Nyaris Tanpa Jenda, KKN Tematik Desa Wisata Rembukkan Modul Program

 

Modul KKN Tematik Desa Wisata.
Rapat dalam rangka penyempurnaan modul KKN Tematik Desa Wisata (31/05/22).

AMBAE.co.idMakassar. Keberlanjutan KKN Tematik Desa Wisata kian menuai hasil positif. Disbudpar Sulsel yang menggagas program tersebut, mendudukkan 10 Perguruan Tinggi Negeri ataupun Swasta (PTN/PTS) serta Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IX Sultan Batara dalam satu wadah rembuk bersama.

Sehari sebelumnya, puluhan PTN dan PTS menjadi saksi ditandatanganinya Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara LLDIKTI dan Disbudpar Sulsel. Tentu bukan sekedar saksi semata karena PKS itu mengikutsertakan 195 PTS di bawah payung LLDIKTI sebagai fasilitator di tingkat regional, khususnya Sulsel.

Bertemu kembali, kali ini membahas modul program yang akan dijadikan pedoman dalam pelaksanaannya di lapangan. Masing-masing perwakilan PTN/PTS diberi kesempatan memberikan masukan, usulan maupun kritik demi penyempurnaan modul.

“Modul memang perlu kita bicarakan bersama, tapi kamu juga mohon diberikan ruang bagi masing-masing Perguruan Tinggi untuk mengembangkan (sesuai) spesifikasinya masing-masing,” pinta Prof Hatta Patta yang kini menjabat Wakil Rektor V Bidang Kerjasama dan Promosi UMI Makassar.

Dia meyakini, tiap PTN maupun PTS memiliki karakteristik dan spesifikasi yang berbeda, unik, dan menjadi ciri pembeda antara satu dengan yang lainnya. Jika spesifikasi itu bisa disinergikan dan di-combine (digabungkan) ke dalam modul program dimaksud, niscaya akan memberikan peluang kontribusi positif terhadap pengembangan kepariwisataan Sulsel.

Read:  19 Sekolah di Takalar Utus Pelajar dan Guru Mengunjungi Museum La Galigo

10 Perguruan Tinggi yang mengikuti pertemuan bertajuk Kolaborasi dan Sinergitas pada Selasa, 31 Mei 2022 itu adalah UNHAS (Universitas Hasanuddin) Makassar, UIN (Universitas Islam Negeri) Makassar, UMI (Universitas Muslim Indonesia) Makassar, UNISMUH (Universitas Muhammadiyah) Makassar.

Berikutnya UNIBOS (Universitas Bosowa) Makassar, UIM (Universitas Islam Makassar), UAJM (Universitas Atma Jaya Makassar), IPDN (Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri) Kampus Sulsel, PNUP (Politeknik Negeri Ujung Pandang), dan Poltekpar (Politeknik Pariwisata) Makassar sebagai tuan rumah lokasi pertemuan digelar. Tepatnya di Kampus Poltekpar Makassar, Jalan Gunung Rinjani Metro Tanjung Bunga Nomor 1, Kelurahan Tanjung Merdeka, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar.

Lanjut dikatakan Prof Hatta, pihaknya sangat siap bergandengan tangan membangun kolaborasi dengan Disbudpar Sulsel. Kick-off KKN Tematik Desa Wisata akan diambil alih UMI dengan menerjunkan sekira seribu mahasiswa mengikuti program kolaboratif itu, sasarannya 46 desa dan 21 kelurahan di Kabupaten Bantaeng.

“Kami Inshaa Allah akan berpartisipasi dalam program KKN Tematik Desa Wisata berbasis pada dua hal. Pertama, desa binaan. Kedua, kami juga diberi amanah Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk mengembangkan industri halal,” beber Prof Hatta.

UMI kata dia, telah lama membina desa di sejumlah Kabupaten/Kota di Sulsel. Karenanya, benang merah penentuan target dan sasaran Lokus (Lokasi Fokus) program KKN Tematik Desa Wisata sebaiknya diarahkan ke desa binaan masing-masing Perguruan Tinggi.

“UMi punya desa binaan di sejumlah daerah,. Setelah membaca peta desa wisata, sebagian besar masuk dalam peta desa binaan, baik tahun lalu maupun tahun ini. Itu modal penting untuk kita kontribusikan untuk pengembangan pariwisata,” terang dia.

Menanggapi hal itu, Kadisbudpar Sulsel, Prof Jufri menegaskan bahwa sejak awal program yang digagasnya bersama jajaran Disbudpar Sulsel, memberi ruang yang begitu luas agar Perguruan Tinggi dapat menuangkan ide, gagasan, program, serta kegiatan yang diharapkan bersinggungan langsung serta saling menguatkan.

Read:  Disbudpar: Ayo Ramaikan Pekan Budaya Daerah SulSel 2019

Karenanya, dia meyakinkan para utusan PTN dan PTS itu, modul program KKN Tematik Desa Wisata yang dibuat dan telah dibagikan merupakan modul umum. Bahkan masih terbuka peluang untuk penyempurnaan, terlebih dimungkinkannya modul untuk tiap Perguruan Tinggi.

“Dari awal memang ini kita siapkan seperti itu, kita terbuka untuk adanya masukan, tentu agar program ini bisa jauh lebih baik, meskipun ini baru kita awali, Inshaa Allah pertama di Indonesia,” pungkasnya.

Prof Jufri kemudian mengungkapkan seperti apa program kolaboratif ini digagas. Bahwa akademisi yang selama ini muncul dalam konsep besar tourism pentahelix, menurutnya wajib diwujudnyatakan.

Read:  Sulsel Nyaman di Klasemen Sementara 300 Besar ADWI 2022

Jika kolaborasi dan sinergitas itu telah terbangun karena masing-masing program yang saling mendukung satu sama lain. Saatnya unsur pentaheliks pariwisata menyatu ke dalam program yang sama.

Membawa ide dan gagasannya, menguatkan program yang punya tujuan sama yakni mengembangkan kepariwisataan. Program KKN Tematik Desa Wisata ini, melibatkan semua unsur pentaheliks pariwisata.

Disbudpar merupakan salah satu perwakilan unsur Pemerintah, lalu Perguruan Tinggi sebagai unsur Akademisi. Pada Desa Wisata terdapat unsur Masyarakat ataupun Komunitas.

Begitu pun Pelaku Usaha dan Industri, kata Jufri dipastikan hadir, baik sebagai obyek maupun subyek. Berikutnya Media, unsur penting yang menggaungkan promosi pariwisata dan ekonomi kreatif dari seluruh subsektor yang ada. (*)