Sandiaga Uno Torehkan Tanda Tangan di Prasasti Desa Wisata Lembang Nonongan

 

Penandatanganan prasasti oleh Sandiaga Salahuddin Uno.
Dari kiri ke kanan, Direktur Poltekpar Makassar, Kadisbudpar Sulsel dan Menparekraf mengunjungi Desa Wisata Lembang Nonongan (22/11/21).

AMBAE.co.idToraja Utara. Sama halnya dengan Desa Wisata Kole Sawangan, Sandiaga Uno yang bertandang ke Desa Wisata Lembang Nonongan menanda tangani prasasti seukuran kurang lebih 1 meter. Disaksikan Bupati Toraja Utara, Yohanis Bassang serta Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), Muhammad Jufri yang didampingi Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata, Bruno S Rantetana dan Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat, M Ibrahim Halim.

Bertuliskan “Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Desa Wisata Lembang Nonongan Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan sebagai 50 desa wisata terbaik, desa wisata Indonesia bangkit, Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 202. Diresmikan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenparekraf/Baparekraf RI), Sandiaga Salahuddin Uno”.

Dapat dimaknai, Desa Wisata Lembang Nonongan resmi tercatat sebagai desa wisata terbaik di Indonesia. Yang mana dalam ADWI 2021, lolos melalui babak 300 besar, 100 besar hingga 50 besar bersama Desa Wisata Kole Sawangan di Kabupaten Tana Toraja dan Desa Wisata Ara di Kabupaten Bulukumba.

Penanda tanganan itu dilakukan Sandiaga Uno tepat di kawasan Desa Wisata (Dewi) Lembang Nonongan yang berlokasi di wilayah administratif Lembang (Desa) Nonongan, Kecamatan Sopai, Kabupaten Toraja Utara (Torut) pada Senin (22/11/21). Sandiaga Uno merealisasikan janjinya untuk mendatangi minimal 50 desa wisata di seluruh Indonesia.

Salah satunya Desa Wisata Lembang Nonongan. Hal itu ditegaskan saat launching program ADWI 2021 di Desa Wisata Rammang-rammang, Kabupaten Maros, Sulsel beberapa waktu lalu.

Sementara Andulan, Balusu, Banteng Mamullu, Benteng Mamullu, Kelurahan Nonongan, Limbong, Pa’palean, Palawa, Panta’nakanlolo, Sangbua, Sesean Matallo, Suloara, Suluora’, Tallunglipu, dan Tikala, merupakan desa wisata lainnya dari Torut yang diikutkan berkompetisi pada ADWI 2021.

Read:  Musda XIII, Muhammad Jufri Apresiasi Sinergitas ASITA Sulsel Untuk Membangkitkan Kepariwisataan Sulsel

Sejak awal, Desa Wisata Lembang Nonongan disebut-sebut berpeluang besar mendapat tempat di hati Tim Juri ADWI 2021. Pasalnya sudah pernah menjuarai BCA Awards sebagai Juara Terbaik Keempat.

Kadisbudpar Sulsel kepada AMBAE menyatakan, dengan peresmian itu tentu saja memberi semangat yang lebih besar lagi kepada segenap Pengelola Desa Wisata dan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) di Desa Wisata Lembang Nonongan. Beragam hal masih perlu dibenahi, namun tidak mesti mengubah struktur maupun tampilannya menjadi moderen.

“Iya, jangan diubah. Misalnya jalanannya yang masih belum beraspal sebagian, kalau bisa seperti itu saja. Ini juga untuk menjaga nilai peradaban yang sudah membumi di tempat ini sejak lama. Kalau Saya wisatawan, ini lebih pas karena masih alami, apalagi kalau wisatawan mancanegara yang datang kesini,” terang Jufri.

Biarlah berproses pada aktivitas keseharian masyarakat setempat sebagai salah satu bentuk atraksi wisata. Ketika wisatawan datang, mereka bisa menginap bersama pemilik homestay, tapi tidak mengganggu kenyamanan selama berada di homestay karena ada syarat bisnis di dalamnya yang mesti dipatuhi kedua pihak.

“Homestay kan bukan membuat baru, apalagi permanen. Wisatawan akan lebih senang jika mereka bisa ikut ke sawah dan mencangkul dengan pemilik homestay,” kata dia.

Kelestarian budaya dan adat istiadat terus dijaga. Meskipun perkembangan teknologi yang begitu pesat telah merambah hingga ke pelosok desa terdalam.

