Mahasiwa Bikin Konten Video Lewat Lomba Storyline Museum Karaeng Pattingalloang

 

Penutupan Lomba Alur Kisah Benteng Somba Opu.
Muhammad Jufri (kiri) menyerahkan piala kepada Juara Lomba Storyline Musuem Karaeng Pattingalloang (30/11/21).

AMBAE.co.idGowa. Museum Karaeng Pattingalloang kembali diramaikan mahasiswa sejumlah perguruan tinggi di Kota Makassar. Berasal dari Universitas Hasanuddin (UNHAS), Universitas Negeri Makassar (UNM), Universitas Muslim Indonesia (UMI), Universitas Islam Negeri Alauddin (UIN Alauddin), Universitas Muhamamdiyah (UNISMUH), Universitas DIPA (UNDIPA), dan Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Makassar.

Mencapai 54 orang mahasiswa, panitia membaginya menjadi 18 group, merata 3 orang tiap groupnya sejak Technical Meeting pada 18 November lalu di Baruga Benteng Somba Opu. Sementara lomba digelar Senin, 29 November 2021 di Ruang Rapat Disbudpar Sulsel di Gedung MULO, Kota Makassar.

Hari ini, Selasa, 30 November, Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan (Disbudpar Sulsel), Muhammad Jufri menutup Lomba Storyline sekaligus menyerahkan hadiah kepada para pemenang. Kepada peserta menyampaikan selamat, dan bagi mereka yang belum berkesempatan meraih juara, Jufri meminta agar tidak menjadikannya sebagai kegagalan penuh.

“Selamat ya, mudah-mudahan lebih semangat lagi memacu prestasi ke depan. Adik-adik sekalian yang mungkin saat ini belum beruntung, Saya harapkan ini banyak hikmah bisa diambil sebagai pelajaran, berbenah dan kembali lagi di event lomba berikutnya. Ini hanya persoalan waktu dan kesempatan, karena pasti ada yang menang dan belum menang,” pungkasnya saat berbicara di Baruga Benteng Somba Opu, di Jalan Abdul Kadir, Kelurahan Benteng Somba Opu, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, Selasa (30/11/21).

Hal penting yang patut diingat, dipahami, dan dijadikan acuan bagi peserta, terlebih adalah para mahasiswa dan mahasiswi, museum bukanlah tempat yang tabu untuk dikunjungi. Namun, disinilah tempatnya untuk belajar mengenal dan mengenang sejarah masa lalu.

Read:  Sendal Etnik Mulai Masuk Claro-Remcy, Ketua Dekranasda SulSel: Hotel Lain Menyusul

Melekat kenangan atas kejayaan Kerajaan Gowa-Tallo. Kemudian menjadi pedoman dalam mengembangkan dan memajukan era saat ini yang serba digital.

“Konten video yang sudah kita buat pastinya menjadi media promosi bersama untuk mengenalkan Museum Karaeng Pattingalloang lebih luas lagi kepada wisatawan dan masyarakat pada umumnya. Itu berarti kita semua sudah menjadi pemenang karena mampu memberi andil terhadap pelestarian dan perlindungan cagar budaya dengan segala koleksi di dalamya,” ujarnya.

Lomba itu menurut Jufri langkah besar untuk mengenalkan Museum Karaeng Pattingalloang sebagai salah satu museum yang ada di bawah pengelolaan Disbudpar Sulsel. Menyimpan koleksi benda-benda bersejarah hasil eskavasi peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo.

“Dengan berkunjung ke Museum Karaeng Pattingalloang, lalu kemarin sudah melalui penilaian lomba, sejatinya kita turut menyukseskan program Gerakan Nasional Cinta Museum,” kata Jufri.

Gerakan Nasional Cinta Museum atau GNCM mendorong masyarakat termasuk di dalamnya mahasiswa dan pelajar untuk tidak meninggalkan museum. Meski dewasa ini, kalangan milenial cenderung dekat dengan gadget sebagai dampak kemajuan teknologi yang begitu pesat.

“Museum bisa membangkitkan inspirasi dan motivasi kita menuju masa depan lebih cerah. Tentu berangkatnya dari masa lalu hingga tiba di era sekarang, bagaimana anak bangsa, orang tua kita, leluhur kita rupanya berhasil membuat bangsa dan negara kita dikenal luas ke luar negeri, padahal teknologi masih sangat sederhana kala itu,” imbuhnya.

Apalagi dengan era industri 4.0, kenapa tidak level target keberhasilannya dinaikkan lagi. Hanya saja, tidak boleh kebablasan dengan hanya mengambil pandangan era milenium tanpa mengkaji apa yang positif untuk dijadikan ide dan gagasan dari pengalaman masa lalu.

“Kita tahu bersama, oleh pemerintah, museum adalah pranata sosial yang selanjutnya menjadi media edukatif,” terangnya.

Kepala Seksi Museum dan Cagar Budaya, pada Bidang Sejarah dan Cagar Budaya, Disbudpar Sulsel, Purmawati yang dikonfirmasi AMBAE menyampaikan bahwa Lomba Storyline atau Lomba Alur Kisah itu ditujukan untuk meningkatkan kunjungan ke museum.

Read:  Luar Biasa, Cuma 1 Karya Budaya Sulsel Tidak Lolos Warisan Budaya Tak Benda Tahun Ini

Disamping menargetkan adanya peningkatan pemahaman terhadap museum, utamanya kalangan milenial sebagai generasi pelanjut. Purmawati juga membeberkan, hingga kini kunjungan ke museum masih minim.

“Minat masyarakat ke museum, lebih khusus ke Museum Karaeng Pattingalloang ini masih kurang. Kita di Disbudpar Sulsel melaksanakan beberapa kegiatan untuk memacu naiknya tingkat kunjungan di masa mendatang,” jelas dia.

Lomba yang mengusung tema “Alur Kisah Koleksi Museum Karaeng Pattingalloang” itu mengahdirkan tiga narasumber untuk memberi bimbingan kepada mahasiswa/mahasiswi. Masing-masing Ilham Junaid selaku Dosen Poltekpar Makassar, Andini Perdana dari BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Sulsel, dan Erwin Mansyur selaku Dosen Fakultas Ilmu Budaya UNHAS Makassar. (*)