Bantaeng Waspada Tapi Jangan Panik, Pasien dari Jeneponto Terinfeksi MERS COV-2?

Pasien obgin dari Jeneponto dirawat di RSUD Bantaeng.
Pesan berantai di WhatsApp terkait dugaan pasien positif COVID-19 dari Jeneponto (03/05/20).

AMBAE.co.id – Bantaeng. Bantaeng yang diklaim masih zona hijau sentak digemparkan dengan beredarnya berita terkait dugaan pasien yang terinfeksi virus corona. Informasi berantai pun tersebar dengan cepat melalui sosial media WhatsApp.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bantaeng, Andi Ihsan angkat bicara memberi penjelasan bahwa akan dilakukan pemeriksaan lanjutan berupa swab test. Dari situ dapat diketahui apakah pasien terinfeksi virus jenis MERS COV-2 atau varian virus corona lainnya.

Read:  Ilham Azikin: Kunjungan Mentan RI Jadi Motivasi Bagi Pemerintah Bantaeng

Dikatakan bahwa saat ini 20 Tenaga Kesehatan sedang dikarantina mandiri sambil menunggu hasil pemeriksaan terhadap sampel swab pasien dimaksud. Dia pun meminta agar warga Bantaeng untuk tetap tenang dengan beredarnya informasi tersebut.

“Harapan kami, masyarakat Jangan Panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan physical distancing. Selalu memakai masker, mengurangi aktifitas di luar rumah, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dengan teratur mencuci tangan pakai sabun”, imbuhnya.

Diketahui Tim Gugus Tugas Penanganan COVID-19 mendeteksi seorang pasien obgin di Rumah Sakit Prof Dr HM Anwar Makkatutu Bantaeng pada Minggu (03/05/20). Meski begitu, warga diminta tidak panik, tetap tenang dan senantiasa waspada.

Read:  Cerita COVID-19, Liestiaty F Nurdin Imbau Jajarannya Agar Manfaatkan Kardus Bekas

Ihsan yang juga Juru Bicara Penanganan Tim Gugus Penanganan COVID-19 Kabupaten Bantaeng menyampaikan, pasien asal Kabupaten Jeneponto dengan inisial H (36) menjalani proses obgin di RSUD Bantaeng atas indikasi medis tertentu.

Sebelum menjalani operasi SC pasien tersebut telah dilakukan pemeriksaan Rapid Test COVID-19. Hasilnya reaktif, pelaksanaan operasi pun harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai standar pencegahan COVID-19.

“Sebagaimana diketahui tingkat kepekaan Rapid Test ini hanya 70 persen. Jadi masih berpeluang terjadinya hasil positif palsu, karenanya butuh pemeriksaan PCR”, tegasnya.

Hingga berita ini dipublikasikan, pasien telah diisolasi di Ruang Perawatan Isolasi. Kepadanya telah diambil sampel swab untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan PCR. (*)

Read:  Dari Arab Saudi ke SulSel, 40 Mahasiswa Dikarantina 14 Hari di Hotel