Nurlinda dan Muhammad Haris Sepakat Mengembalikan Eksistensi Penutur Jati Bantaeng

 

Tujuan Gebyar Bulan Bahasa di SDN 7 Letta Bantaeng.
Laporan Panitia Gebyar Bulan Bahasa tahun 2022 SDN 7 Letta Bantaeng, disampaikan Nurlinda di atas podium (19/11/2022).

AMBAE.co.idBantaeng. Seorang Guru yang juga Wali Kelas VIA SD Negeri 7 Letta, Kabupaten Bantaeng, Nurlinda SPd MM menekankan pentingnya untuk membiasakan berbahasa daerah. Hal itu disampaikan secara gamblang tatkala dirinya membeberkan informasi kegiatan Gebyar Bulan Bahasa tahun 2022 SD Negeri 7 Letta, pada Sabtu, 19 November 2022.

Dalam laporannya selaku Ketua Panitia, menyebutkan bahwa Bahasa Daerah Makassar adalah penanda sebagai orang dari Suku Makassar. Karenanya, bahasa Ibu ini tidak selayaknya dilupakan, hanya karena berebut tempat pada dimensi millenium yang serba berkemajuan.

“Kita adakan Gebyar Bulan Bahasa ini, supaya semakin menguatkan upaya kita untuk melestarikan bahasa daerah di Sulawesi Selatan. Terutama ya, Bahasa Makassar karena bahasa ini dominan digunakan oleh masyarakat Bantaeng,” ujar Nurlinda SPd MM.

Sulawesi Selatan kata Linda, sapaan akrab Guru Kelas VIA ini, tersebar beragam bahasa, yang populer diantaranya yakni Bahasa Makassar, Bahasa Bugis, Bahasa Toraja, dan Bahasa Mandar. Namun masih ada bahasa yang juga dipakai berkomunikasi masyarakat, seperti Bahasa Konjo, Mansenrengpulu, Wotu, Bugis De, Bajo, Lemolang, Bonerate, Seko, Rampi, dan Laiyolo yang mana total tercatat 14 bahasa daerah.

“Tentu jadi penanda yang mencirikan masyarakat Sulawesi Selatan. Ada Bahasa Makassar, Bugis, Toraja, Mandar, dan masih banyak lagi yang tersebar di Provinsi Sulawesi Selatan yang kita cintai bersama ini,” tuturnya.

Linda menyayangkan, bahasa Ibu yang mengantarkan Indonesia layak menyandang ke-Bhinnekaan ini, dari waktu ke waktu semakin ditinggalkan. Terkesan kian meredup, bahkan dalam prakteknya, muncul sikap malu, enggan, dan juga merasa rugi jika berbahasa Makassar.

“Ini pula yang menjadi alasan dan tujuan gelaran Gebyar Bulan Bahasa di sekolah kami. Tak lain untuk memperkuat jati diri sebagai masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya masyarakat Bantaeng. Senantiasa kita, anak-anak kita, dan orang si sekitar kita menghargai serta mengaplikasikan bahasa makassar dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Tujuan Gebyar Bulan Bahasa di SDN 7 Letta Bantaeng.
Kadisdikbud Bantaeng membuka Gebyar Bulan Bahas SDN 7 Letta Bantaeng tahun 2022 (19/11/2022).

Lantas, Gebyar Bulan Bahasa tahun 2022 SD Negeri 7 Letta menggelar lomba hingga Selasa, 22 November 2022. Satu lomba yang menarik perhatian yakni Lomba Membaca Lancar yang bertautan langsung dengan gerakan membudayakan berbahasa serta berkomunikasi yang baik dan benar.

Read:  Tim Juri ADWI 2022 Tiba di Desa Wisata Campaga Jelang Kunjungan Menparekraf

Lomba lainnya yang diharapkan bisa memicu animo orang tua atau parenting untuk berpartisipasi berupa Lomba Fashion Show dan Lomba Baca Puisi, masing-masing akan diikuti oleh anak dan Ibu parenting. Lomba lainnya yakni Lomba Memasak, utamanya masakan khas Sulawesi Selatan dan juga Lomba Mewarnai Gambar.

“Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan budaya, salah satunya adalah bahasa. Ribuan bahasa daerah menjadikan kita berbeda dari mayoritas negara lainnya di dunia. Hebatnya, perbedaan itu disatukan dengan Bahasa Indonesia,” terang Linda.

