Keakraban TNI-Warga dalam Perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-77 di SD Negeri Parinring

 

SD Negeri Parinring bersama TNI dan Warga.
Babinsa Kelurahan Tamangapa Koramil 1408-10/PNK dan Rusdin Tompo (tengah) bersama Guru dan siswa/siswi SD Negeri Parinring Makassar (20/08/22).

AMBAE.co.idMakassar. Keakraban antara anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan warga terlihat selama perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-77 di SD Negeri Parinring, Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala, Kota Makassar. Peltu Rosihan Anwar HR, S.Sos, Babinsa Kelurahan Tamangapa Koramil 1408-10/PNK, mendapat sambutan hangat saat hadir sebagai salah seorang tim juri lomba kebesihan antar-kelas, yang diadakan Sabtu, 20 Agustus 2022.

Sesekali terdengar nama Rosihan Anwar disapa orang tua dan guru ketika dia melintas di depan kelas. Ada juga yang mengajaknya berfoto di sela-sela dirinya melakukan penjurian bersama Andi Etty Cahyani, S.Pd, Plh UPT SPF SD Negeri Parinring, dan Rusdin Tompo, Penulis dan Penggiat Literasi.

“Sekolah mesti bisa jadi rumah kedua bagi anak-anak dan guru,” terang pria kelahiran Bulukumba, tahun 1975 itu.

Dia mengaku senang bisa hadir dan membaur bersama guru, orangtua, dan siswa. Karena dia juga berlatar belakang keluarga pendidik. Kedua orangtua merupakan guru. Sehingga Rosihan Anwar bisa merasakan dinamika hidup guru di sekolah.

Read:  Bukti Keberpihakan Sri Rahmi pada Masyarakat

Sebagai Bintara Pembina Desa/Kelurahan yang melakukan tugas-tugas teritorial, dia memang mesti bisa menunjukkan kemanunggalan TNI dan rakyat. Rosihan Anwar tak jarang didapuk sebagai pembina upacara. Dia pernah jadi pembina upacara di SMP Negeri 17, SMP Makassar Mulia, dan SMA Negeri 10. Pernah pula dia menjadi tim penilai lomba 17an di beberapa sekolah.

Pada hari Senin, 15 Agustus 2022, Rosihan Anwar jadi pembina upacara di SD Negeri Parinring. Menurutnya, itu pengalaman pertama jadi pembina upacara di sekolah dasar. Kesempatan sebagai pembina upacara itu digunakan dengan mengingatkan anak-anak agar mereka rajin belajar.

“Kawasan sekolah ini masih suasana kampung. Saya cukup mengenal wilayah ini karena sejak 2003 sudah tinggal di perumahan dekat sini,” ungkap Rosihan Anwar.

Andi Etty Cahyani, yang belum lama bertugas sebagai pelaksana harian kepala sekolah, mengaku sengaja mengajak Rosihan Anwar sebagai Babinsa. Karena sekolah mesti bisa berkolaborasi dengan semua pemangku kepentingan. Apalagi kehadiran tim juri dari luar juga penting demi menjamin netralitas penilaian.

Read:  How to Meet Russian Woman For the purpose of Marriage

Guru yang akrab disapa bu Andi Etty itu berharap, semoga suasana kelas yang bersih selama perlombaan terus dipertahankan. Karena kelas yang bersih, indah, dan kreatif menghadirkan suasana nyaman saat proses pembelajaran, bukan saja bagi anak-anak, tapi juga bagi gurunya.

Partisipasi dan kreativitas orangtua siswa dalam lomba antar kelas ini patut diacungi jempol. Guru kelas 1A, Hj Darmawati, S.Pd, menyebut peran Bu Aslinda dan Bu Hariyanti, yang mengolah kertas jadi hiasan dekorasi menarik.

Di kelas 2, gurunya, Sasmirawati, S.Pd dan Citra Pratiwi, S.Pd, menjelaskan bahwa mereka mempersiapkan kelasnya selama kurang lebih dua pekan. Hampir setiap hari, nanti menjelang Magrib baru pulang. Di kelas ini juga dipajang karya anak berupa gambar dan karangan di majalah dinding.

“Semua ini dibuat sendiri oleh orang tua karena bukan kreativitas namanya kalau dibeli,” papar Sasmirawati, S.Pd, Wali Kelas 2A.

Di kelas 3 ada pojok.baca dengan konsep taman, sementara di kelas 4, tim penilai disambut dengan prosesi pengguntingan pita. Katanya, pengguntingan pita yang diwakili oleh Babinsa itu sebagai tanda masuk kelas dalam suasana baru.

Read:  Puluhan Pesepeda Jajal Mulusnya Jalan Butta Toa di Malam Hari

Di kelas 4 juga dilakukan pemotongan tumpeng HUT Kemerdekaan RI ke-77 oleh Andi Etty Cahyani. Tumpengnya dari nasi uduk berwarna merah putih, yang warna merahnya berasal dari buah naga.

Lain lagi kreativitas di kelas 5. Di kelas ini, orang tua menggambar pohon yang dipadukan dengan daun-daun artifisial sehingga terlihat hidup. Sementara di kelas 6 orang tua menutupi dinding yang sudah mengelupas dan tidak bisa lagi dicat, dengan memasang wallpaper.

Selain lomba kebersihan kelas, juga diadakan pawai, lomba lari kelereng, makan kerupuk, tarik tambang, dan memasukkan pensil ke dalam botol. Lomba lain yang diadakan adalah lomba membaca puisi, adzan, menyanyi solo, mewarnai, menghapal surat-surat pendek. (*)