Ada 4 C di Workshop Desain Produk

 

Perhelatan Workshop Desain Produk Disbudpar Sulsel.
Kepala Disbudpar Sulsel saat membuka secara resmi Workshop Desain Produk (29/10/21).

AMBAE.co.idMakassar. Muhammad Jufri atau biasa disapa Prof Jufri kembali menantang kaum milenial untuk menjadi pengusaha sukses. Era industri 4.0 yang sarat akan teknologi saat ini dibutuhkan strategi jitu.

Jufri menyampaikan 4 point penting yang mesti dimiliki seorang pengusaha, utamanya mereka yang baru akan memulai usaha, masih benih, dan juga pasca-benih. Hal itu wajib di tengah merebaknya ragam usaha yang umumnya telah memanfaatkan dunia online.

“Kita harus jadi sosok dengan kemampuan 4 C. Pertama itu critical thinking, lalu collaboration, creativity, dan c yang keempat yaitu communication skill,” sebut Jufri di Golden Tulip Hotel, Kota Makassar, Jum’at (29/10/21).

Saat itu dia dimandat membuka secara resmi Workshop Desain Produk yang mengusung tema “Milenial Dalam Disrupsi Digitalisasi Produk Kreatif”. Diawali dengan sambutan dan dilanjutkan pemukulan gendang.

Adapun 4 C yang dikemukakan Jufri sejalan dengan target pengembangan industri kreatif untuk menyokong sektor kepariwisataan. Bahwa industri kreatif menjadi harapan untuk membangkitkan kembali kepariwisataan pasca dihempas Pandemi COVID-19.

“Salah satu yang kita harapkan ikut menggairahkan kepariwisataan di Sulawesi Selatan adalah industri kreatif. Didalamnya itu ada produk-produk yang didesain mengikuti selera pasar karena wisatawan yang kita tunggu kedatangannya ke Sulawesi Selatan itu juga (sebagian) tergolong milenial,” terang dia.

Critical thinking diposisikan pada point pertama kata Jufri karena kalangan milenial kerap diidentikkan dengan jiwa kritis dan selalu menginginkan adanya perubahan. Jadi penting untuk berpikir positif ketimbang larut dengan hal-hal yang arahnya kurang bermanfaat atau justru bisa merugikan, baik dari sisi waktu, kesempatan maupun peluang untuk maju satu tingkat lebih tinggi.

“Ciri orang dengan kemampuan berpikir kritis, dia selalu berusaha menganalisis tren-tren yang berkembang. Ini akan mempengaruhi desain dan kualitas produk yang dihasilkan,” jelasnya.

C yang kedua yakni collaboration atau kolaborasi. Jufri memberi gambaran bagaimana masa depan dipenuhi orang-orang hebat bukan karena berdiri, bekerja, dan hidup dalam aktivitas yang mengandalkan diri sendiri, namun berbekal kerja sama yang saling menguntungkan dalam ranah bisnis hingga profit.

“Orang hebat di masa depan itu mampu membangun kolaborasi tanpa sekat-sekat yang sempit. Nah, Saya berharap setelah workshop ini, teman-teman bisa mendapatkan informasi yang lain, bisa berkomunikasi dengan para pendesain produk, perancang produk bukan hanya yang ada di Sulawesi tetapi di kota-kota lain,” harapnya.

Sebagai contoh, di Jogja ada Dagadu Djokdja. Ketika orang menyebut Joger, sudah pasti Bali, dan Bandung sendiri terkenal dengan Mahanagari. Kaos khas dari daerah lainnya seperti Unchal dari Bogor, Sasaku dari Lombok, Gagut dengan kaos Jelajah Garut.

Read:  Mantasia Optimis Menangi Pemilihan Puteri Pariwisata Bantaeng 2019

Era disrupsi menantang milenial saat ini untuk tampil sebagai pemenang. Betapa tidak, tatanan lama yang serba manual dan konvensional telah direnggut dengan kemunculan telnologi berbasis Android dan iOS, pada kennyataannya telah merambah hingga dapur dan kamar yang sangat privat sekalipun.

“Yang penting sekali itu C yang ketiga, yaitu creativity. Orang harus kreatif, bicara kreativitas tidak bisa dipastikan dimana tempatnya bisa kita dapat itu inspirasinya,” ujarnya.

