Gubernur SulSel Shalati Jenazah Korban Banjir Bantaeng

Shalat jenazah korban banjir Bantaeng.
Gubernur SulSel (kiri) bersama Imam Shalat jenazah terhadap korban banjir Bantaeng (13/06/20).

AMBAE.co.id – Bantaeng. Banjir yang melanda Kabupaten Bantaeng pada Jum’at malam (12/06/20) membuat Gubernur Sulawesi Selatan (SulSel), HM Nurdin Abdullah terpanggil untuk datang melihat langsung dampak yang ditimbulkan.

Dirinya bersama rombongan tiba di Bantaeng, Sabtu siang (13/06/20) dan meninjau beberapa titik di 2 kecamatan yakni Kecamatan Bissappu dan Kecamatan Bantaeng. Termasuk melayat salah seorang korban banjir yakni Almarhum Haerul Fatta Ampa (12).

Dia turut menshalati jenazah bersama beberapa jama’ah. Dan kepada keluarga korban, memberi semangat usai memanjatkan do’a dalam shalatnya.

“Inshaa Allah Almarhum diterima di sisi Allah Swt. Semoga keluarga bersabar dan tabah”, tuturnya yang akrab disapa NA.

NA juga mengantar Almarhum hingga ke mobil jenazah yang telah siap mengantar ke tempat peristirahatan terakhir. Bahkan hingga menutup sendiri pintu mobil jenazah itu.

Read:  Durasi Singkat, KOMPLEN Sisakan Rindu pada Diskusi Kampung Budaya Ketiga

Diketahui Khaerul terseret air bah sekira pukul 19:00 Wita tatkala banjir mulai melanda daerah tempat tinggal Almarhum. Tepatnya Kampung Beru, Kelurahan Bonto Atu, Kecamatan Bissappu, tak jauh dari kediaman pribadi NA di Bantaeng.

Gubernur kembali mendengarkan penjelasan dari Ayah Haerul yakni Hamma dan Ibunya, Mantang. Dikatakan Hamma bahwa anaknya bermain luncur-luncuran ketika banjir terjadi, membuatnya terseret hingga beberapa ratus meter dari tempatnya.

Read:  Gegara HUT TNI ke-74, Kapolres Bantaeng Kayuh Becak Sejauh Setengah Kilometer

Senada disampaikan Syarifuddin, kakak Almarhum. Lubang menganga di trotoar membuatnya terjatuh dan dengan cepat membuat tubuh Haerul terbawa arus deras.

“Dia main luncur-luncur di atas trotoar. Disitu ada lubang dan terjatuh. Pas jatuh langsug hilang karena dibawa banjir”, urainya.

Saat itu Haerul bersiap menuju Pasar Sentral Bantaeng. Tempat dia menjual ikan bersama kakaknya.

“Kita siap-siap mau ke pasar membersihkan ikan. Tapi adikku main luncuran dan terakhir kulihat sebelum meninggal”, kunci Syarifuddin. (*)