Atraksi Ma’tannung Warnai Aksi Sapta Pesona Buntu Burake

 

Menenun di Aksi Sapta Pesona Buntu Burake.
Bruno S Rantetana (kanan) menyerahkan bantuan kepada Ketua Pokdarwis Buntu Burake, Daud (30/09/21).

AMBAE.co.idTana Toraja. Pemandangan berbeda tampak di area Patung Yesus Buntu Burake atau Patung Yesus Kristus Memberkati. Sejumlah warga ma’tannung (menenun) kain selama gelaran Gerakan Sadar Wisata dan Aksi Sapta Pesona.

Tak hanya membuatnya hingga menjadi kain, proses menenun secara lengkap mulai pemintalan benang. Bahkan dapat dijumpai kain-kain hasil tenun olahan tangan dari para toma’tannung (penenun).

Harga ditawarkan beragam, tergantung jenis kainnya, kerumitan motifnya dan juga waktu yang dibutuhkan untuk menenun. Pengunjung dimanjakan dengan ma’tannung, sebagian diantaranya memanfaatkan dengan berselfie ria.

Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat (PM) pada Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan (Disbudpar Sulsel), M Ibrahim Halim menuturkan, atraksi menenun di DTW (Daya Tarik Wisata) Patung Yesus Buntu Burake menambah eksotisme destinasi wisata unggulan Tator itu. Belum lagi, pengunjung bisa mempraktekkan sendiri cara menenun atas panduan dan bimbingan ahlinya.

“Ada dua unsur yang sangat kelihatan di tempat ini yaitu kenangan dan atraksi. Oleh teman-teman Pokdarwis, pengrajin manik-manik, dan penenun, atraksi diperlihatkan kepada rombongan kami dari Makassar,” tuturnya.

Dia yang karib disapa Bram menyampaikan kekagumannya kepada Pokdarwis Buntu Burake yang mampu mensinergikan potensi yang ada guna mendukung eksistensi destinasi wisata itu. Meski Pandemi COVID-19 masih mendera Sulsel dan Tator pada khususnya, Buntu Burake dapat beradaptasi menyambut pengunjung, baik itu pelancong ataupun wisatawan.

Perlu diapresiasi kata Bram, agar Pandemi COVID-19 tidak menghentikan langkah produktivitas. Sebagaimana dia mengutip pernyataan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Ketua Badan Pariwisata dan Ekoonomi Kreatif Republik Indonesia (Menparekraf/Baparekraf RI), Sandiaga Salahuddin Uno “Kita tidak bisa berhenti bergerak, tapi terus bergerak meskipun pandemi belum berlalu selama kita mematuhi protokol kesehatan yang ada”.

“Supaya kita bisa meledakkan (memboomingkan) kembali Toraja sebagai wisata utama di Indonesia Timur, kalau perlu di Indonesia,” kata dia.

Selain kain tenun dan rangkaian prosesnya, seni merangkai manik-manik menjadi kerajinan tangan seperti kalung, tas, dan ikat rambut melengkapi atraksi lainnya. Bram menambahkan dalam laporannya, jika memungkinkan hasil kerajinan tersebut mesti dibawa pulang ke Makassar sebagai buah tangan.

“Memohon juga kepada diri Saya tentunya, manik-manik ini ada-lah (ada) yang naik ikut di mobil kami saat pulang. Tentu bayar ya, harus bayar,” tegasnya disambut riuh tepuk tangan para pengunjung dan tetamu yang duduk di sisi kaki patung.

Pada Kamis (30/09/21) itu Bram melaporkan rangkaian kegiatan Gerakan Sadar Wisata dan Aksi Sapta Pesona yang dihelat Disbudpar Sulsel. Adalah bagian tak terpisahkan dari program Pekerjaan Hibah Jalan Daerah (PHJD).

“Kami mendapat bagian pekerjaan dari PHJD ini untuk menyiapkan masyarakat di destinasi wisata termasuk di Buntu Burake ini untuk menjadi pelaku wisata. Bukan hanya menjadi penonton terhadap bangkitnya pariwisata,” ungkap Bram.

Diketahui Tator dan Toraja Utara (Torut), dua Kabupaten di Utara Sulsel yang tercatat telah berstatus Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Menempatkannya mendapatkan alokasi program PHJD yang diinisiasi Kementerian PUPR (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) RI dan beberapa kementerian lainnya, baik pembangunan infrastruktur maupun pengembangan sumber daya pariwisata.

