraf Kejutkan Sulsel, 4 Desa Wisata Masuk 50 Besar ADWI 2022

 

Babak 50 Besar ADWI 2022 Sulsel.
Mas Menteri, Sandi Uno mengumumkan 50 desa wisata terbaik ADWI 2022 (27/04/22).

AMBAE.co.idMakassar. Sembari menanti saat berbuka puasa di penanggalan 27 April 2022 yang bertepatan dengan 26 Ramadhan 1433 H, netizen makin ramai memperbincangkan Desa Wisata (Dewi) di Indonesia, termasuk Provinsi Sulsel (Sulawesi Selatan). Kemenparekraf/Baparekraf RI (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia jadi pemicunya, tatkala mengumumkan desa wisata yang lolos ke tahapan 50 Besar sekira pukul 12:00 WITA hari ini.

Ketegangan sempat terjadi disertai rasa penasaran, setidaknya selama kurang lebih 21 jam. Pasalnya akun Instagram ADWI yang resmi, @anugerahdesawisataindonesia telah lebih awal memajang banner terkait rencana pengumuman itu sejak pukul 15:00 WITA, Selasa kemarin, 26 April 2022.

Sebanyak 50 desa wisata yang tersebar pada 34 provinsi dinyatakan sebagai desa wisata terbaik. Setelah melalui serangkaian kurasi Tim Juri ADWI 2022.

Untuk Provinsi Sulsel, disebutkan jika Kabupaten Sinjai, Luwu Timur (Lutim), Bantaeng, dan Kota Palopo berhasil mewakilkan desa wisata di wilayahnya. Masing-masing 1 desa wisata, secara berurut yakni Desa Wisata Barania, Desa Wisata Matano Iniaku, Desa Wisata Campaga, dan Desa Wisata Kambo.

Read:  Puluhan Non ASN dan OS Lanjutkan Pengabdian di Gedung MULO

Empat desa wisata itu mengungguli 334 desa wisata di Sulsel yang telah terdaftar dan terverifikasi via website Jejaring Desa Wisata (Jadesta), jadesta.kemenparekraf.go.id untuk ikut bersaing di ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia 2022 (ADWI 2022). Sebelumnya, dari total 338 desa wisata itu, 31 diantaranya masuk 500 Besar.

Lalu mengerucut menjadi 18 desa wisata pada tahapan 300 Besar. Kemudian berkurang lagi jumlahnya menjadi 6 desa wisata di tahapan 100 Besar ADWI 2022.

Lantas empat desa wisata yang lolos hingga 50 Besar itu kata Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata pada Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Provinsi Sulsel, Bruno S Rantetana berpeluang untuk mendapatkan penghargaan tertinggi ADWI tahun ini. Penyerahannya kelak pada Malam Penganugerahan ADWI 2022 di Jakarta.

“Juara 5 sudah di tangan, kita berharap empat desa wisata dari Sulawesi Selatan ini mengantongi juara 1 untuk kategori berbeda. Apakah itu digital dan konten kreatif, homestay, toilet, kelembagaan, souvenir, daya tarik atau CHSE,” kata Bruno.

Tapi jangan salah, dia menerangkan bahwa seluruh desa wisata yang lolos mulai 500 Besar sudah dipastikan akan mendapatkan penghargaan sesuai tingkatan dan tahapannya karena ADWI bukanlah lomba. Hal itu merujuk ADWI 2021, hanya saja untuk desa wisata yang tembus hingga 50 Besar akan menerima penghargaan khusus serta langsung diserahkan Mas Menteri (Menparekraf/Kepala Baparekraf RI), Sandiaga Salahuddin Uno.

“Tentu saja peluangnya berbeda, 50 desa wisata ini, kalau kita di Sulsel tembus 4 desa wisata. Semua itu akan dikunjungi langsung Mas Menteri pada saat visitasi untuk memberikan penilaian terhadap kondisi rill di lapangan yang didasarkan pada dokumen yang dikirim sejak awal,” terangnya.

Babak 50 Besar ADWI 2022 Sulsel.
Daftar desa wisata di Sulsel yang masuk 50 Besar ADWI 2022 (19/04/22).

Kepala Disbudpar Sulsel, Muhammad Jufri menyebutnya sebuah kebanggan tersendiri karena Sulsel terwakilkan oleh 4 desa wisata. Dibanding provinsi lainnya yang lebih sedikit, bahkan ada provinsi yang hanya lolos 1 desa wisata di 50 Besar.

“Mulai 500 Besar sampai 300 Besar, Sulsel sama-sama melaju dengan Jatim. Di babakan 100 Besar muncul juga Jateng di samping Jatim dan Sulsel di posisi teratas. Lalu di 50 Besar ini jumlahnya juga sama dengan Jatim, 4 desa wisata,” jelas Jufri.

Keempatnya mampu mengharumkan nama Sulsel di kancah nasional. Melalui ajang ini pula, desa wisata dimaksud dapat memberi andil terhadap peningkatan kunjungan wisatawan.

Read:  Dinas Perpustakaan SulSel Acungi Jempol Perpustakaan EXPO Bantaeng

Masyarakat terberdayakan untuk mengembangkan potensi kepariwisataan. Terutama bagi Pelaku UMKM dengan menyiapkan produk-produk lokal sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang wisatawan.

“Desa wisata ini bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan aksesibilitas. Nilai-nilai kearifan lokal tetap terjaga, menjadi nilai jual bagi wisatawan,” pungkasnya. (*)