Pemkab Bantaeng Hadirkan 7 Inovasi Untuk Lomba Inovasi COVID-19

Pengiriman video Lomba Inovasi COVID-19 Bantaeng.
Salah satu adegan pengambilan gambar untuk keperluan pembuatan video inovasi (01/06/20).

AMBAE.co.id – Bantaeng. Pemerintah Kabupaten Bantaeng serius menanggapi tantangan Kemendagri yang menggelar Lomba Inovasi COVID-19 tingkat nasional. Melalui lomba diharapkan memacu semangat untuk terus berupaya mencegah penularan dan penyebaran virus yang kini mengglobal di seluruh dunia (pandemi).

Koordinator Lomba Inovasi Bantaeng, Dimyati Nompa yang juga adalah Kepala Bappeda Bantaeng, menyampaikan bahwa lomba inovasi COVID-19 diselenggarakan dengan tema “Penyiapan Tatanan Normal Baru Produktif dan Aman Covid-19”. Lomba diselenggarakan mulai tanggal 2 sampai dengan 15 Juni 2020 yang dibagi 3 Klaster yakni tingkat provinsi, kabupaten dan kota.

“Ada 3 klaster untuk lomba ini bisa diikuti. Pertama, tingkat provinsi, lalu tingkat kabupaten dan tingkat kota”, ungkap Nompa kepada AMBAE, Minggu (07/06/20).

Sebanyak 7 buah video disiapkan untuk 7 sektor yang dilombakan. Sekretaris Daerah, Abdul Wahab didampingi Kadis Kominfo, Persandian dan Statistik, Syahrul Bayan berkesempatan menyaksikan video tersebut bersama Tim Kreatif sebelum dikirimkan melalui aplikasi ke Panitia Lomba.

Read:  Isteri Professor Nurdin Abdullah Manjakan ODP dengan Makanan Bergizi

Masing-masing sektor pasar tradisional, sektor pasar modern, sektor transportasi, sektor restoran, sektor hotel, sektor tempat wisata dan sektor transportasi umum.

Ketujuh video tersebut dibuat oleh Tim Kreatif yang dikoordinir oleh Dinas Kominfo, Persandian dan Statistik Kabupaten Bantaeng. Sementara untuk pengembangan ide inovasi, dikoordinir oleh masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis yang membidangi.

Read:  Presiden Balas Hormat Bupati Bantaeng pada Upacara Pelantikan IPDN

Bupati Bantaeng, H Ilham Azikin menyebut New Normal sebagai “Kebaikan Baru”. Dalam rapat koordinasi Lomba Inovasi pada Jum’at, 5 Juni 2020, ia mengatakan Kebaikan Baru yang dimaksud adalah sebuah tradisi transisi menuju normalisasi.

“Kebaikan baru akan menyulam rasa kemanusiaan kita. Kebaikan baru menuju kehidupan bermasyarakat yang lebih sehat lebih maju dan lebih baik”, kunci dia. (*)