Read:  Klan Bulukumba Jaya Motor Pamer Slalom di MRSF Bantaeng

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Tator, Rospita Napa’ yang membuka secara resmi kegiatan menyampaikan bahwa Buntu Burake memberikan andil luar biasa terhadap kemajuan Tator dari sektor pariwisata.

“Buntu Burake sumber PAD tertinggi di Tana Toraja. Salah satu obyek (wisata) andalan kita,” pungkasnya.

Pembenahan terus dilakukan selama pandemi. Memanfaatkan kevakuman kepariwisataan selama ini yang ditandai menurunnya kunjungan akibat pembatasan, terutama pada puncak angka terpapar Corona Virus Desease 2019 (COVID-19).

“Kami terus berupaya melakukan pembenahan, mudah-mudahan pariwisata kita kembali menjadi tujuan wisata di Indonesia khususnya Buntu Burake,” jelasnya.

Dirinya berharap semua terakomodir untuk mengambil peran di destinasi itu. Pokdarwis sebagai penggerak, lalu sektor ekonomi kreatif, ditambah subsektor kuliner dan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) juga terberdayakan dengan baik.

“Pokdarwis-nya bisa berjalan, kelompok-kelompok usahanya bisa hidup kembali, toma’tannung, manik-manik, kios-kios yang ada, kuliner, semua bisa bangkit kembali,” harap Rospita.

Gerakan Sadar Wisata dan Aksi Sapta Pesona diisi dengan aksi bersih-bersih di sekitar destinasi wisata Buntu Burake. Bukit yang berada di ketinggian antara 900 hingga 1.129,9 mdpl itu, meski cukup terjaga kebersihannya, mesti dibuat lebih bersih lagi.

Read:  Kunjungi Gedung Mulo, Legislator Jeneponto Dicerahkan Pengembangan Pariwisata

Selanjutnya bagaimana menjadikannya sejuk dan indah. Rospita dan Bram sama-sama mengharapkan agar seluruh pelaku dan pegiat wisata di Tator dapat menciptakan suasana aman, tertib dan ramah.

Sedangkan kenangan yang menjadi unsur ketujuh dari Sapta Pesona telah terpenuhi. Lebih awal disampaikan Bram dengan adanya pelibatan to ma’tannung dan produk kain siap jual bagi wisatawan.

Read:  Geopark Nasional Maros Pangkep Menuju Kandidat UNESCO Global Geopark, Kadisbudpar SulSel: Self Assessment Sudah Dikirim

Diperkuat pernyataan Bruno S Rantetana selaku Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata (PSDP) Disbudpar Sulsel yang juga hadir pada kesempatan itu. Menurutnya, destinasi wisata sekarang tidak boleh hanya bertumpu pada upaya mendatangkan wisatawan saja.

Lebih jauh, harus memikirkan cara memikat wisatawan berlama-lama, bahkan mengunjungi tempat lainnya hingga kemudian menginap di penginapan yang ada. Sebisa mungkin menetap dan berbaur dengan masyarakat sekitar, merasakan aktivitas sehari-sehari seperti bercocok tanam, menggembala, serta menenun.

“Wisatawan kita ajak berinteraksi dengan kita, pagi mungkin ikut ke sawah menanam padi, menggembala tedong (kerbau), siangnya bantu memasak orang di rumah dengan kuliner khas, dan banyak lagi. Ini kan lebih menarik, dan ini disukai wisatawan mancanegara, domestik begitu juga, karena mungkin selama ini tinggalnya cuma di kota saja,” urai Bruno.

Pejabat Eselon III di institusi yang menangani sektor pariwisata Sulsel itu sepakat jika wisatawan mendapat kenangan usai menikmati destinasi wisata. Eloknya lagi kata Bruno, wisatawan meninggalkan kenangan dan kesan manis bagi masyarakat.

Bruno juga menyerahkan peralatan pendukung untuk menciptakan suasana bersih, indah dan sejuk berupa sapu, sekop sampah, dan tong sampah. Di samping itu, pihaknya menyiapkan sejumlah hadiah menarik yang diundi untuk doorprize, dengan harapan memacu semangat sadar wisata kian berkualitas lagi. (*)