Disporapar Tanbu Kalsel Belajar Geopark ke Sulsel

 

Rombongan Disporapar Tanah Bumbu mengunjungi Sulsel.
Muhammad Jufri (baju putih di tengah) bersama rombongan Disporapar Tanah Bumbu (15/12/21).

AMBAE.co.idMakassar. Menyambangi Gedung MULO, tempat berkantornya Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan (Disbudpar Sulsel), Rabu (15/12/21), Hamaluddin Tahir selaku Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan (Disporapar Tanbu Kalsel) mengungkapkan akan mempelajari pengembangan Geopark Nasional Maros-Pangkep (GNMP).

“Kami sampaikan, maksud kedatangan kami dalam rangka untuk belajar banyak, belajar dari dekat tentang pengembangan geopark yang ada di Sulawesi Selatan,” ungkap Hamaluddin.

Dia yang mengikutsertakan tujuh orang itu disambut baik Kadisbudpar Sulsel, Muhammad Jufri. Penerimaan dilakukan di Ruang Rapat Disbudpar Sulsel yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 23, Kelurahan Mangkura, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar.

Mendampingi diantaranya General Manager (General Manager) Badan Pengelola (BP) GNMP, Dedy Irfan, Kepala Bidang Sejarah dan Cagar Budaya, Andi Hasnul Hasanuddin, dan Kepala Seksi Museum dan Cagar Budaya, Purmawati. Hamaluddin menambahkan jika dirinya mendapat kehormatan dan kebanggaan tersendiri karena dapat dipertemukan dan berinteraksi langsung dengan GM BP-GNMP.

Untuk Geopark Meratus di Kalsel, dirinya belum mengetahui pasti jika ada juga Badan Pengelola seperti Geopark Maros-Pangkep yang kini bahkan sudah berstatus national geopark. Pasalnya selama ini, hanya jajaran Dinas Pariwisata Kalsel yang kerap berkunjung ke Tanbu.

“Karena Saya buta, apakah ada pengelola terbentuk di Kalimantan Selatan atau belum, karena koordinasi kami jarang. Yang sering datang ke Tanah Bumbu hanya Dinas Pariwisata-nya, tapi berupa Badan Pengelola itu belum ada,” jelasnya.

Menambah semangat Hamaluddin untuk memaparkan hasil kunjungan hari ini ke Pemerintah Provinsi Kalsel. Bahwa Sulsel yang memiliki kawasan geopark di dua Kabupaten yakni Maros dan Pangkep telah dilengkapi dan didukung penuh dengan Badan Pengelola yang bertanggung jawab langsung terhadap pengelolaan, upaya pengembangan, pelestarian, dan perlindungan.

Read:  Tari Pepe'-pepe' Binaan Disbudpar SulSel Pukau Pengunjung TIF 2019

Diperkuat dengan Tim Ahli dari sejumlah Perguruan Tinggi seperti Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar. Tim itu berisikan para ahli geologi dan arkeologi.

Hamaluddin menambahkan, Tanah Bumbu atau Tanbul merupakan salah satu daerah dalam kawasan Geopark Meratus. Sementara pengelolaannya, berada pada ranah Provinsi Kalsel.

“Ada 7 Kabupaten/Kota yang masuk kawasan Geopark Meratus ini, dan mungkin memang ada tujuh, maka dipusatkan di provinsi. Sehingga gambaran-gambaran secara detail kami di kabupaten tidak begitu jelas karena terpusatnya di provinsi,” tandasnya.

Satu hal menarik dari Geopark Meratus, bahkan diklaim tidak dimiliki daerah lainnya di Indonesia adalah keberadaan plagiogranite. Ditemukan di kawasan Pegunungan Meratus, di Geopoint Gunung Besar, tepatnya di Desa Batu Besar, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanah Bumbu.

Plagiogranite itu kata Hamaluddin juga ditemukan di Perancis dan Yunani. Karenanya disebut batuan langka di dunia, bahkan alat berat berupa exxa tidak mampu menghancurkannya.

“Kemarin kami menemukan jenis bebatuan yang berlevel internasional di Tanah Bumbu. Hanya ada tiga di dunia, salah satunya di Indonesia, tempatnya di Kabupaten Tanah Bumbu,” ujar dia.

Lantas batuan itu diunggulkan untuk mengusulkan Geopark Meratus menjadi UNESCO Global Geopark (UGG). Betapa tidak, Hamaluddin menuturkan jika batuan plagiogranite di Tanbu berusia sekira 70 ribu tahun.

“Kurang lebih 70 ribu tahun lalu muncul dari dasar laut. Kalau gua-gua yang selama ini menjadi geopark nasional diyakini hanya pendamping,” pungkasnya.

Keunikan lainnya dari Geopark Meratus, bahwa pada kawasan itu menyimpan flora, fauna, biodiversitas, serta kebudayaan dari Suku Dayak. Segala potensi itu menjadi pendukung agar Geopark Meratus dapat naik status ke UGG.

