Pemkab-PKK Bantaeng Latih Ibu-ibu Bikin Kue Kering Berbahan Tasabbe

Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal diikuti 25 Ibu-ibu se-Kabupaten Bantaeng.
Ketua PKK Bantaeng menghadiri pembukaan Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal di Dinas Ketahanan Pangan Bantaeng (25/03/2019).

AMBAE.co.id – Bantaeng. Sebanyak 25 orang dari kalangan Ibu-ibu mengikuti Pelatihan Pengolahan Pangan Lokal yang dilaksanakan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bantaeng bekerja sama Tim Penggerak PKK Kabupaten Bantaeng, Senin (25/03/19).

Mereka adalah kader Tim Penggerak PKK (TP PKK) Kabupaten Bantaeng ditambah Anggota Kelompok Wanita dari Desa Mappilawing, Desa Bonto Tiro, Desa Rappoa, Desa Pattallassang dan Komunitas Petani Perempuan SPA Butta Toa.

Sementara narasumber dilaporkan oleh Asniati Ninra selaku Kabid Konsumsi dan Keamanan Pangan Asniati Ninra adalah Owner OPI Cookies yang sudah lama bergelut dalam bisnis olahan pangan.

“Ibu Vera Elvira Yusuf akan menjadi berbagi bersama kita selama 2 hari tanggal 25-26 Maret 2019”, jelasnya.

Kegiatan yang berlangsung di Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bantaeng itu dibuka secara resmi Sekretaris Daerah Kabupaten Bantaeng, Abdul Wahab yang mewakili Bupati Bantaeng. Dikatakan bahwa kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sangat ditentukan kualitas gizi yang sangat baik.

Read:  Breaking News: Isteri Mantan Wabup Bantaeng Tutup Usia

Penganekaragaman pangan dan konsumsi pangan merupakan salah satu upaya menghasilkan kualitas SDM. Untuk itu perlu ditunjang ketersediaan pangan lokal yang mencukupi dengan kualitas yang baik.

“Kegiatan seperti ini harus terus digalakkan dan dioptimalkan untuk menghadirkan hasil olahan pangan lokal yang dibranding sebagai olahan pangan lokal khas hasil Bantaeng”, harap Sekda Bantaeng.

Pada kesempatan sama, Ketua TP PKK Kabupaten Bantaeng, Hj Sri Dewi Yanti berharap muncul produk khas Bantaeng dari hasil olahan pangan lokal karena Bantaeng diyakininya punya segalanya ditinjau dari komoditi yang ada.

“Selama ini Sulbar yang bikin tepung ganyong padahal ganyong itu ada di Bantaeng”, tuturnya.

Sri menerangkan jika kue kering berbahan ganyong sifatnya cepat lumer di mulut. Jadi orang tua yang terkendala dengan giginya bisa mengkonsumsi kue kering ganyong.

Read:  Siapkan Diri, Liestiaty F Nurdin Kembali Kirim Guru PAUD se-SulSel Magang ke Jepang

Bahkan kata dia ganyong oleh orang Bantaeng menyebutnya “Tasabbe” yang dijadikan terigu sangat bagus dikonsumsi bagi anak autis ataupun orang yang alergi mengkonsumsi terigu biasa.

“Saya harap supaya kita di Bantaeng bisa memiliki ciri khas jualan kue dari pangan lokal seperti gangong, selai buah naga dan selai labu kuning”, pungkasnya. (*)