Sembelih 4 Ekor Sapi Idul Qurban 1443 H, Nurdin: Banyak Faedahnya

 

4 Ekor Sapi Qurban oleh H Nurdin Daeng Nguntung.
H Nurdin Daeng Nguntung menyembelih sapi qurban (10/07/22).

AMBAE.co.idBantaeng. Hari Raya Idul Adha selalu ramai dan diyakini menyisakan banyak kisah. Jika Hari Raya Idul Fitri menyisakan pengalaman berpuasa sebulan penuh, kesan Idul Adha sangat lekat dengan berqurban.

Dikutip dari Wikipedia, Qurban atau Kurban diartikan “dekat atau mendekatkan”. Dalam kata yang lain, disebut ‘Udhhiyah atau Dhahiyyah’, secara harfiah berarti hewan sembelihan. Sementara itu, ibadah kurban adalah salah satu ibadah pemeluk agama Islam, dengan melakukan penyembelihan hewan ternak untuk dipersembahkan kepada Allah.

Merupakan ungkapan terima kasih kepada Allah SWT atas rezeki yang dianugerahkan. Caranya, manusia membagikan daging hewan berupa sapi, kambing, unta, biri-biri, domba, ataupun kerbau yang sudah disembelih, tentunya kepada manusia penerima yang berhak.

Tahun 1443 Hijriyah ini, H Nurdin Daeng Nguntung menyembelih 4 ekor sapi, tepatnya pada Ahad, 10 Juli 2022. Dia menjadi jagal atau tukang sembelih serta panitia qurban di kediamannya, Jalan Bolu Nomor 3, Kelurahan Letta, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan.

“Patang kayu nak (empat ekor nak), Alhamdulillah. Sukkuru’ ki (kita bersyukur), nasaba’ inne taunga (karena tahun ini), manna mamo corona inja ji (biarpun masih Pandemi COVID-19), mingka akkulleji tauwwa a’rappungang (namun orang bisa berkumpul) akkorobang (berqurban),” ujar Nurdin, kental dengan bahasa Makassar berdialeg Bantaeng.

Menghimpun puluhan orang yang berqurban di wilayah Kabupaten Bantaeng. Dimana tiap ekornya, terdiri dari 7 orang, hingga totalnya sebanyak 28 orang.

“Parentana agamayya (agama memerintahkan), sikayu akkule nitunggalengi (satu ekor tunggal untuk satu orang), iareka tuju tau lalangna sikayu olo’-olo’ (atau tujuh orang dalam satu ekor hewan),” tambahnya.

Al-Manhar atau Jabal Kurban yang berlokasi di bilangan Lingkungan Lantebung itu ramai didatangi masyarakat untuk mendapatkan daging qurban. Pasalnya, lelaki yang akrab disapa Daeng Nguntung, tak hanya bertindak sebagai jagal, tapi ikut berqurban.

Read:  Gandeng Swasta, Bantaeng Sokong 3 Program Unggulan dengan Manual Book

Khusus untuk daging yang diqurbankan olehnya, dibagikan merata ke masyarakat yang menjadi tetangganya. Termasuk warga Kelurahan/Desa lainnya di Bantaeng yang secara khusus datang ke rumahnya.

“Ba’a (memang), loe tau battu (banyak orang yang datang), uru-uruna kupakarioloi ke’nang rampi’ ballaka (urutannya Saya dahululan tetangga terdekat dari rumah),” tegas dia.

Salah satu keuntungan yang diraihnya, rezeki senantiasa berlimpah. Nurdin yang juga berprofesi sebagai penjagal hewan dan penjual daging, mengaku tak pernah merasakan kekurangan yang amat berarti dalam menghidupi keluarganya.

“Iye’ andi’ (iya dik), tojengi nak (betul nak), ia wassele’na akkorobang (hasil/manfaat berqurban), lompo nai’ dalle’ta (rezeki bertambah banyak), baji’ tongi ampe-ampena tujaia mange ri nakke (begitu juga sikap/perhatian orang banyak kepada Saya,” pungkasnya.

Faedah lain kata Daeng Nguntung, tetangga dan masyarakat umum akan menunjukkan sikap dan perhatian yang positif serta peduli. Tutut dirasakan semua anggota keluarganya, meskipun itu bukan tujuan utama Daeng Nguntung berqurban.

Read:  Dua Cantik Semarakkan Perpustakaan EXPO

Usai menyembelih 4 ekor itu, sapi kemudian dipotong dan dibagi menjadi tujuh. Baik dagingnya, tulang hingga organ lain dari sapi dimaksud.

“Kutimbangi rolo’ (Saya timbang dulu), kabusu’ nibage (semua dibagi ‘rata’), punna passissili ka na papolonga (kalau tukang dressing dan tukang jagal selan dirinya), nisarei doe’ (diberi ‘upah’ uang), nisare tongi pole bukkulenna na ulunna nabage-bage (juka diberi kulitnya dan kepalanya untuk mereka bagi bersama),” tutup Nurdin.

Untuk kepala, menjadi pembagian qurban kepada orang yang membantu Nurdin memisahkan daging dan tulang dari kulit sapi. Begitu juga kulitnya, biasanya 7 orang yang membantu, adalah tetangga yang berdomisili di Jalan Bolu, Jalan Cakalang, dan sekitarnya.

Termasuk tukang jagal kedua selain dirinya dan orang yang menggembala sebelum hewan diqurbankan. Lalu orang yang mengantarkan sapi tersebut dari lokasi peternakan ke kediamannya yang lazim disebut parenreng ataupun dengan bantuan sopir di era sekarang.

Selain masyarakat Lingkungan Lantebung dan Tompong, tampak beberapa shohibul qurban diantaranya Petugas Kebersihan yang sehari-hari menyapu jalanan. Mereka juga ketiban rezeki daging qurban dari Daeng Nguntung.

“Nia’ mo kugappa (sudah ada Saya dapat/terima). Lompo dalle’ta Daeng Ajji (‘semoga’ rezeki tambah besar/banyak Daeng/Pak Haji),” tutur seorang warga yang mengaku pedagang keliling.

Adapun daging yang diqurbankan orang lain yang tergabung ke dalam kelompok tiap ekor sapi, diantarkan ke rumahnya masing-masing. Sebagian, malah menunggu hasil pembagian (7 kelompok), lalu membawa sendiri ke rumahnya.

Read:  Ribuan Penyuluh KB Akan Bertemu di Bantaeng, Jasmin: Pertama di Indonesia

Mereka pulalah yang meramaikan suasana berqurban di rumah bergaya tradisional Makassar itu. Diantara mereka ada yang memberikan daging qurbannya ke masyarakat yang hadir di lokasi yang sama.

Nurdin menekankan, terkait pembagian daging qurban, diberikan kewenangannya kepada masing-masing pemilik daging qurban tersebut. Berbeda dengan bagian pribadinya dan anggota keluarganya yang turut berqurban, dibagikan di sekitar rumahnya.

Tak hanya itu, puluhan hingga ratusan warga, memilih berkumpul di area belakang rumah Nurdin. Mengingat ini rutin, sudah sedemikian rupa tiap tahun, sejak awal anggota keluarga Nurdin sudah menyiapkan bara api dan tungku untuk tempat memanggang daging menjadi sajian sate yang renyah.

Belum lagi sajian kue lebaran, ditambah makanan dan minuman khas lebaran. Seperti halnya burasa, lappa’-lappa’, katupa’ pandang, dan lekese’, diharapkan menambah renyahnya sate. (*)