Malah kata dia, bahasa mendapat tempat khusus dalam UUD 1945. Termaktub dalam Pasal 32, ayat 2, dimana negara menghormati dan menghargai bahasa-bahasa daerah sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Linda mengajak masyarakat Bantaeng, membiasakan berbahasa Makassar pada khususnya sejak dini, karena tidak ada sesuatu yang terlambat jika kita berani mengaplikasikannya.

Read:  Terima Kopi Micro di Sulsel Great Sale 2021, Prof Jufri: Ekonomi Kreatif Berkorelasi Kepariwisataan

Tidak berbeda dengan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Bantaeng, Drs Muhammad Haris MSi yang hadir membuka Gebyar Bulan Bahasa di SD Negeri 7 Letta. Dikatakan bahwa hilangnya bahasa Ibu di permukaan bumi gegara para Penutur Jati sudah tidak lagi menggunakan bahasa Ibu, baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan kerja, maupun kehidupan bermasyarakat.

“Jarang kita menggunakan bahasa Bantaeng, yang kita gunakan di rumah adalah Bahasa Indonesia. Akibatnya, jati diri bangsa yang tertuang di dalam bahasa kita, itu hilang di permukaan bumi,” pungkasnya.

Serupa dialami masyarakat di belahan bumi lainnya. Menurutnya, fenomena ini bisa mempengaruhi karakter, cara bersikap, dan berinteraksi yang kesemuanya mengarah pada sektor kebudayaan.

“UNESCO atau United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization melansir dalam sebuah lansirannya, bahwa 712 bahasa sudah hilang di permukaan bumi,” kata Haris.

Tujuan Gebyar Bulan Bahasa di SDN 7 Letta Bantaeng.
Gebyar Bulan Bahas diikuti seluruh siswa/siswi dan Parenting Hebat SDN 7 Letta Bantaeng (19/11/2022).

Bahasa Makassar sendiri yang digunakan di wilayah Kabupaten Bantaeng dikenal dengan dialeg khusus yakni Dialek Bantaeng. Penggunaanya meliputi sebagian wilayah Kabupaten Jeneponto di sisi Timur dan Utara, atau dengan kata lain diapit Dialeg Turatea di Jeneponto dan Bahasa Konjo maupun Bahasa Bugis di Kabupaten Bulukumba, serta Dialeg Makassar di perbatasan Kabupaten Gowa yang juga masih bagian dari Bahasa Makassar.

“Sebagai contoh: inne gitte tutoayya niaka ri tampaka inne (Indonesia: kita ini para orang tua yang ada di tempat ini), angre’mo atau kurang mi menggunakan bahasa ta (Indonesia: tidak ada lagi, atau sudah kurang yang menggunakan bahasa kita/bahasa Ibu), bahasa tu bantaenga ri balla (Indonesia: bahasa orang Bantaeng di rumah), passangngalinna Bahasa Indonesia mami (Indonesia: melainkan hanya Bahasa Indonesia). Tabe’ orang tua hebat (Indonesia: permisi/maaf, para orang tua hebat), begitu barangkali,” tambahnya, mencontohkan tutur Dialeg Bantaeng dari mulutnya, dialeg yang kental dengan nada datar dibanding dialeg lainnya.

Lanjut Haris, kata jatuh dalam Bahasa Makassar, Dialeg Bantaeng diterjemahkan sebagai “tantang”. Sekaligus menjadi kata baku untuk orang Bantaeng, sedangkan kata tidak bakunya, diantaranya tu’guru, dappe’, mattung.

“Tu bantaeng tidak ada (kata) ‘tena’ (berarti: tidak/tidak ada). Tapi, yang ada (adalah) anre’. Ini kemudian yang perlu dikembangkan, dikembalikan, karena ini ciri Bantaeng kita,” imbuhnya.

Kadisdikbud Bantaeng itu mengajak Kepala Sekolah lainnya di Bantaeng agar bisa mengikuti terobosan SD Negeri 7 Letta. Pasalnya, sejauh ini yang sudah memasuki Triwulan ke-4 tahun 2022, serta telah jauh melewati puncak peringatan Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda ke-94, baru SD Negeri 7 Letta yang berhasil menyelenggarakan Gebyar Bulan Bahasa.

“Saya sangat berharap kegiatan ini, kegiatan Gebyar Bulan Bahasa ini akan dilanjutkan di tahun-tahun yang akan datang dan diikuti, bukan hanya oleh 150 SD, tetapi juga pada tingkat SD, SLTP dengan TK. Sehingga budaya kita, kearifan lokal kita dapat terjaga sampai di akhir zaman,” tutup Haris sebelum melepas pawai yang diikuti siswa/siswi, Guru, Tenaga Kependidikan, dan orang tua Parenting Hebat SD Negeri 7 Letta. (*)