Pembukaan TIF ke-9 Rante Buntu Pempon Berakhir Dingin

Seremonial TIF ke-9 2021.
Venue Toraja International Festival ke-9 hening gegara hujan dan listrik padam (04/09/21).

AMBAE.co.idToraja Utara. TIF atau Toraja International Festival yang berusia ke-9 tahun 2021 pada akhirnya digelar di Rante Buntu Pempon, Kecamatan Balusu, Kabupaten Toraja Utara (TorUt). Tepatnya 4 September 2021, di mana Sabtu malam itu para penampil telah siap menyajikan kemampuannya pada bidang seni dan budaya.

Namun, tak disangka menimbulkan kekecewaan. Segala detil perencanaan panitia harus takluk dengan peristiwa alam.

Sungguh kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa di atas segala-galanya. Alam yang tenang dan adem, seketika berubah dari cuaca yang cerah menjadi hujan.

Perubahan drastis terjadi sekira pukul 20:15 WITA, hujan mengguyur deras di sekitar venue TIF. Akibatnya seluruh pementasan yang disiapkan batal.

Meski awalnya sempat aman-aman saja, seremonial pembukaan berjalan lancar. Diawali sambutan Bupati Toraja Utara, Yohanis Bassang.

“Kalian akan masul TV Nasional, jadi jangan main-main ya, jadi harus serius. Semoga, ya seluruh atraksi budaya kita ini yang kalian tampilkan malam ini, ini akan membuat daerah kita semakin dikenal”, tegas Yohanis.

Bahkan sesaat setelah hujan membasahi panggung, Yohanis memanggil panitia pelaksana. Franki Raden yang menempati posisi Direktur TIF pun muncul berdiri di depan Bupati yang sedang duduk bersama Reza Fahlevi selaku Direktur Event Daerah, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegitan (Event), Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (KemenParEkRaf RI).

Read:  Sambangi Makale, BPPD-Dispar SulSel Dijamu Bupati Tator

Yohanis meminta agar rangkaian acara berlanjut jika hujan cukup mereda. Dikhawatirkan akan semakin deras, sementara waktu berpacu menuju tengah malam.

Meski begitu Franki menampik, tidak akan seperti itu, tak lama lagi hujan pasti berhenti. Bincang singkat itu terdengar jelas oleh khalayak di sekitar.

Tampak pula Kepala Dinas Komuniksi, Informatika, Statistik dan Persandian (DisKomInfo SP) Provinsi Sulawesi Selatan (SulSel), Amson Padolo serta unsur Forkopimda Kabupaten TorUt. Di sisi perangkat audio system, berdiri Kepala Bidang Pengembangan Pemasaran, Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (DisBudPar) Provinsi SulSel, Syamsuniar Malik, termasuk para Awak Media di sekelilingnya turut mendengar percakapan keduanya.

Sebelumnya, Reza juga berkesempatan menyampaikan sepatah kata sekaligus membuka acara secara resmi. Ditandai pemukulan gendang didampingi Yohanis, tentunya sebelum hujan menghunjam bumi.

Read:  Liestiaty F Nurdin Satu Meja Para Ketua Organisasi Perempuan Bahas Penanganan COVID-19

Dikatakan, kegiatan dengan tema “Indahnya Peradaban Purba (The Beauty of Ancient Civilization)” itu amat luar biasa. Para penampil disiapkan panitia mempersembahkan karya seni dan budaya yang mengandung nilai-nilai tradisi budaya Toraja dan SulSel pada umumnya.

“Luar biasa, menampilkan konten-konten lokal yang merupakan warisan seni budaya di Kabupaten Toraja Utara. Kami berikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Kabupaten Toraja Utara dan seluruh jajarannya, Lokaswara Project (pelaksana kegiatan) yang telah mempersiapkan kegiatan ini dengan sebaik-baiknya walaupun di masa Pandemi ini”, tuturnya.

Inovasi dan adaptasi mendasari kegiatan itu terlaksana menurut mantan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Aceh itu. Adapun Off Air malam itu akan berlanjut dengan On Air via YouTube channel pada 12 September mendatang.

“Masa Pandemi kita harus laksanakan kegiatan secara virtual, secara hybrid dengan penonton secara terbatas. Tapi bukan berarti tidak dapat ditonton oleh seluruh dunia bahkan”, ujarnya.

Lokaswara siapkan YouTube channel yang dikelolanya untuk menayangkan pagelaran Sabtu malam itu mulai pukul 20:00 WITA. Hanya saja, rencana itu disangsikan bisa terwujud, gegara buyarnya performance.

Read:  Video: Kunker DPRD dan Dinas Pariwisata Luwu ke DisBudPar SulSel

Naas, tak hanya hujan disertai dinginnya angin malam jadi kendala, lighting dan audio system tidak dapat difungsikan sama sekali karena sumber listrik dari mesin generator diduga mengalami kerusakan. Padahal awalnya tampak megah dan semarak lampu sorot terang benderang menyerupai lampu mercusuar untuk mendukung performance penampil.

Belum lagi, suara menggelegar dari perangkat mixer dan speaker berkekuatan ribuan kilohearts. Akibatnya penampil ekstra terhenti guna memeriahkan Toraja International Festival.

Hingga pukul 22:00 WITA, kesiapan panggung dan perangkatnya tidak jua tersaji dengan baik. Franki pun menggelar briefing di atas panggung dengan menghadirkan para punggawa atau perwakilan penampil.

Lucunya, penerangan di sekitar panggung tetap aktif nyaris tanpa gangguan. Sebut saja, tongkonan yang ditempati Yohanis, Reza dan tetamu lainnya, sajian kue khas TorUt dan minuman khas Makassar, sarabba dapat dinikmati dengan nyaman. (*)