Perkuat Data Koleksi Museum Karaeng Pattingalloang, DisBudPar SulSel Gelar FGD Sehari

Pembukaan FGD Inventarisasi Koleksi Museum.
Berdiri kedua dari kanan, Denny Irawan Saardi menyanyikan lagu Indonesia Raya pada Pembukaan FGD Inventarisasi Koleksi Museum Karaeng Pattingalloang (26/08/20).

AMBAE.co.id – Makassar. Bersama para Pengelola Museum yang ada di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan (SulSel), Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (DisBudPar) Provinsi SulSel melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) selama sehari, Rabu (26/08/20). Tepatnya di Grand Asia Hotel di Jalan Boulevard Raya Nomor 10, Kelurahan Masale, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar.

Pengelola Museum yang hadir di antaranya dari Museum La Galigo, Museum Kota Makassar, Museum Naval Lantamal VI Makassar, Museum Balla Lompoa Gowa dan sejumlah Pemerhati Museum. Turut hadir pula dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) SulSel serta Balai Arkeologi pada Bidang Budaya.

Kepala Bidang Sejarah dan Cagar Budaya, H Muh Saleh melaporkan jika kegiatan itu ditujukan untuk melengkapi data koleksi Museum Karaeng Pattingalloang. Sekaligus menjadi bahan informasi bagi pengunjung.

“FGD hari ini bertujuan untuk memberikan identitas tiap koleksi museum dan memudahkan pengelolaan di museum serta memudahkan pelayanan publik. Dengan pertemuan ini kita harapkan sebagai upaya melengkapi data koleksi museum, khususnya Museum Karaeng Pattingalloang”, jelasnya.

Ditambahkan bahwa FGD selama sehari itu, fokus membahas koleksi numismatika atau mata uang. Saat ini terdapat 536 buah koleksi mata uang di museum tersebut, baik uang ketas maupun logam.

“Dari 536 buah, hasil penggalian Benteng Somba Opu tahun 2019, 100 buah koleksi sudah teregistrasi dan terinventarisasi. Begitu juga hasil penggalian tahun 2020 sebanyak 100 numismatika, mata uang kertas dan logam telah teregistrasi dan terinventarisasi”, terang Saleh.

Menyikapi itu, Kepala DisBudPar SulSel, Denny Irawan Saardi menegaskan, museum seharusnya intens melakukan registrasi dan inventarisasi terhadap seluruh koleksinya. Dengan begitu, tidak akan terjadi ketimpangan yang memungkinkan hilangnya koleksi karena dianggap tidak dikelola museum.

“Tentu kita berharap dengan FGD ini, kita jadikan momentum untuk menumbuhkan, menjaga kelestarian museum khususnya terjaganya koleksi. Salah satu caranya, semua koleksi kita registrasi dan inventarisasi agar aman dan terjaga”, tutur dia.

Menyinggung optimalisasi museum, baik dari sisi pemanfaatan maupun pengelolaan, Denny minta agar kembali digalakkan Asosiasi Pengelola Museum. Sehingga akan terjalin sinergitas antar Pengelola Museum serta masing-masing koleksi yang dikelola.

“Mudah-mudahan saja banyak masukan, informasi untuk melengkapi data terkait koleksi yang ada. Asosiasi Pengelola Museum, penting untuk kembali digalakkan, supaya ada sinergitas”, pungkasnya.

Menurutnya, koleksi tiap museum tentu berbeda-beda. Karenanya sistem informasi dan registrasi yang berbasis teknologi amat dibutuhkan di tengah era yang serba cepat atau dikenal dengan era industri 4.0. (*)

Read:  DPRD Luwu Sambangi DisBudPar SulSel Minta Dukungan Pengembangan Pariwisata