Namun ada nilai yang tidak boleh hilang. Semisal, gotong royong dan rasa saling memiliki sebagai orang Toraja kata Jufri dipupuk dan dikuatkan dengan pencapaian prestasi dari Desa Wisata Lembang Nonongan sebagai satu dari 50 terbaik se-Indonesia.

Read:  Catat Bro! Aliansi Pemuda Ulu Ere Kembali Akan Mengarak 75 Meter Bendera Merah Putih

Hal sama dikatakan Bruno S Rantetana kepada AMBAE, sekaligus sebagai orang berdarah Toraja, jauh sekalipun menetap di Kota Makassar tetap mengedepankan kebersamaan dengan sesama orang Toraja. Lalu menguat dan berkembang dalam prakteknya berinteraksi dengan orang-orang dari suku Makassar, Bugis, Mandar, dan sebagainya.

“Kalau bicara pariwisata, sudah pasti menyentuh aspek wisatawan. Beri pelayanan terbaik kita, Saya yakin orang Toraja tidak kesulitan menerapkan konsep pariwisata karena dalam kesehariannya itu tidak lain interpretasi dari pariwisata yang kita pahami bersama,” imbuhnya.

Sedangkan Sandiaga Uno menyatakan bahwa Toraja yang terkenal dengan kearifan lokalnya dapat kembali dimunculkan dan semakin populer pasca kian melandainya Pandemi COVID-19, utamanya di Sulsel. Toraja tercatat sebagai salah satu destinasi unggulan selain Bali, ditandai tingkat kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik yang tinggi (data sebelum Pandemi COVID-19.

“Dari 70 ribu lebih desa di seluruh Indonesia, Desa Wisata Lembang Nonongan terpilih menjadi 50 desa wisata terbaik. Ini adalah kesempatan kita untuk membangkitkan ekonomi, kembali menjadikan Toraja destinasi unggulan setelah Bali,” tegasnya.

Sandiaga bahkan menyiapkan pantun sebelum menanda tangani prasasti yang diletakkan di antara tongkonan yang berdiri megah di Desa Wisata Lembang Nonongan. Teriakan khas “Cakep” menyambut tiap baris pantun yang disuarakan Sandi.

“Pergi ke danau memancing ikan. Ikannya kenyang, nggak ada yang dapet. Desa Wisata Lembang Nonongan kini jadi andalan. Untuk bangkitkan perekonomian rakyat,” tutur Sandi.

Untuk mendukung pengembangan Desa Wisata Lembang Nonongan, Kemenparekraf/Baparekraf RI kata dia telah menyiapkan pula sejumlah program dan kegiatan. Harapannya dapat disinergikan dengan visi, misi dan juga program yang telah direncanakan Pemkab Toraja Utara.

“Kita sudah menyiapkan beberapa kegiatan dan menyiapkan desa wisata ini agar betul-betul sesuai dengan program pak Bupati yaitu lembang adat. Kita kembali ke kearifan lokal,” bebernya.

Menanam padi, memanen, lalu membawa hasil pertanian ke pasar kata dia adalah Daya Tarik Wisata (DTW) yang dapat mengundang wisatawan berkunjung. Belum lagi produk-produk UMKM bisa dikembangkan agar menambah peluang usaha dan lapangan kerja baru.

“Akan menambah daya tarik jika kita terus berinovasi, beradaptasi dan berkolaborasi,” harapnya.

Berlanjut dengan pantun penutup yang menjadi gaya Sandiaga Uno sebagai salah seorang menteri milenial. Menyesuaikan dengan daerah yang dikunjungi yakni Toraja Utara, dia tak melupakan Lolai ke dalam 4 baris pantunnya.

“Mencari sunrise di Negeri Di Atas Awan. Mencapai lokasi bersama teman-teman. Jika mencari desa wisata berkelanjutan. Desa Lembang Nonongan yang jadi pilihan,” tutup Sandi.

Pada kesempatan itu pula Sandiaga Uno masih melanjutkan, bahwa pihaknya akan menghadirkan fasilitas kategori CHSE. Mengingat Desa Wisata Lembang Nonongan masih memanfaatkan fasilitas manual nan tradisional, yang mana telah dicoba langsung Mas Menteri.

“Bukan hanya, Saya menyampaikan dengan berbangga hati bahwa pak Ari dari Indekscom akan melakukan pendampingan program konsultasi,” tambah Sandi.

Kemenparekraf/Baparekraf RI siap memenuhi permintaan warga dan pemerintah setempat agar dapat mensupport pelatihan dan pendampingan. Targetnya, Desa Wisata Lembang Nonongan dapat berkelanjutan, bangkit dari desa wisata rintisan saat ini menuju desa wisata maju dan mandiri di masa mendatang. (*)