Disbudpar Sulsel Targetkan 240 Pelajar Kunjungi Museum Karaeng Pattingalloang

 

Gerakan Nasional Cinta Museum.
Pelajar SMP Negeri 4 Makassar tiba di Museum Karaeng Pattingalloang di Benteng Somba Opu, Gowa (15/11/21).

AMBAE.co.idGowa. Seiring dibukanya akses untuk berkunjung ke destinasi wisata, Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan (Disbudpar Sulsel) terus berakselerasi untuk memikat orang-orang mengunjungi destinasi wisata yang ada. Tak hanya destinasi wisata yang lebih mengedepankan rekreasi, tapi juga yang berorientasi pada pendidikan.

Seperti halnya museum dan juga situs cagar budaya, kawasan cagar budaya beserta benda cagar budaya yang ada di dalamnya. Pada pekan ketiga dan keempat November 2021, Disbudpar Sulsel melalui Bidang Sejarah dan Cagar Budaya menggelar kegiatan “Belajar Bersama di Museum Karaeng Pattingalloang“.

Museum itu berlokasi di Benteng Somba Opu, Kabupaten Gowa. Juga menjadi lokasi berkantor bagi jajaran UPT (Unit Pelaksana Teknis) Taman Budaya Benteng Somba Opu yang ada di bawah koordinasi Disbudpar Sulsel.

Sebanyak 240 pelajar dijadwalkan akan mengikuti kegiatan itu. Di mana akan dilangsungkan selama 6 hari berturut-turut.

“Hari ini kegiatan Belajar Bersama di Museum Karaeng Pattingalloang. 40 orang adalah siswa/siswi SMP Negeri 4 Makassar, ditambah 2 orang Guru Pendamping,” jelas Purmawati selaku Kepala Seksi Museum dan Cagar Budaya (Kasi MCB), Senin (15/11/21).

Setiap hari diagendakan 1 sekolah setingkat SMP dan/atau SMA/SMK. Dengan kapasitas peserta dibatasi hingga 40 orang pelajar untuk memenuhi penerapan protokol kesehatan berstandar COVID-19 serta didampingi 2 orang guru.

Pukul 08:00 WITA, pelajar dan gurunya dijemput di sekolah oleh panitia menggunakan 2 unit bus. Lalu akan dipulangkan ke sekolah bersangkutan pukul 14:00 WITA.

Read:  Ketua Dewan Masjid Indonesia di Bantaeng Membuka Musyawarah Jama'ah Masjid Jami' Muhajirin Be'lang

Pur, sapaan Kasi MCB menambahkan, sejak bertolak menuju Benteng Somba Opu hingga kembali ke sekolah, tetap menerapkan protokol COVID-19. Adapun ruang belajar yang digunakan adalah Baruga Karaeng Pattinglloang.

“Besok itu SMP 5 Makassar, tanggal 17 SMK 1 Makassar, terus di tanggal 18 SMP 23 Makassar, tanggal 19 SMK 7 Makassar, dan berakhir di hari Kamis nanti tanggal 25 November 2021 SMA Negeri 8 Makassar,” terangnya.

Lanjut dikatakan, pihaknya telah menyiapkan Narasumber berpengalaman di bidang museum. Sebanyak 3 Narasumber, masing-masing Ilham Junaid, Dosen Poltekpar Makassar akan mengisi hari pertama hari ini dan hari kelima.

Berikutnya, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar, Khadijah Thahir Muda akan tampil memaparkan materinya di hari kedua dan ketiga. Sedangkan hari keempat dan keenam bakal ditangani oleh Andini Perdana dari BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Provinsi Sulsel.

“Kita berharap masyarakat, utamanya anak-anak kita semakin cinta museum, rajin mengunjungi museum. Lalu menimba banyak manfaat dari kunjungannya, anak-anak kita ini bisa menambah wawasan dan pengetahuan tentang peradaban masa lalu,” pungkasnya.

Kegiatan itu dibuka secara resmi Muhammad Jufri selaku Kadisbudpar Sulsel. Disebutnya bahwa dengan belajar bersama para pelajar hingga 5 hari ke depan, serta merta membantu menggairahkan kepariwisataan dan juga kebudayaan.