Seperti halnya Geopark Nasional Maros-Pangkep yang disebut-sebut berpeluang besar mendapat predikat sebagai warisan dunia dengan status UGG kelak. Yang mana menyimpan keunikan tersendiri dari kars yang dimiliki GNMP, membentang luas dari daratan hingga kepulauan spermonde yang ada di Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep (Pangkajene dan Kepulauan).

Read:  Buka Event Vespa, Bupati Bantaeng Berharap Scooterist Jadi Messenger

Kara tersebut telah diteliti dan dicatatkan terluas kedua di dunia. Podium pertama dipegang kars yang ada di Guangzhou, China.

Dedy dalam penjelasannya menegaskan bahwa peran Badan Pengelola Geopark Nasional Maros-Pangkep sangatlah penting. Sosialisasi misalnya, telah merambah hingga masyarakat, begitupun pengelola maupun pelaku pariwisata setempat.

“Mereka yang punya perahu di Rammang-rammang, Maros bisa bercerita ‘ini batuan sudah 50 ribu tahun’, ‘gua ini ditempati burung elang’ dan sebagainya. Semua butuh proses, tapi sebaiknya kita sosialisasikan karena ini penting,” bebernya.

Di samping itu, melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, Pelaku Industri Pariwisata, Pelaku Industri Kreatif, Perbankan hingga komunitas-komunitas yang ada di masyarakat. Seluk beluk mengenai GNMP dirangkum ke dalam sebuah buku panduan.

Lantas peran pemerintah pada tataran pengambilan kebijakan juga tak kalah pentingnya. Berjenjang sejak digagas 2015 silam, Geopark Maros-Pangkep ditetapkan sebagai geopark nasional sejak tahun 2017.

Berlanjut dengan pengusulan Pemerintah Provinsi Sulsel kepada pusat. Diikuti usulan Pemerintah Republik Indonesia kepada UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization).

Oktober lalu, telah melalui Virtual Assessment dari UNESCO melalui perwakilannya yang ada di Paris, Perancis. Dedy mengatakan, awal tahun 2022 nanti, assessment secara langsung akan dilaksanakan sebagai bentuk kemajuan dari upaya meloloskan GNMP menjadi UGG.

“Mudah-mudahan kita masuk UNESCO Global Geopark. Jadi nanti akan turun Tim Asesor dari UNESCO ke Geopark Nasional Maros-Pangkep,” tutur Dedy.

Sedangkan Jufri kepada AMBAE, menyampaikan, pertemuan dua pemilik kepentingan terkait geopark tersebut sebagai langkah besar untuk memajukan Indonesia pada umumnya agar terus mendapat pengakuan dunia internasional.

Read:  NA Kunjungi Danau Matano, KadisBudPar SulSel: Potensi Wisata Luar Biasa

Dia mengingatkan pernyaatan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenparekraf/Baparekraf RI), Sandiaga Salahuddin Uno yang senantiasa menekankan kolaboratif, inovatif dan adaptif.

“Hakikinya kita bukan mengajar, hanya membagikan tiap informasi yang kita punya dari apa yang sudah kita lakukan untuk mengembangkan Geopark Nasional Maros-Pangkep. Bagaimana ini dicatatkan nantinya menjadi UNESCO Global Geopark Maros-Pangkep, begitu juga Saya kira untuk Geopark Meratus yang sebagian kawasannya ada di Kabupaten Tanah Bumbu,” kata Jufri yang menyandang gelar Professor.

Kolaborasi yang ditunjukkan Disbudpar Sulsel kata dia, jelas mampu meringankan beban dan tanggung jawab yang berat tatkala hanya ditangani satu pihak semata. Pelibatan komunitas dan tokoh-tokoh masyarakat menjadi prioritas lainnya, sehingga perjuangan panjang sejak 2015 dapat membuahkan hasil luar biasa hingga kini.

“Saya lihat langsung pada saat virtual assessment kemarin, semua bergerak dengan tugas dan fungsinya tanpa mengedepankan ego-sectoral. Hari ini kita kedatangan tamu terhormat dari Tanah Bumbu, Saya yakini ini juga bagian dari kolaborasi yang harus kita jaga dan kuatkan,” kunci dia.

Disebutkan pula bahwa GNMP tak hanya memiliki Badan Pengelola secara struktural kepengurusan. Namun memiliki pusat informasi yang kaya akan data geologi di Pangkep serta semacam museum mini mengenai geosite yang ditempatkan di Maros.

Bagi Jufri dan Dedy, kedua tempat itu tidak boleh dilewatkan saat kunjungan lapangan rombongan Disporapar Tanbu. Terlebih sebagian besar gua dalam kawasan GNMP tidak dibuka secara umum untuk kebutuhan pariwisata, melainkan hanya untuk konservasi.

Itupun tidak diperkenankan memasuki area gua. Hanya sampai mulut gua untuk menjaga ekosistem dan kondisi situs seperti lukisan tertua di dunia yang juga ditemukan di kawasan itu. (*)