Gegara Olimpiade Bahasa Arab, Deisy Ratnasari Disorot Media Lokal Hingga Nasional

Deisy dari Bantaeng yang viral karena akan mengikuti Olimpiade Nasional Bahasa Arab.
Awak Media Kementerian PPPA RI sedang mewawancarai Deisy Ratnasari (07/11/19).

AMBAE.co.id – Bantaeng. Awak Media terus memburu Deisy Ratnasari, siswi Kelas XI IPA 2 SMA Negeri 4 Bantaeng yang akan mengikuti Olimpiade Nasional Bahasa Arab ke-3 Tingkat Nasional Tahun 2019 pada tanggal 10-12 November 2019.

Muncul di sebuah acara bertajuk Outdoor Classroom Day (OCD) Tahun 2019 yang dipusatkan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bantaeng pada Kamis pagi (07/11/19), dia pun dicecar beberapa pertanyaan dari beberapa Awak Media yang sedianya meliput kegiatan OCD.

Read:  Kemdikbud RI Visitasi SD 5 Lembang Cina, Hartati: Semoga Juara

Deisy saat itu baru saja menggelar audience singkat dengan Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Sulawesi Selatan (SulSel), H Andi Asri Sahrun. Salah satu pertanyaan yang muncul “Seberapa jauh persiapan adik menghadapi lomba di Jakarta?”.

“Saya tetap semangat, malah bertambah lagi semangat Saya untuk ikut lomba yang awalnya memang sempat jatuh semangat karena faktor ekonomi. Beberapa bantuan sudah Saya terima, teman-temanku juga begitu dan tim kami”, ungkapnya.

Ditegaskan bahwa perjuangan masih panjang dan akan dilaluinya dengan bekal awal niat yang tulus. Dirinya juga tidak melupakan Allah Swt dengan berdo’a dan memohon petunjuk-NYA.

“Tetap berusaha dan juga berdo’a bersama teman. Yang Saya yakini selalu ada jalan, apalagi dibantu banyak orang”, ujar dia.

Deisy akan menuju nasional setelah dinyatakan lolos pada seleksi Olimpiade Nasional Bahasa Arab Tingkat Provinsi SulSel. Tak hanya dirinya, 2 rekannya bernama Azzahra Nandameilani (Zahra) dan Rezandis (Andis) juga akan menemaninya sebagai peserta.

Read:  Wabup Bantaeng Optimis Perubahan APBD 2019 Mampu Maksimalkan PAD

Dikesempatan pagi itu, Deisy juga diwawancarai salah satu Awak Media nasional dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KPPPA RI). Deisy menyebutnya sebagai peluang untuk belajar berhadapan dengan layar kaca di tengah banyaknya orang yang menyaksikan wawancara ekslusif itu. (*)