Dari Balikpapan, Prof Jufri Apresiasi Pelaksana Upacara HKN di Gedung MULO

 

Pelaksana Upacara HKN 19 September 2022.
Anggota Satpol PP mengibarkan bendera merah putih (19/09/2022).

AMBAE.co.idMakassar. Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan (Disbudpar Sulsel), Muhammad Jufri mengapresiasi pelaksanaan upacara yang digelar tepat hari ini, Senin, 19 September 2022. Upacara untuk memperingati Hari Kesadaran Nasional atau HKN yang sejatinya jatuh pada tanggal 17 tiap bulannya.

“Luar biasa, salut dengan teman-teman kita yang melaksanakan upacara tadi pagi. Hari ini kita seluruh ASN memperingati Hari Kesadaran Nasional, merupakan kewajiban setiap Aparatur Sipil Negara, Alhamdulillah upacara ini diikuti hampir semua jajaran Disbudpar Sulsel,” tulis Jufri melalui pesan WhatsApp.

HKN kembali diperingati di bulan September tahun ini dengan menggelar Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih. Pelaksanaannya dipusatkan di Gedung MULO pada 19 September 2022 bagi jajaran Disbudpar Sulsel.

Ratusan ASN (Aparatur Sipil Negara), baik PNS (Pegawai Negeri Sipil) maupun Non PNS mengikuti upacara yang dikomandoi Bruno S Rantetana sebagai Inspektur Upacara (Irup). Tak lain adalah jajaran UPT Museum dan Taman Budaya yang berkantor di Benteng Rotterdam Makassar, UPT Museum Mandala dan Societeit de Harmonie dari Gedung Kesenian Sulsel dan Monumen Mandala Makassar, serta UPT Taman Budaya Benteng Somba Opu yang menghuni Benteng Somba Opu (BSO) di Kabupaten Gowa.

Selain itu, juga hadir menjadi peserta upacara dari jajaran Sekretariat Dinas, Bidang Sejarah dan Cagar Budaya, Bidang Kesenian dan Ekonomi Kreatif, Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata, Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata, dan Bidang Pengembangan Pemasaran. ASN dari enam unit kerja ini menghuni Gedung MULO sebagai induk dari Disbudpar Sulsel.

Read:  Sasar Pasar Jatim, Disbudpar SulSel Gelar Direct Promotion

Menariknya, dua orang Anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dari BSO yakni Asrul dan Rendy, berpartisipasi sebagai pengibar dan pengerek bendera merah putih. Sementara Aceng mewakili Anggota Satpol PP dari Gedung MULO dipercayakan menjadi pembentang bendera merah putih.

“Lebih salutnya Saya, teman-teman Satpol ini, khususnya 2 orang dari BSO, patut kita acungi jempol karena keberaniannya, semangatnya, karena jiwa korsanya sebagai abdi negara, tugas yang diberikan untuk mengibarkan bendera merah putih sukses dijalankan tanpa hambatan apapun. Sekali lagi, ini perlu kita apresiasi, terima kasih dari Saya atas nama institusi dan teman-teman,” tambah dia dalam keterangan tertulisnya.

Awalnya, Kepala Sub Bagian Umum, Kepegawaian, dan Hukum (Kasubbag UKH), M Agung menginstruksikan agar jajaran UPT Taman Budaya Benteng Somba Opu menjadi Pelaksana Upacara pada HKN kali ini. Namun, di hari yang sama mereka sedang berada di Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur hingga 23 September mendatang.

Demikian halnya Muhammad Jufri, Professor Psikologi itu juga menghadiri Temu Karya Taman Budaya (TKTB) XXI di Balikpapan. Turut bersamanya Kepala UPT Taman Budaya Benteng Somba Opu, Yessy Yoanna Ariestiani dan jajaran. Sementara Anggota Satpol PP BSO yang tidak mengikuti upacara HKN di Gedung MULO harus rela memperkuat Benteng Somba Opu selama ASN lainnya masih berada di luar Sulsel, khususnya Kabupaten Gowa.

“Kami berempat tugas di BSO, 2 orang teman tidak kesini untuk upacara karena sebagian pegawai di BSO keluar kota,” jelas Rendy, Anggota Satpol PP BSO.

Menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai pengibar bendera, Rendy menyampaikan jika dirinya bersyukur dapat menunaikan amanah yang begitu besar itu. Betapa tidak, merah putih baginya bukan sekedar kain dengan dua warna yang mendasarinya, namun lebih sebagai bendera yang dibanggakan sebagai lambang tertinggi negara ini.

Read:  Pengurus Wilayah KKSS Jatim Resmi Bekerja Usai Dilantik di Batu

Menjadi penanda atas identitas serta simbol kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, negara yang berdaulat dan merdeka serta diakui dunia. Rendy menambahkan, sejak Pandemi COVID-19, tugas kali ini menguatkan dirinya untuk semakin terbiasa mengibarkan bendera merah putih di puncak tiang.

“Saya merasa ada kebanggaan tersendiri, Saya juga semakin berani, tambah semangat, bisa mengalahkan rasa gugup sebelum upacara. Terakhir Saya jadi pengibar bendera tahun 2019,” kata Rendy.

Sedangkan Asrul, dijelaskan Rendy bahwa dia belum lama bergabung di BSO sebagai Anggota Satpol PP Pemerintah Provinsi Sulsel. Karenanya, Rendy memastikan rekannya itu baru pertama kali bertugas dan pagi hari ini dipercayakan sebagai pengibar.

“Kalau Asrul ini baru, jadi upacara juga baru menurutku. Apalagi menjadi pengibar bendera merah putih, juga masih baru, ini untuk pertama kalinya,” tegas dia.

Pelaksana Upacara HKN 19 September 2022.
Bruno S Rantetana dimandat sebagai Irup HKN di Gedung MULO Makassar (19/09/2022).

Sebelumnya, sesaat setelah upacara HKN usai, Irup yang juga adalah Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata mengatakan, pelaksana upacara yang memang bergiliran, seyogyanya diikuti dengan bergilirnya pula petugas pengerek, pembentang, dan pengibar merah putih. Peserta upacara pun semakin meningkat, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas.

“Dari dulu kan begitu, ini karena Pandemi COVID-19 Saya kira, salah satu penyebabnya, sampai-sampai ada tren baru. Padahal ini komitmen kita sejak awal masuk Pemerintahan. Jadi dulu itu, semua UPT hadir lengkap upacara disini, pelaksana juga lengkap, petugasnya juga begitu, semua lengkap mulai dari komandan, pengibar, ajudan, perwira, sampai pembina (inspektur) upacara,” urai lelaki yang akrab disapa BSR itu.

Bruno kemudian membeberkan kisahnya yang dalam banyak kesempatan menjadi komandan upacara. Tahun-tahun terakhir sebelum dirinya pensiun ini, bahkan sudah tak terhitung jumlahnya dia menjadi Irup.

“Alhamdulillah Saya pernah komandan upacara di hadapan Gubernur yang menjadi Inspektur Upacara, pernah Asisten, bahkan pernah Dirjen waktu Saya masih di Parpostel,” tutur dia yang juga merangkap Plh Kepala Bidang Kesenian dan Ekonomi Kreatif.

BSR mengutarakan pengalamannya yang bernada motivasi. Sembilan kata menutup wawancara AMBAE dengan lelaki asal Toraja itu yakni “Pengalaman Saya akan Dicatatkan, Kenapa Kalian Tidak Membuat Catatan?”. (*)