Adalah dua sektor saling terkait yang diunggulkan Pemerintah Provinsi Sulsel melalui Visi Misi Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel Periode 2018-2023 yang kemudian dituangkan ke dalam RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) 2018-2023.

Read:  Songsong Event Desember, DisBudPar SulSel Utus Jajarannya ke KemenParEkRaf

Kebudayaan oleh Jufri tidak bisa terlepas sebagai unsur yang mendukung kepariwisataan. Dengan mengunjungi sebuah destinasi, salah satu daya tariknya berupa budaya yang akan memanjakan pelancong maupun wisatawan, baik lokal, domestik, maupun mancanegara.

Budaya tidak hanya benda-benda bersejarah yang tersimpan dalam ruangan yang disebut museum. Namun museum itu sendiri dengan segala reliefnya serta lingkungan sekitarnya juga menjadi obyek kunjungan.

Karenanya, Jufri mengajak pelajar pada khususnya untuk lebih aktif ke lokasi museum. Dari tempat itu kata dia, bisa saja lahir inspirasi untuk mencipta sesuatu yang lebih baru dan terbarukan.

“Bisa jadi hanya karena memandangi bangunan museum ini, anak-anak kita para siswa dan siswi yang kesini bisa menemukan ide untuk membangun gedung yang tahan dengan ragam kondisi cuaca. Lihat saja bangunan yang dibangun pendahulu kita, dengan struktur dan bahan baku seperti ini, siapa bisa menyangka sampai hari ini Alhamdulillah tetap berdiri megah, kuat menampung puluhan sampai ratusan orang,” tegas Kadis yang akrab disapa Prof Jufri.

Point-nya disitu kata dia, bahwa masyarakat memposisikan diri sebagai subyek wisata. Tatkala bertandang ke sebuah destinasi wisata akan banyak melahirkan gagasan baru untuk mencipta inovasi.

“Apalagi ini kan museum, di sekitarnya adalah kawasan Benteng Somba Opu. Berjaya di masa lalu sebagai wilayah pertahanan di era Kerajaan Gowa. Banyak belajar, Inshaa Allah banyak ilmu pengetahuan akan terserap,” sebutnya.

Menyoal upayanya menggairahkan kepariwisataan, Jufri berdalih meski belum lama menjabat sebagai Kadisbudpar Sulsel berbagai langkah percepatan ditempuhnya. Di sisi promosi, bersama jajarannya gencar menggandeng media elektronik, media mainstream, dan mengoptimalkan media sosial.

Read:  Ketua Dekranasda SulSel Support UKM Seni Tari Unhas Melalui A Night with the Glory of Sutera

Event-event wisata berbalut seni, budaya, olah raga, kuliner, mode, dan pendidikan mulai dibangkitkan pasca PPKM (Pembatasan Pemberlakuan Kegiatan Masyarakat) kian melunak. Event terbesar beberapa waktu lalu yakni Sulsel Great Sale 2021, terbaru pada 11 hingga 14 November 2021 adalah Jelajah Pesona Sulawesi 2021 yang menjajal rute gowes (bersepeda) dari Kota Makassar menuju Toraja (Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara).

“Kegiatan kita hari ini juga untuk meningkatkan kualitas dari Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM). Kita juga mendorong terciptanya digitalisasi museum,” tutur Jufri.

Hal itu dilakukan untuk menyikapi rendahnya pemahaman terhadap museum. Ditandai menurunnya tingkat kunjungan ke museum, selain karena museum seakan mulai ditinggalkan generasi muda, juga untuk mengikuti perkembangan zaman yang sarat akan penggunaan teknologi pada semua lini kehidupan.

“Anak-anak muda atau biasa disebut milenial ini toh lebih banyak bermain dengan ponselnya yang pintar. Nah, kita mau agar yang menggunakan ponsel itu, pintar juga, paham apa itu museum, tahu dan kenal benda-benda bersejarah yang tersimpan di museum, kita menuju digitalisasi museum,” tutupnya.

Pada kesempatan itu pula Jufri membangun interaksi layaknya guru dengan para pelajar. Beberapa siswa/siswi berdiri di hadapan pelajar lainnya menceritakan pengalamannya mengunjungi Museum Karaeng Pattingalloang dan manfaat yang telah diraihnya. (*)