Ide yang cemerlang jarang muncul dan ditemukan di dalam ruang kelas. Malah seringnya datang begitu saja saat sedang bercengkerama dan menikmati indahnya alam pegunungan, Jufri juga menyebutnya tatkala berada di tempat rekreasi, ide itu bisa muncul dan umumnya spektakuler.

“Menurut Saya, jarang itu orang-orang hebat menemukan ide-ide hebatnya di perpustakaan. Kebanyakan saat istirahat di bawah pohon, mungkin duduk-duduk di Pantai Losari, tiba-tiba muncul idenya yang aneh-aneh gitu ya,” tuturnya.

Kreatif dalam pandangan Professor itu harus berbeda dari biasanya. Pengambilan gambar berupa foto atau video yang profesional pun membutuhkan ide, konsep, metode, serta cara-cara ekstrim untuk menghasilkan karya luar biasa yang mampu menghipnotis penikmatnya seolah sedang berada dan merasakan sensasi dalam gambar itu.

“Different make it different, perbedaan itu akan selalu menghasilkan sesuatu yang beda, dia tidak ingin selalu ada samanya. Itulah orang kreatif, untuk mendesain produk yang wah (luar biasa), idenya itu tentunya sangat hebat, unik, dan dapatnya dengan cara yang tidak biasa-biasa saja,” paparnya.

Point keempat dari 4 C adalah communication skill. Bagaimana seorang pelaku industri mampu memasarkan produknya baik berupa barang atau jasa, mampu diterima dan digunakan pelanggan karena ada komunikasi dua arah yang baik, sejalan, serta memenuhi target pasar.

Read:  Tempuh 9 Jam, Jajaran DisBudPar SulSel Penuhi Undangan Palopo Art Festival

Pemilihan dan penggunaan bahasa dan komunikasi juga patut menjadi perhatian. Sesuaikan dengan siapa dan bagaimana, indikator usia, serta variabel-variabel lainnya.

“Produk-produk yang kita hasilkan hanya akan sampai ke pasar kalau kita punya teknik komunikasi yang hebat.

Setiap variabel itu kemudian telah tersaji dalam fitur “Insight” yang ditawarkan sosial media ataupun website, termasuk yang sudah berbasis aplikasi dan e-commerce website.

Read:  KOMPAK: SiADeK Untuk 10 Desa, Akhir 2021 Kita Mau Menyebar ke 67 Desa dan Kelurahan

Sementara untuk pemasaran sendiri, Jufri menekankan 4W-1H. Pertama “Who”, siapa saja target dari produk yang dihasilkan.

Berikutnya “Where”, ini menyesuaikan lokasi dari customer, ruang lingkup pemasaran produk, dan usaha itu. Lalu “What”, desain untuk target milenial sudah seharusnya dibedakan dengan desain yang ditargetkan bagi kalangan dewasa dan orang tua.

“W keempat ‘Who’, mengapa mereka tergantung atau senang dengan produk kita, jadi ada loyality customer karena dia senang. Kita rela antri mendapatkan kaos yang dihasilkan Joger padahal di Bali saja banyak kompetitornya,” tegasnya.

Terakhir ada “How”, untuk mengakomodir selera pasar dan menyesuikan targetnya, dibutuhkan teknik dan metode yang tidak biasa agar mampu bersaing sehat dengan pesaing tanpa melibasnya dengan cara-cara tidak beretika. Karena itu, workshop yang diprakarsai Bidang Kesenian dan Ekonomi Kreatif Disbudpar Sulsel menghadirkan 4 narasumber handal di bidangnya.

“Narasumber kita yang hebat-hebat ini akan memberikan pemaparan materi selama dua hari. Pelaksanaan workshop ini, peserta sebanyak 50 orang mendapatkan fasilitas menginap dan seminar kit,” ungkap Kepala Bidang Kesenian dan Ekonomi Kreatif, Sri Rejeki.

Akbar Zakaria memaparkan materi “Label dan packaging produk”, lanjut materi “Pranata hukum dalam produk ekraf (Sistematika HKI terhadap produk ekraf) oleh Azlan Thamrin pada Jum’at malam.

Materi ketiga di hari kedua Sabtu pagi, 30 Oktober 2021 oleh Muh Yusuf Darmawan yakni “Promosi Lewat Digital”. Adapun Lutfi Sanjaya dengan materi “Sistem pemasaran dan marketplace produk kreatif” mengakhiri Workshop Desain Produk. (*)