Kemal Redindo Syahrul Putra Sambut Legislator Bone: SSTIC Pusat Informasi Berbasis Digital

 

DPRD Bone ke Disbudpar Sulsel.
Kemal Redindo Syahrul Putra (kemeja hitam di tengah) menerima Anggota DPRD Kabupaten Bone di Gedung Mulo (22/10/21).

AMBAE.co.idMakassar. Hari Jum’at berkah bagi segenap jajaran Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan (Disbudpar Sulsel). Di penanggalan 22 Oktober 2021, kembali menerima kunjungan, kali ini para Legislator Kabupaten Bone, lebih khusus Komisi IV yang membidangi Kesra (Kesejahteraan Rakyat).

Kemal Redindo Syahrul Putra selaku Sekretaris Disbudpar Sulsel menyambutnya sekaligus menerima dalam sesi rapat di Gedung Mulo, Jalan Jenderal Sudirman Nomor 23, Kota Makassar. Sementara rombongan Anggota DPRD Kabupaten Bone dikomandoi A Wahyudi Taqwa selaku Wakil Ketua DPRD.

Turut mendampingi Ketua Komisi A, A Ryad Baso Padjalangi dan 9 legislator lainnya, serta Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bone, Andi Promal Pawi. Tampak pula saat penerimaan, Kepala Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata, Hj Djamila Hamid dan Kepala Seksi Pengembangan Daya Tarik Wisata, Takdir H Wata.

“Kita kesini dalam rangka sharing mengenai program kepariwisataan di daerah kami Kabupaten Bone khususnya program tahun 2022 ke depan,” kata Wahyudi.

Usai rapat singkat, Dindo, sapaan akrab Sekdisbudpar Sulsel mengajak rombongan menyaksikan fasilitas informasi, tepatnya di ruang SSTIC (South Sulawesi Tourism Information Center). Dikatakan bahwa SSTIC sejak lama telah menjadi basis data, dan basis informasi kepariwisataan maupun kebudayaan.

“Ini pusat informasi yang kita punya. Kita sajikan dalam bentuk digital, interaktif, dan pastinya mudah digunakan siapa saja yang butuh informasi. Begitu juga teman-teman yang akan menyampaikan informasi dari perangkat ini,” jelas Dindo.

User friendly, kata ini mewakili mudahnya penggunaan setiap perangkat yang mendukung keberadaan SSTIC. Masing-masing mengusung teknologi layar sentuh (touchscreen), menyesuaikan tren digital saat ini.

“Perangkat kita ini berbasis digital. Membuka menu, cukup sentuh saja, bisa gambarnya, teksnya atau icon-nya. Ada juga teknologi hologram 3D,” tambah Dindo.

Tak hanya untuk mendukung ruang SSTIC, fasilitas tersebut akan ditempatkan pula di beberapa fasilitas publik yang ada di Sulsel. Diantaranya di Bandar Udara Internasional Hasanuddin Makassar di Kabupaten Maros.

Read:  Wabup Bantaeng Optimis Perubahan APBD 2019 Mampu Maksimalkan PAD

SSTIC sendiri menjadi pusat informasi pariwisata dan budaya bagi tetamu yang berkunjung ke Gedung Mulo. Sebelum Pandemi COVID-19 melanda, Gedung Mulo ramai menerima kedatangan wisatawan mancanegara (wisman).

Umumnya ingin mendapatkan informasi mendalam terkait kepariwisataan sebelum melancong ke destinasi wisata. Bahkan, kunjungan wisman lebih ramai saat malam hari.

Betapa tidak, wisman cenderung memilih jadwal penerbangan malam dari luar Sulsel seperti Jakarta, apalagi yang langsung datang melalui international flight. Jamhur, salah seorang Staf Bidang Pengembangan Pemasaran Disbudpar Susel mengatakan, wisman menyambangi Gedung Mulo sekira pukul 03:00 hingga 05:00 WITA.

“Dulu itu, banyak turis (wisman) datang kalau malam. Biasanya bertanya tentang tempat-tempat wisata, naik (kendaraan) apa yang cocok kesana, dimana menginap, dan informasi lain mereka mau tahu,” kata ASN yang akrab disapa Acil kepada AMBAE.

Ditambahkan Duddin alias Daeng Ngewa, Staf Subbagian Umum, Kepegawaian, dan Hukum bahwa ada juga wisman yang memilih menginap di hotel yang dekat dengan lingkungan kantor karena tiba dini hari di Makassar. Kendati begitu, tak jarang pula wisman datang ke Gedung Mulo pada siang hari.

“Sampai-sampai ada yang kita tunjukkan untuk menginap di hotel dekat kantor. Beberapa tahun lalu apalagi, waktu itu informasi internet belum kencang. Makanya kita juga selalu antisipasi kedatangan wisatawan, siang dan malam. Alhamdulillah, bisa kita berbagi informasi kepada wisatawan, ini bentuk pelayanan yang kita berikan agar wisatawan senang mengunjungi Sulawesi Selatan,” pungkasnya melalui sambungan telepon.

Informasi kepariwisataan ini turut dipahamkan kepada jajaran Disbudpar Sulsel. Termasuk staf pengamanan, kala itu masih berstatus security yang kini mengemban amanah sebagai Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Read:  Disbudpar: Ayo Ramaikan Pekan Budaya Daerah SulSel 2019

Perkembangan teknologi dewasa ini, rupanya tidak diabaikan Disbudpar Sulsel. Daeng Ngewa dan Acil mengaku berbangga dengan fasilitas yang mendukung SSTIC saat ini.

Dulunya masih menggunakan media brosur, leaflet, buku-buku dan majalah yang dipajang di pos penjagaan pengamanan. Lantas bagi keduanya, media itu tidak seharusnya ditinggalkan, namun tetap dimanfaatkan untuk memudahkan jika terjadi network error (gangguan jaringan).

Read:  Komisi IV DPRD Sulteng: Maunya Bisa Terkoneksi Pariwisata Sulsel

Diketahui, SSTIC ditunjang dengan jaringan telekomunikasi yang mampu menghubungkan unit perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) di ruangan itu dengan server dari tempat lain melalui kecanggihan internet. AMBAE dalam pantauan langsung ke SSTIC, Disbudpar Sulsel masih menyajikan brosur dan semacamnya yang memuat peta jalan, serta informasi seputar Daya Tarik Wisata (DTW) maupun informasi seni dan budaya. (*)