Pemprov SulSel Nantikan ODP Santri Asal Jatim Untuk Diinapkan di Hotel

ODP Santri Jatim diinapkan Pemprov SulSel.
Gubernur SulSel (kanan) berbincang dengan Relawan Pendamping COVID-19 (02/05/20).

AMBAE.co.id – Makassar. Hotel Swiss-belinn di Kota Makassar kembali dikunjungi Gubernur SulSel (Sulawesi Selatan), HM Nurdin Abdullah pada Sabtu (02/05/20). Merupakan hotel untuk mengkarantina para ODP (Orang Dalam Pemantauan) dan OTG (Orang Tanpa Gejala).

Pemprov SulSel menjadikannya lokasi terhadap program Rekreasi Duta COVID-19. Dia kemudian berinteraksi langsung dengan para Relawan Pendamping, pasien dan para penyintas COVID-19.

Sejauh ini sebanyak 204 orang pasien menjadi peserta kegiatan di hotel itu. Sebanyak 164 peserta sedang menjalani program dan 3 orang yang dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.

“Hari ini datang dari Luwu Utara, kita akan menerima 19 Santri dari Jawa Timur. Mereka sedang dalam perjalanan”, ungkap Gubernur SulSel.

Alita Karen selaku Koordinator Relawan Pendamping menjelaskan bahwa pelayanan ini sebagai bentuk kepedulian negara untuk hadir terhadap penanganan COVID-19.

“Negara sebenarnya sudah hadir untuk kasus COVID-19 ini karena Pemprov sudah sangat concern dengan situasi yang terjadi di masyarakat”, tandasnya.

Dalam kasus positif COVID-19, dimana ODP maupun OTG karena ketidak mampuan pasien dalam merawat dirinya sendiri di rumah. Pemprov SulSel kemudian mengalihkannya ke satu tempat/shelter.

Read:  Ketua PKK-Gubernur SulSel Pantau Kesiapan Penyaluran Paket Pangan Untuk Masyarakat

Di tempat itu, kebutuhan pasien dijamin. Mulai dari keamanan, kesehatan hingga makanannya.

Dengan pelayanan ini kata Karen, SulSel menjadi salah satu best innovation penanganan COVID-19 terutama ketersediaan shelter. SulSel tercatat kedua setelah Jakarta yang memanfaatkan hotel sebagai shelter.

Karen adalah seorang aktivis bersama sembilan relawan lainnya dari berbagai latar belakang sama. Mereka berupaya membuat peserta merasa nyaman dengan memberikan berbagai pelayanan dan aktifitas.

“Jangan membuat stigma terhadap mereka yang positif. Mereka sebenarnya tidak apa-apa, justru sangat bagus jika mereka open status, itu menjadi warning buat orang lain”, pungkasnya. (*)