Untung Terus Mengalir Berkah Berqurban, Tahun 2020 Nurdin Sembelih 4 Ekor Sapi

Qurban dan makan sate di rumah H Nurdin Daeng Nguntung.
Sate dengan porsi jumbo dibakar di tungku yang ada di Kediaman H Nurdin Daeng Nguntung (31/07/20).

AMBAE.co.id – Bantaeng. Moment berharga sekaligus berberkah, khususnya bagi umat Islam tidak dilewatkan begitu saja bagi H Nurdin Daeng Nguntung yakni berqurban. Adalah Tokoh Masyarakat yang juga dikenal sebagai Penjagal senior di Kabupaten Bantaeng.

Tahun 2020 ini, dia menyembelih 4 ekor sapi, meski lebih sedikit dibanding tahun 2019 yang mencapai 27 ekor. Nurdin berdalih karena dampak pandemi COVID-19 yang telah mempengaruhi sendi-sendi perekonomian.

“Sebenarnya kurang, tahun lalu itu ada 27 ekor. Sekarang cuma 4 ekor ji (saja), mungkin gara-gara corona mi na begini kehidupanga (kehidupan)”, ungkap Nurdin kepada AMBAE, Senin (03/08/20).

Keempat hewan qurban disembelih di halaman belakang rumahnya di Lingkungan Lantebung, Kelurahan Letta, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng pada Jum’at (31/07/20). Lokasi penyembelihan yang relatif tersembunyi, namun sebagian masyarakat Bantaeng mengetahui koordinatnya.

Diketahui, Nurdin berqurban setiap tahunnya. Di samping itu dia juga memfasilitasi masyarakat yang ingin berqurban dengan metode menggabung diri hingga cukup 7 orang untuk tiap ekor sapi.

“Bisa ji juga kalau mau ki qurban toh, tapi tidak cukup uang untuk 1 ekor, gabung maki dengan orang lain. 1 ekor sapi bisa 7 orang, atau ada keluarga ta, bisa tahun depan”, terangnya dengan logat yang begitu kental dengan Bahasa Makassar.

Sapi dibeli sesuai kecukupan calon Shohibul Qurban. Selanjutnya para Shohibul Qurban membayar dengan harga relatif murah.

Read:  Video: 150 Sapi Qurban Dompet Dhuafa Diresmikan Gubernur SulSel

Nurdin hanya menyisihkan 500 ribu Rupiah sebagai keuntungan dari pembelian, jika pun masih kurang dia siapkan dana pribadinya. Nilai itu kemudian disiapkan untuk memenuhi biaya operasional.

Di antaranya sewa transportasi saat sapi diangkut dari pemilik. Termasuk biaya makan minum para pembantu atau asisten penjagal serta pengantar daging qurban ke rumah Shohibul Qurban.

Sedangkan untuk menggaji asisten penjagal, Nurdin menggantinya dengan daging qurban yang memang diqurbankannya secara pribadi. Hal itu membuat Nurdin amat dikenal hingga saat ini, terlebih karena pembagian daging yang benar-benar merata, adil dan menyerahkan semua yang menjadi milik orang.

“Saya siapkan daging untuk pasissili’ (orang yang menguliti hewan). Ditambah jatah dari tiap-tiap sapi yang dia potong (sembelih)”, ujarnya.

Prosesi berqurban di rumah Nurdin terbilang unik. Selalu diramaikan masyarakat yang membakar atau memanggang sate sapi.

Mulai kalangan anak-anak hingga remaja, dewasa dan tua. Tungku api khusus yang hanya dinyalakan sekali setahun menjadi saksi bisu sate gratis dalam porsi jumbo.

“Kalau mau sate-sate (makan-makan sate), bisa ji (boleh saja). Asal bikin sendiri tusuk sate, ada bambu tinggal dibelah-belah”, tandasnya.

Lanjut ditegaskan, daging sapi yang menjadi jatah dirinya sendiri sebagai Shohibul Qurban tidak disimpan begitu saja dan dikonsumsi bersama keluarganya. Melainkan diwakafkan untuk mereka yang ingin makan sate.

Read:  Litbang Bappeda Lanjut Utak-atik Panduan Program Unggulan Bupati Bantaeng

Betapa tidak, daging hingga tulang selalu tersedia setiap hari di rumahnya, sehingga sudah lumrah baginya. Bahkan dalam sehari, membagikannya ke sejumlah keluarga dan tetangganya.

Pasalnya Nurdin telah melakoni penjagalan hewan sejak usia muda. Profesi yang diturunkan dari Ayahnya yang juga penjagal senior bahkan satu-satunya di eranya yakni Burhan Daeng Sitaba.

Terkait pembagian daging qurban yang menjadi milik Shohibul Qurban yang bergabung di tempatnya, diserahkan sendiri kepada mereka. Daging qurban cukup diantarkan dari Kediaman Nurdin ke rumah Shohibul Qurban, ada pula yang menjemput langsung.

Untuk melayani tetamu para Shohibul Qurban serta tetangga yang menikmati sate, Nurdin didukung sang Isteri, Hj Harlina Daeng Tonji. Mulai menyiapkan prasarana pemotongan hewan sehari sebelumnya hingga menyajikan makanan dan minuman alakadarnya.

“Alhamdulillah, senang juga karena tiap tahun selalu ramai ini rumah. Kalau kue-kue, Saya dan anak Saya, biasanya bikin lebih banyak kue daripada lebaran Idul Fitri”, pungkasnya.

Kepada AMBAE, Lina dan Nurdin meyakini jika rezeki yang diberikan Allah Swt kepadanya bukan miliknya semata. Harus dibagi sebagian, apalagi kata Lina jika memang sudah memenuhi syarat mampu lahir dan bathin.

“Kalau mampu, ini harus dilaksanakan. Agama kan bilang Sunnah Muakkad, kalau bisa tiap tahun, Inshaa Allah reseki bertambah, usaha selalu untung dan berkah”, tutur dia.

Ditambahkan Isteri Nurdin, Ayah 5 anak itu juga dipercayakan menyembelih hewan qurban dari Dompet Dhuafa. Sebagai informasi, Dompet Dhuafa berqurban 150 ekor sapi di tahun 2020.

Read:  Waspada Penyakit Pasca Banjir Bantaeng, Dompet Dhuafa Fasilitasi Pemeriksaan Kesehatan Gratis

Seorang warga yang datang serta berharap mendapat daging qurban mengatakan jika dirinya selalu mendapat bagian tiap tahunnya. Adalah warga dari Kelurahan tetangga yang mengaku punya penilaian tersendiri terhadap kepedulian sosial Nurdin kepada orang lain.

“Alhamdulillah pak, setiap tahun Saya dapat daging qurban dari Daeng Nguntung. Kalau kejujurannya, orang baru atau anak baru itu kalau tidak kenal Daeng Nguntung, mulai Tettana (Bapaknya), dia ji (hanya dia) papolong (penjagal) di Bantaeng”, kata dia. (*)