Terdampak COVID-19, Komunitas Sopir Conebo Malah Berbagi Takjil

Sopir berbagi takjil.
Sopir Komunitas Conebo Bagi-bagi Takjil di Ruas Jalan Raya Lanto Bantaeng (10/05/20).

AMBAE.co.id – Bantaeng. Puluhan sopir yang beraktifitas di Kabupaten Bantaeng berbagi takjil pada Minggu sore (10/05/20). Sejumlah ruas jalan di daerah berjuluk Butta Toa (Tanah Tua) disasar sebagai lokasi kegiatan.

Para sopir mobil dinas Pemkab Bantaeng yang tergabung dalam komunitas Conebo itu menamainya dengan “Peduli Sesama Untuk Kebaikan”. Digawangi Darwianto selaku Koordinator, sopir yang juga terdampak COVID-19 itu menjadikan moment bulan suci Ramadhan 1441 H untuk bersedekah.

“Kita bagikan takjil hanya kepada Tukang Becak dan Penyapu Jalan yang kita temui di jalan. Mereka lebih membutuhkan dibanding kami”, tegas Darwianto.

Takjil itu berupa es buah sebanyak 80 gelas dan beragam jenis. Darwianto mengaku kue dan es buah tersebut sangat cocok disantap saa berbuka puasa.

Read:  Bantaeng Masih Zona Hijau COVID-19, Gubernur SulSel Apresiasi Bupati

Terlebih kata dia, Tukang Becak harus melepas penat setelah kerja seharian. Sedangkan Penyapu Jalan baru saja menyelesaikan tugasnya untuk sesi kedua sore itu, yang mana sesi pertama dilaksanakan saat pagi pada tiap ruas jalan berbeda.

“Alhamdulillah kita bisa berbagi, semoga berberkah dan penuh manfaat untuk Saudara-saudara kita. Mudah-mudahan yang lain terpanggil melakukan hal sama, jangan menunggu bantuan”, tuturnya.

Kegiatan itu dimanfaatkan Komunitas Conebo untuk semakin mempererat tali persaudaraan dan silaturahmi. Diketahui, para sopir tersebut menggantungkan hidupnya dari gaji bulanan dengan besaran berbeda, sementara ada anggota keluarga di rumah yang wajib dinafkahinya.

Read:  Sejumlah Jurnalis Jadi Korban Kekerasan Aparat Kepolisian

Pembagian takjil itu sentak mendapat apresiasi seorang warga Bantaeng. Adalah Issack yang akrab disapa Papua, menyampaikan bahwa apa yang dilakukan sopir-sopir itu patut diacungi jempol.

“Saya salut dengan teman-teman. Sopir saja berbagi takjil, kenapa tidak orang-orang mampu menyisihkan sebagian rezekinya menyantuni masyarakat yang kena dampak COVID-19”, pungkasnya.

Belum tuntas pandemi ini kata Issack, masyarakat memasuki bulan suci Ramadhan. Tentu dengan kebutuhan sehari-hari yang relatif meningkat karena harus menyiapkan menu sahur dan berbuka puasa.

“Bikin Saya heran, kalau ada orang yang mampu tapi menunggu datangnya BLT (Bantuan Langsung Tunai) atau bantuan sembako dari Pemerintah. Apa tidak malu?”, ujarnya.

Kecuali kata Papua, mereka yang benar-benar dinyatakan orang miskin dan rentan miskin. Tercatat namanya di Daftar Penerima BLT maupun bantuan lainnya, maka pantaslah menunggu dan juga diberi bantuan. (*)

Read:  Ketua PKK SulSel: Per Hari Kita Bagi 37500 Nasi Dus Untuk 15 Kecamatan di Makassar