Duo Petinggi Disbudpar Sulsel Populerkan Wisata Edukasi Museum

 

Pameran Temporer Museum.
Kadisbudpar (kedua dari kanan) dan Sekretaris Disbudpar Sulsel (kanan) menjelajahi Museum La Galigo (02/11/21).

AMBAE.co.idMakassar. Siang yang cerah hingga menjelang petang, Muhammad Jufri bersama Kemal Redindo Syahrul Putra menjelajahi Benteng Fort Rotterdam. Sebuah kawasan berupa bangunan sejarah nasional yang di dalamnya terdapat beberapa gedung dan benda-benda bersejarah masa lalu.

Hampir tiap sudut benteng didatangi, dilihat, dan dijelajahi. Sesekali berhenti, menyimak penjelasan staf UPT (Unit Pelaksana Teknis) Museum dan Taman Budaya.

Lanjut lagi memasuki bagian dalam bangunan yang dulunya digunakan kolonial Belanda sebagai benteng pertahanan. Salah satunya Museum La Galigo yang terletak di sisi Utara dan Selatan.

Di sisi Selatan berjejer bukti peradaban masa lalu mulai zaman paleolitik neolitik, paleometalik, mezolitik, megalitik, perundagian hingga zaman kolonial, sebagian ditempatkan dalam showcase berbahan kaca. Sedangkan di sisi Utara dapat disaksikan sejumlah pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia termasuk pakaian khas Makassar, Bugis, dan Toraja.

Di Museum ini pula berlangsung Pameran Temporer Dalam Daerah Wawasan Nusantara sejak tanggal 1 hingga 6 November mendatang. Mengusung tema “Bersama Kita Lestarikan Budaya, untuk Indonesia Maju, Indonesia Bangkit”, pameran secara virtual itu cukup menarik perhatian masyarakat.

Read:  Disbudpar SulSel Meriahkan Pembukaan Toraja International Festival 2019

Seperti disampaikan Nur Fardiansyah Bur, Host virtual via Zoom Cloud Meeting yang juga disiarkan melalui YouTube Channel. Tatkala mencegat Muhammad Jufri selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Kemal Redindo Syahrul Putra selaku Sekretaris Disbudpar Sulsel.

“Kunjungan melalui acara virtual ini pak lebih banyak dari kalangan siswa dan mahasiswa,” kata Fardiansyah kepada Jufri, Selasa (02/11/21).

Untuk diketahui bersama, Museum La Galigo dalam kawasan Benteng Fort Rotterdam itu berada di Jalan Ujung Pandang Nomor 1, Bulo Gading, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar. Jika dilihat jadi udara, benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallu yang dulunya bernama Benteng Jum Pandang atau Benteng Ujung Pandang itu menyerupai penyu, menurut catatan dibangun tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung. (Wikipedia)

Jufri yang ditanya Host dalam sesi LIVE virtual berharap agar pelaksanaan pameran baik daring maupun luring pasca Pandemi COVID-19 kelak, dapat lebih ditingkatkan promosinya ataupun sosialisasinya. Pada prakteknya mampu memberikan informasi lebih awal akan adanya pameran serta seperti apa metodenya, konsep acaranya dan bagaimana caranya bergabung atau berkunjung.

“Promosinya, sosialisasinya diperluas lagi, lebih lama lagi waktu promosinya, apalagi kita punya Duta Museum, bisa membantu menyebarluaskan informasi ini. Kalau ini dilakukan, mungkin akan lebih banyak yang akan menyaksikan,” pinta Jufri yang bergelar Professor.

Selama kegiatan, pengunjung diberikan kuesioner agar didapatkan masukan, saran, dan mungkin keritikan yang bisa dijadikan bahan pertimbangan.

“Supaya lebih banyak menyentuh anak-anak kita di semua jenjang pendidikan. Ke depan dapat kita buat hal lebih maju lagi, kita tidak boleh diam, pasif, hanya mengandalkan pengunjung datang,” imbuhnya.

Pasalnya, kunjungan fisik masih dibatasi dan virtual saat ini sudah menjadi tren yang lebih cocok untuk secara optimal mematuhi penerapan protokol kesehatan tanpa kerumunan yang berarti. Anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua mesti mengetahui lebih dalam, kemudian memahami dan menjadikan benda-benda yang tersimoan di museum sebagai pedoman melangkah ke masa depan.

Read:  Musda XIII, Muhammad Jufri Apresiasi Sinergitas ASITA Sulsel Untuk Membangkitkan Kepariwisataan Sulsel

Proyeksi keberhasilan era moderen tidak terlepas dari pesatnya kemajuan peradaban masa lalu. Jufri mencontohkan, teknik dan peralatan bercocok tanam saja, jutaan tahun silam sudah sedemikian hebatnya dan berhasil diadopsi dengan teknologi canggih.

Dia menyebutkan, jelajah Benteng Fort Rotterdam yang dilakukannya di sela-sela kesibukannya bukan tanpa alasan. Selain ingin mengetahui seluk-beluk satu dari 17 benteng yang dibangun Kerajaan Gowa serta dibangun ulang oleh Speelman itu. Museum harus lebih digaungkan dan diperkenalkan untuk sebagai salah satu destinasi wisata berbalut edukasi.

“Mereka (generasi muda pada khususnya) tidak boleh diajuhkan dari memahami apa yang menjadi nilai2-nilai luhur, nilai-nilai warisan yang disimpankan kepada kita. Harus dikenali dan di-internalisasi menjadi bagian karakter kita sebagai orang Makassar, Bugis, Toraja, Mandar dari apa yang ditampilkan di pameran ini dan museum ini sendiri,” tegas Prof Jufri.

Dua hari sebelumnya, Jufri bahkan menantang UPT Museum dan Taman Budaya untuk melakukan pendekatan digital terhadap museum. Bahwa pengunjung bisa saja tidak datang secara fisik, kalaupun offline atau luring, informasi museum sudah tersaji dalam bentuk yang disukai milenial yakni aplikasi seluler berbasis Android atau iOS. (*)