
Betapa tidak, komoditi ini di beberapa daerah menjadi rebutan. Pada akhirnya daerah lain bahkan negara lain justru mengklaimnya sebagai produknya karena terlanjur dipatenkan.
Disamping itu, keseriusan daerah dimana komoditi itu lahir dan berkembang pun menjadi masalah krusial. Pihaknya pun tidak mau hal tersebut dialami desanya.
“Kita punya lahan perkebunan kopi arabika di Dusun Daulu seluas kurang lebih 200 Ha. Kalau kopi robusta itu di titik 700 mdpl ke bawah mencapai kurang lebih 100 Ha”,
Potensi kopi saat ini di Pattaneteang sekitar 85 ton untuk kopi robusta yang sudah jadi (bean). Sementara arabika lebih dari 355 ton bean dengan total petani kopi mencapai 352 KK.
Sabtu itu Pemdes Pattaneteang mendapat fasilitasi dari KOMPAK (Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan) melalui kegiatan Bantuan Teknis Evaluasi dan Sinkronisasi RPJMDesa Pro Yandas, Responsif Gender, Anak dan Inklusif Mengacu RPJMD Kabupaten Bantaeng 2018-2023.
