Sharing Session Enterpreneur, Kadisbudpar Sulsel Sebut Industri Kreatif Menyokong Kepariwisataan

 

Enterpreneur oleh Prof Jufri.
Sharing Session Enterpreneur diikuti virtual oleh Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia (16/11/21).

AMBAE.co.idMakassar. Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan (Kadisbudpar Sulsel), Muhammad Jufri memaparkan dengan gamblang sejauh mana industri kreatif berkontribusi terhadap pengembangan kepariwisataan. Hal itu mengemuka dalam Sharing Session Enterpreneur yang dilaksanakan secara virtual melalui Zoom Cloud Meeting pada Selasa siang (16/11/21).

Jufri menyebut Industri Kreatif berperan penting dalam pengembangan sektor pariwisata. Tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2019, Pemerintah berkewajiban memberikan perhatian terhadap Pelaku Ekonomi Kreatif yang terdiri dari Pelaku Kreasi dan Pengelola Kekayaan Intelektual.

“Industri kreatif punya andil, kontribusinya luar biasa dalam mengembangkan dan memajukan sektor pariwisata,” ujar Jufri.

Bentuk perhatian dapat berupa pelatihan, pendampingan hingga fasilitasi bantuan stimulan dan sertifikasi profesi. Adapun subsektor ekonomi kreatif, dilansir laman Kemenparekraf/Baparekraf, ada 17 yakni pengembang permainan, arsitektur, desain interior, musik, seni rupa, desain produk, fesyen, kuliner, film, animasi dan video, fotografi, desain komunikasi visual, televisi dan radio, kriya, periklanan, seni pertunjukan, penerbitan, dan aplikasi.

Industri pariwisata sendiri termasuk industri padat karya. Menyerap tenaga kerja yang banyak pada semua subsektor yang ada.

Keterlibatan semua pihak dibutuhkan untuk menyokong kepariwisataan. Dan pariwisata pun memberi dampak terhadap peningkatan perekonomian masyarakat, yang mana didalamnya ada pelaku ekonomi kreatif.

“Bicara promosi pariwisata, tidak terlepas dengan hadirnya para fotografer, videografer, dan pelaku ekonomi kreatif lainnya. Merekalah yang berkontribusi dalam menyampaikan informasi terkait destinasi wisata kita yang indah, pada akhirnya wisatawan berkunjung untuk menikmati panorama alam,” jelasnya.

Multiplier effect-nya akan dirasakan semua pihak. Hanya saja untuk mendukung kepariwisataan dibutuhkan kepedulian dan kepekaan, menghilangkan ego dan tidak memposisikan pemerintah sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung jawab.

Read:  KRI Dewa Ruci Jelajahi Jalur Rempah SulSel Agustus Mendatang

Kepariwisataan mengenal tourism pentahelix. Unsur pemerintah, pelalu usaha, akademisi, media, dan masyarakat ataupun komunitas berkolaborasi dan bersinergi.

Untuk diketahui Sharing Session Enterpreneur telaksana berkat kerja sama dengan Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar melalui Fakultas Sastra. Audiens didominasi peserta Mata Kuliah Enterpreneur Bahasa dan Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia.

Jufri berharap generasi muda saat ini lebih banyak terjun ke dunia bisnis ketimbang memilih menjadi ASN (Aparatur Sipil Negara). Ke depan sejumlah pekerjaan yang ada saat ini akan digantikan dengan jenis pekerjaan baru.

Baginya peluang justru lebih besar bagi para Pelaku Ekonomi Kreatif. Bahkan sekarang sudah terasa dan terbukti secara perlahan.

Subsektor aplikasi misalnya yang bertautan dengan subsektor pengembang permainan. Telah merambah hingga sisi terdalam lingkungan rumah, hanya dengan bantuan ponsel pintar sudah bisa meraup untung besar.

Dipengaruhi maju dan pesatnya teknologi, membuat subsektor ini membuka lapangan kerja dan dunia usaha begitu lebar. Umumnya adalah milenial sebagai pencetus ide dan perancang, sementara targetnya pun lebih kepada milenial.

