Kotak Amal Kardus Swadaya Masyarakat Kampung Jangka Gowa Berhasil Hadirkan Rumah Tahfizh

 

Rumah Tahfizh Hasil Swadaya Masyarakat Kampung Jangka, Kabupaten Gowa.
Pengurus Masjid Nurul Yaqin, Kampung Jangka Kabupaten Gowa (06/07/22).

AMBAE.co.idGowa. Partisipasi dan kepedulian warga dalam bederma begitu besar. Apalagi untuk kepentingan agama, dalam hal ini pembangunan masjid dan rumah tahfizh Al-Qur’an.

Bukti tingginya kepedulian warga dalam menjalankan syiar agama itu, terlihat pada pembangunan Masjid Nurul Yaqin di Kampung Jangka. Tak hanya masjid, warga di Kelurahan Pangkabinanga, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan itu, bahkan membangun sekolah bagi penghafal Al-Qur’an.

“Betul-betul kami ini hanya mengandalkan sumbangan dari para pengendara yang lewat di depan masjid,” ungkap Ketua Yayasan Nurul Yaqin Kampung Jangka, H Adnan Daeng Ngitung.

Lelaki yang berprofesi sebagai guru itu mengapresiasi semangat anak-anak yang rela berpanas-panasan membuka donasi dengan menggunakan kardus. Masjid ini memang berada di Jalan Poros Pallangga, Kampung Jangka, berada tepat setelah Jembatan Kembar bila kita dari arah Kota Makassar.

Berkat kotak amal dari kardus itu, Masjid Nurul Yaqin selesai dibangun hanya dalam tempo 11 bulan dengan dana sebesar 1,8 M. Padahal saat itu masih dalam suasana Pandemi COVID-19. Masjid dibangun di atas tanah seluas 15×30 meter.

“Setelah rampung, warga menjuluki masjid itu sebagai masjid cantik,” tutur Daeng Ngitung, diikuti senyum manis penuh ceria.

Kisah yang dituturkannya itu merupakan succes story pembangunan masjid. Diakui itu karena semua bekerja secara ikhlas, dan tentu saja juga bekerja keras.

Read:  Sertijab Dandim 1410 Bantaeng, Danrem 141 Toddoppuli Imbau Junjung Tinggi Nilai Kebersamaan

Peran Rusly Tompo Daeng Sarro dalam mengkoordinir anak-anak, juga dipuji. Daeng Sarro merupakan Sekretaris Pengurus Masjid Nurul Yaqin. Posisi Ketua dijabat H Danial Daeng Nyikko.

Posisi masjid yang berada tepat di pinggir jalan, seolah jadi rest area. Para pengendara sering singgah untuk shalat, istirahat atau sekadar buang air kecil.

Ada juga yang janjian dan menunggu jemputan disitu. Selain parkiran di depan masjid, juga ada basement yang berfungsi sebagai tempat parkir.

Demi keamanan dan kenyamanan, masjid dilengkapi CCTV dan wifi gratis. Membuat mereka yang datang betah berlama-lama di masjid cantik.

“Memang dibuat kebijakan agar masjid ini leluasa dan mudah jadi tempat beribadah atau singgah beristirahat,” Daeng Ngitung kembali berujar.

Setelah rampung, rupanya dana awal pembangunan masjid sebesar 85 juta Rupiah masih tersisa. Dana ini lalu dimanfaatkan untuk pembebasan lahan sebesar 55 juta Rupiah, guna membangun rumah tahfidz.

Read:  AMCF Bantu Rumah Layak Huni, Daeng Nassa: Tarima Kasi Jai Dudu

Tekad membangun rumah tahfizh itu diakui hanya bermodal keberanian dan keikhlasan. Selain pengurus masjid, juga dibentuk terpisah Yayasan Nurul Yaqin Kampung Jangka.

Tujuannya tak lain untuk mengelola rumah tahfizh. Ketua yayasannya, H Adnan Daeng Ngitung, Sekretaris H Danial Daeng Nyikko, dan Bendahara dijabat Sanusi.

Ide membangun rumah tahfizh ini seiring program Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan. Bupati dua periode itu mencanangkan program satu desa satu penghafal Al-Qur’an.

Karenanya, pengurus mengambil inisiatif mendirikan rumah tahfizh. Dibangun kurang lebih hanya setahun, lagi-lagi Daeng Ngitung menegaskan itu berkat swadaya masyarakat.

Rumah tahfizh dibangun dengan dana lebih 1,2 Milyar Rupiah. Ada jembatan yang menghubungkan masjid dengan rumah tahfizh tersebut.

Read:  Nurdin Abdullah Sebut AM Sukri Sappewali Tinggalkan Banyak Legacy

Setelah dibuka pendaftaran, mulai Juni-Juli 2022, kini rumah tahfizh sudah memiliki 61 siswa. Santri berasal dari Taeng, Bajeng, Pangkabinanga, Kampung Jangka, dan Bonto Kamase.

Rumah tahfizh ini punya 2 jenjang pendidikan, yakni TK/TKA dan Tahfizh Weekend. Sesuai namanya, tahfidz weekend hanya diadakan pada Sabtu-Ahad.

Untuk tahfizh weekend ini, santrinya menginap dan mereka digratiskan selama sebulan. Rencananya, pada bulan Juli ini mulai berbayar tapi hanya untuk kebutuhan makan 2 kali sehari.

Rumah tahfizh itu cukup mencolok, ditandai dengan gedung berlantai 3. Lantai satu untuk TK/TKA, lantai 2 untuk sekolah tahfizh.

Sementara di lantai 3 dimanfaatkan sebagai aula. Fasilitas yang dimiliki antara lain, ruang ber-AC, setiap lantai dilengkapi kamar mandi, juga kamar tidur bagi para santri.

Pengurus kini punya rencana baru, membuka SMP Islam Terpadu untuk menampung siswa yang tidak lulus masuk sekolah negeri. Pengurus optimis karena mereka didukung SDM, para pengajar alumni dari UNM, UIN, dan Al-Birr. (*)