Semua Kabupaten/Kota Dipastikan Berpartisipasi pada Rakor Pariwisata Sulsel

 

Rencana Rakor Pariwisata Sulsel.
Peserta workshop menyimak arahan Kadisbudpar Sulsel (27/10/21).

AMBAE.co.idMakassar. Akhirnya semua Dinas Pariwisata Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) akan berkumpul dalam satu kegiatan besar berupa Rapat Koordinasi (Rakor) pada Selasa, 9 November 2021 besok. Kepastian itu disampaikan Bruno S Rantetana selaku Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi (Disbudpar Sulsel).

“Semua sudah memastikan untuk hadir, daftarnya ada, sudah kami pegang. Makanya kami siapkan rundown acaranya untuk meng-cover 24 Kabupaten dan Kota,” ungkap Bruno kepada AMBAE, Senin (08/11/21).

Mengantongi daftar daerah itu, Bruno menyiapkan metode khusus untuk menyiasati pelaksanaan Rakor agar optimal dan efektif dengan waktu yang akan digunakan selama sehari penuh. Diperkirakan usai paling cepat jam 22:00 WITA.

“Kalau on time dan tidak ada halangan, kita berharap jam 10 malam itu sudah selesai. Jadi setiap daerah akan mempresentasekan potensi pariwisatanya, memaparkan apa saja yang diunggulkan dan apa program yang akan dijalankan tahun depan,” jelasnya.

Diketahui, Rapat Koordinasi itu bakal dihelat mulai pukul 08:00 WITA di Almadera Hotel, Kota Makassar. Sedianya akan dibuka secara resmi Kepala Disbudpar Sulsel, Muhammad Jufri, berlanjut pemaparan 3 narasumber terkait pengembangan kepariwisataan.

Read:  Selama Sehari Duta Lilin Libatkan OPD Bantaeng Menyusun Rencana Aksi Perubahan

Usai itu, perwakilan Kabupaten/Kota dibagi menjadi 8 group. Masing-masing terdiri dari 3 daerah untuk panel presentase.

Disbudpar Sulsel juga telah mengundang Pelaku Industri Pariwisata dari sejumlah Asosiasi Pariwisata. Diantaranya ASITA, PHRI, GIPI, AHLI, ASTINDO, IHGMA, LSP serta Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Sulsel. Ditambah akademisi dan stakeholder terkait kepariwisataan.

“Asosiasi kita undang juga. Nantinya mereka kita pertemukan dalam acara itu, jadi Pemerintah Daerah yang ingin menjalin kerja sama berupa pendampingan, bimbingan ataukah pelatihan, sertifikasi, dan supporting lainnya, itu bisa langsung transaksi, supaya cepat implementasinya,” tegas Kadisbudpar Sulsel, Jufri.

Ditegaskan, transaksi yang dimaksud adalah bentuk-bentuk kerja sama berkelanjutan. Bagaimana pentahelix pariwisata benar-benar bersinergi dan berkolaborasi untuk membangkitkan kembali sektor pariwisata di tengah Pandemi COVID-19.

“2022 di depan mata, program dan kegiatan sudah harus difinalkan sekarang. Kita tahu, yakin dan percaya, pemerintah tidak bisa jalan sendiri, jadi semua unsur harus ambil bagian, untuk itu pemerintah daerah harus buka kran, ini kita lakukan di Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan,” pungkasnya.

Terbukti, Jufri yang menjabat Kadisbudpar sejak 3 pekan terakhir telah membangun sinergitas yang apik dengan hampir seluruh stakeholder, bahkan semua unsur tourism pentahelix telah disasarnya. Begitupun upayanya bermitra dengan media, baik media mainstream maupun media sosial, dikatakan akan terus memperkuat jaringan promosi.

“Inshaa Allah dengan pertemuan besok ini, kita bisa mendapatkan formula-formula yang hebat untuk menggairahkan lagi pariwisata kita yang terhempas Pandemi COVID-19. Kurang lebih 2 tahun Saya kira, tentu berbagai kendala kita hadapi sebagai dampak dari pandemi ini,” harap dia.

Jufri lantas menuturkan, daerah harus punya satu unggulan untuk dikembangkan ke depan, baik itu destinasi wisata, atraksi wisata maupun potensi wisata yang lainnya. Dicontohkan, jika selama ini untuk oleh-oleh berupa kuliner ditawarkan beberapa yang unggul, cukup fokus satu misalnya barongko.

Read:  Raih Medali Perak Olimpiade Nasional Bahasa Arab, Deisy dan Apmih Minta Maaf

Namun, benar-benar diperhatikan mulai dari hulu ke hilir, sementara produk lainnya tidak juga diabaikan begitu saja hanya karena ingin menampilkan yang unik. Pelibatan OPD lain dan stakeholder penting untuk membangun alur produksi hingga pemasaran.

“Ini idealnya ya, apa yang unik jadi ikon dari daerah setempat. Coba mi (cobalah) kalau sebut Jogja, dibenak kita pasti Dagadu, ini yang kita mau ada yang khas dari daerah kita masing-masing,” kunci Jufri yang bergelar Professor. (*)