Read:  Bulukumba Kebagian Peluang Meningkatkan SDM Hotel dan Pondok Wisata

Tenaga kerja yang dilibatkan cukup banyak, tak hanya di sisi pengembang, masyarakat serta merta mendapat peluang untuk menyiapkan sarana, prasarana dan medium permainan seperti pulsa, chip, diamond, xp, dan beberapa pengistilahan lainnya yang dibutuhkan untuk menjalankan permainan.

Ditambah bertumbuhnya industri ponsel dan juga perangkat permainan serupa, diantaranya komputer pribadi, laptop, dan tablet. Lantas seperti apa dampaknya terhadap kepariwisataan.

Jika merujuk subsektor tersebut, Jufri menerangkan, sebuah kompetisi permainan akan mendatangkan banyak orang dari berbagai daerah dan negara. Berkumpul dalam satu wilayah, disitulah tercipta wisata.

Bahwa pemain game akan menginap dengan memanfaatkan hotel, homestay. Belum lagi subsektor pariwisata lainnya seperti kuliner akan mendapat manfaat dari kunjungan yang ada gegara bangkitnya subsektor pengembang permainan.

“Memang perlu dilihat lebih luas, pariwisata ini kompleks. Hidup dan ditunjang industri kreatif, lalu kembali memberi manfaat kepada Pelaku Ekonomi Kreatif,” kata dia.

Namun untuk menjadi seorang enterpreneur yang sukses, dibutuhkan kreativitas, pengetahuan, ide cemerlang, dan kemampuan bersosialisasi. Dunia kerja akan membentuknya, latar belakang pendidikan berbeda tidak menjadi ukuran sebagai penghalang untuk terjun ke bisnis.

“Saya punya resep untuk sukses menjadi enterpreneur. Miliki 4 C, critical thinking, collaboration, creativity, dan communication skill, kuncinya itu,” tegasnya.

Pada kesempatan sharing session itu, Jufri yang juga adalah Dosen Penanggung Jawab Enterpreneur Bahasa ditemani narasumber lainnya yakni Muh Eka Prachandra atau akrab disapa Chandra Mindset.

Read:  Sri Dewi Yanti Lantik 8 Ketua PKK Kecamatan se-Kabupaten Bantaeng

Adalah Owner sekaligus CEO MEC (Mindset English Centre) Indonesia. Sebuah perusahaan yang memfokuskan pada pendidikan dengan menggabungkan education dengan entertainment.

Chandra Mindset dalam siaran virtualnya memperlihatkan beberapa ruangan yang ada di kantornya. Termasuk ruang produksi untuk desain grafis hingga suasana kerja yang tidak semua orang dapat melihatnya dalam kesempatan berbeda.

“Saya sepakat kalau anak-anak muda sekarang ini tidak selalu menggantungkan cita-citanya untuk jadi PNS. Paling tidak siapkan cadangan kalau tidak lulus PNS, seperti Saya ini,” imbuhnya.

Kepada segenap mahasiswa yang mengikuti kuliah virtual, dia membagi pengalamannya dapat sukses seperti hari ini. Dalam profil perusahaannya yang dikutip di laman MEC Indonesia, dicantumkan bahwa perusahaan itu memiliki sekira 20 ribu member.

Didirikan sejak 2012 dan bermarkas di Kota Makassar. MEC Indonesia menjaga konsistensinya dalam berinovasi terhadap pendidikan Indonesia.

“Saya dulu di EO, Saya angkat panggung, atur-atur sound. Lalu terus bergaul, kemana saja dan dengan siapa saja Saya bergaul, akhirnya sekarang bisa bikin event nasional,” pungkasnya.

Chandra juga menyatakan kesanggupannya berkontribusi untuk memajukan pariwisata Sulsel. Dengan kemampuan sesuai bidang kerja yang dijalankan, dia meyakinkan Prof Jufri untuk dapat membahas lebih jauh apa yang bisa dipersembahkan terhadap daerahnya, Sulsel. (*)