Daripada Beli Ventilator, Pemprov SulSel Pilih Gunakan Hotel Mengkarantina Pasien COVID-19

Pasien COVID-19 dihotelkan.
Gubernur SulSel di Hotel Almadera Makassar (04/05/20).

AMBAE.co.id – Makassar. Keberhasilan menangani virus corona bergantung beragam hal. Bagi warga terdampak COVID-19, Pemerintah bersama swasta terus menyalurkan sembako dan peralatan medis.

Sementara untuk penanganan pasien, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Pemprov SulSel) menginisiasi penyediaan hotel representatif bagi para ODP (Orang Dalam Pemantauan), PDP (Pasien Dalam Pengawasan) dan OTG (Orang Tanpa Gejala).

Hotel Swiss-Belinn Makassar menjadi salah satu yang disiapkan Pemprov guna menampung pasien COVID-19. Pemprov menyebutnya Rekreasi Duta COVID-19.

HM Nurdin Abdullah selaku Gubernur SulSel mengatakan, dibanding membeli ventilator yang harganya mencapai 1 Milyar Rupiah setiap unitnya, maka lebih baik menyediakan tempat karantina dengan fasilitas yang nyaman.

“Lebih baik kita siapkan tempat nyaman di hotel untuk ODP, PDP dan OTG. Daripada kita beli ventilator, harganya 1 Milyar, itu untuk 1 unit saja”, tegasnya saat mengunjungi Hotel Almadera Makassar, Senin (04/05/20).

Dengan begitu, pasien dapat menjalani karantina minimal 14 hari sesuai masa inkubasi virus corona. Dampak positifnya, pasien tidak kemana-mana karena berada di satu tempat yang diawasi ketat.

“Dari situ, pasien jalani karantina 14 hari agar kembali negatif. Nanti kalau sudah keluar imunnya sudah kebal”, jelas Nurdin Abdullah.

Keyakinannya diperkuat dengan sejumlah dukungan yang diberikan kepada pasien selama karantina. Di samping fasilitas standar hotel berbintang, pasien diberi asupan gizi seimbang.

“Terima kasih Ibu Ketua PKK SulSel karena membantu menyediakan makanan bergizi dan seimbang untuk Saudara-saudara kita yang diinapkan di hotel. Jadi Ibu Gubernur itu memesan khusus lewat catering”, tutur dia.

Adapun fasilitas di hotel yang bisa digunakan pasien yakni ranjang dan kasur yang nyaman, ditambah menu makanan bergizi dari PKK SulSel. Termasuk akses Wi-Fi dengan kapasitas bandwidth besar dan kecepatan akses yang kencang.

“Mereka bisa bawa laptop, jadi selama karantina bisa bekerja karena ada Wi-Fi yang kuat. Ada juga TV, tempat tidurnya bagus dan makanan catering khusus yang enak dan bergizi”, urai Gubernur SulSel.

Sehingga potensi kesembuhan pasien sangat tinggi. Inovasi Pemprov SulSel itu diklaim Nurdin Abdullah akan mampu mempercepat penanganan bagi mereka yang memang terkena virus ataupun kemungkinan terinfeksi.

Read:  Pertamina Serahkan CSR 3,7 M, Liestiaty F Nurdin: Ini Untuk UMKM

Program wisata 14 hari itu mulai menunjukkan hasil. Dilansir Pemprov SulSel, saat ini SulSel menempati posisi kedua setelah DKI Jakarta, tingkat kesembuhan pasien terbanyak di Indonesia.

Pasien sembuh dari SulSel sebanyak 200 orang, sementara DKI Jakarta sebanyak 562 orang. Diikuti 147 orang di Jawa Barat, 171 orang di Jawa Timur dan 112 orang sembuh di Jawa Tengah.

Read:  APINDO Bantu 1000 APD dan Sembako Untuk Mengatasi Dampak COVID-19

Nurdin Abdullah mengaku capaian itu karena kolaborasi Pemprov SulSel dengan TNI, POLRI serta elemen masyarakat baik itu Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh Pemuda, Tokoh Perempuan dan unsur lainnya.

“Ini buah kerja keras bersama hingga kesembuhan terus meningkat. Kita berharap pandemi segera berakhir dan semua kembali normal”.

Sementara itu, Hj Liestiaty F Nurdin selaku Ketua PKK SulSel yang dikonfirmasi AMBAE menyebutkan bahwa pihaknya menginisiasi makanan catering karena melihat potensi menurunnya imun tidak terlepas dari ketersediaan menu bergizi dan seimbang.

“Makanannya kita pesan lewat catering. Kita awasi dan kita tentukan menunya agar gizinya seimbang sesuai standar Isi Piringku”, pungkasnya.

Isi Piringku jadi rujukan dasar PKK SulSel sesuai yang ditetapkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI).

Read:  Tingkatkan Kemandirian Pangan, PKK SulSel Siapkan Lahan Eduwisata Hortikultura

Di dalamnya ada makanan pokok, lauk pauk, sayuran, buah dan air putih. Selain itu, pasien harus rajin berolah raga serta mencuci tangan dengan sabun.

Untuk komposisi kata Lies, ada ketentuannya, tidak berlebihan tapi tetap tercukupi akan kebutuhan kalori, vitamin, kalsium dan unsur lainnya. Dia berharap agar pasien, usai dikarantina bisa menerapkan pola hidup sama dengan menggalakkan GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) dikehidupan sehari-hari. (*)