Mall dan Batalnya Puasa si Fitri

Mall.
Ilustrasi Mall.

Dipikirnya waktu buka Mall sama dengan jam mulai pelajaran di sekolah. “Lambat sekali ini Mall dibuka, harusnya sudah jam pelajaran kedua ini di sekolah kalau harus buka jam 10”, kata dia.

Lanjut diucapkan sedikit menyindir “Puasakah…??? Kita juga puasa tapi tahu jam berapa harus ke Makassar. Jauh-jauh ke Makassar harus tertunda belanjanya”.

Bakkara dan Jumasia cuma tersenyum tipis, Bakkara pun mengoper gigi perseneling mobil ke level 3 hingga level 4 biar jalannya lebih mulus. Sentral dituju pagi itu yang kemudian berbuah beberapa lembar baju dan celana tuntas dibeli Ibunya Fitri.

Fitri sendiri memilih abstain, lebih enjoy sekedar melihat-lihat saja. Tau sendiri Pasar Sentral ini sangat padat, ramai dan sesak dikunjungi ribuan pembeli baju lebaran dari 24 Kabupaten/Kota di SulSel, bahkan orang-orang dari wilayah Indonesia Timur merasa rugi jika tidak ke Sentral berbelanja.

Read:  Anak Ini Sengaja Aminkan Do'a Khatib Jum'at Masjid Taqwa Tompong

Dari Sentral tibalah saatnya Fitri menyambangi Mall di dekatnya bernama MTC Makassar. Lokasinya relatif dwkat hanya berjarak 300 meter.

Mobil si Bakkara sedari awal diparkir di basement Mall tersebut usai menurunkan keduanya di Pasar Sentral. Pemilihan lokasi parkir yang tepat menurut Bakkara.

Hanya saja musibah datang diluar perkiraan Bakkara. Fitri memarahi Bakkara karena harus berjalan kaki ke MTC.

Fitri: Puasa jaki itu? Masa mau ki jalan dende’ ke MTC (Puasakah Anda? Masa iya kita jalan ke MTC)

Bakkara: Dekat ji…(dekat)…

Jumasia: Tidak puasa ko kah Fitri? kenapa pale’ marah-marah (Tidak puasa juga kah kamu Fitri? Lalu kenapa marah-marah)

Read:  Hadiri Maulid SD 5 Lembang Cina, Bupati Bantaeng Apresiasi Peran Aktif Parenting

Mendengar ucapan Ibunya, Fitri bergumam sambil melangkahkan kakinya. Di MTC Fitri memilih baju dan celana yang akan dipakainya saat lebaran. Begitu juga Ibunya yang kemudian membelikan untuk Bakkara.

Saking banyaknya belanjaan si Fitri, kedua tangannya sudah tak mampu menahan beban kantongan plastik yang semakin melebar dan berat. Fitri akhirnya harus merelakan puasanya batal untuk hari ke-18.

Menjelang sore, ketiganya pun bertolak menuju Bantaeng tempat tinggalnya. Sesampainya di rumah disambut senyum hangat sang Bapak, Sanneng.

Kepada Jumasia dan Fitri, Sanneng berkata “Kalau pale’ tidak ada baju lebaran dibelikan ka, mau mi diapa ka Saya puasa ja (Kalaupun tidak ada baju lebaran dibelikan untuk Saya, tidak apalah karena Saya Berpuasa)”, tururnya dengan nada rendah.

Read:  Launching Madrasah Ramah Anak se-SulSel, DP3ADaldukKB: Tonggak Kebangkitan Generasi Emas

Fitri menjawab ucapan Bapaknya “Bapak Puasa, hore kalau begitu”. Mereka pun menikmati akhir malam ke-19 bulan suci Ramadhan 1440 H dengan penuh ceria.

Banyak canda dan tawa dalam keluarga Fitri meski sedang terlihat marah sekalipun. Mereka cenderung membawa ke suasana santai dan cepat kembali normal, sehingga kebahagiaan tampak menghiasi rumahnya.

Mungkin saja kisah fiksi seperti ini pernah atau bahkan ada yang sedang mengalaminya saat ini. Perihal si Fitri berpuasa atau tidak sebelum membatalkannya di Makassar, siapa yang tahu secara pasti karena puasa itu hanya pribadi orang tersebut yang tahu dengan Allah Swt. (*)