Durasi Singkat, KOMPLEN Sisakan Rindu pada Diskusi Kampung Budaya Ketiga

Gelar Diskusi Budaya Ketiga KOMPLEN.
Ilham Azikin (kanan) bersama Dion di Taman Purbakala Makam La Tenri Ruwa (21/12/19).

AMBAE.co.id – Bantaeng. Dari Makam La Tenri Ruwa Bantaeng berkobar hasrat para pegiat, pemerhati dan pecinta budaya untuk meneruskan Diskusi Kampung Budaya 3 yang digelar Komunitas Pakampong Tulen (KOMPLEN).

Kegiatan tersebut diyakini oleh sebagian kalangan patut dilanjutkan. Hanya saja waktu membatasi karena telah memasuki waktu Shalat Maghrib, acara harus diakhiri.

“Lanjutkan, lanjut sampai malam”, sorak salah seorang peserta diskusi pada Sabtu sore (21/12/19).

Peserta lainnya mengatakan masih penasaran dengan kelanjutan kisah epik para Narasumber. Dia yang enggan disebutkan namanya mengaku kembali merindu dengan tidak tuntasnya.

Namun berharap agar rasa keingintahuannya pada akar budaya dan sejarah Provinsi Sulawesi Selatan khususnya Kabupaten Bantaeng dapat disikapi Pemerintah dengan membuka ruang seluas-luasnya kepada para komunitas untuk menggelar diskusi serupa.

Budayawan sekaligus Seniman, H Syarifuddin Daeng Tutu menuturkan malah membeberkan kerisauannya saat diminta sebagai Narasumber beberapa hari sebelumnya. Kala itu, Daeng Tutu menyayangkan sempitnya dan minimnya durasi diskusi.

“Waktu Saya dihubungi, kenapa setelah Ashar. Kenapa tidak sekalian satu hari penuh karena ini sangat amat penting untuk kita wariskan kepada generasi mendatang”, ungkapnya.

Daeng Tutu menceritakan bagaimana Angngaru itu sangat sakral. Aru diartikan sebagai janji, sumpah atau ikrar, adalah sumpah setia rakyat kepada Rajanya.

“Jadi Angngaru adalah orang yang mengucapkan aru itu sendiri. Kalau ini kita ulas tuntas, bisa-bisa sampai jam 4 dini hari”, ujarnya.

Dikesempatan sama, Daeng Tutu dari Kabupaten Gowa mengisahkan Karaeng Galesong melalui untaian alat musik berdawai yang dikenal dengan Sinrilik. Kerap digunakan sebagai media sosialisasi di era Orde Baru.

Read:  Kunjungi Bantaeng, Pemkab Penajam Paser Utara Contek RSUD dan BSB

Terkait pengucapan sumpah setia itu, sedikit berbeda penyebutannya disampaikan Andi Imran Masoewalle selaku Budayawan dari Kabupaten Bantaeng. Dia juga merupakan salah satu keturunan Raja Bantaeng yang memiliki sejumlah dokumen otentik termasuk Lontara Bilang sebagai pedoman akan budaya Kerajaan Bantaeng.

“Tabe’ (permisi), setahu Saya dan referensi yang Saya miliki, pakai koma. A’ngaru, jadi bukan Angngaru”, pungkasnya.

Ditegaskan lagi bahwa setiap Kerajaan di masa lalu memiliki budaya dan kondisi yang berbeda-beda. Itu menjadi penanda kata dia bahwa perbedaan tata bahasa, penyebutan serta pemaknaan tidak harus dibesar-besarkan, namun dijadikan sarana untuk menemukan solusi terbaik dalam melestarikan budaya dan sejarah.

Read:  Impian Anak Bantaeng Harus Tertunda Gegara Corona

Sulhan Yusuf selaku Tokoh Literasi yang juga CEO Boetta Ilmoe yang tampil sebagai Pembicara ketiga meyakinkan seluruh peserta diskusi termasuk Bupati Bantaeng, H Ilham Azikin dan Ketua KPU Kabupaten Bantaeng, Hamzar Hamna serta CEO KOMPLEN, Bahruddin (Dion) yang hadir saat itu bahwa dirinya siap mewariskan perbedaan yang ada. Dia bahkan berceloteh jika dirinya bagian dari generasi Milenial.

“Saya kira generasi berikut akan lebih siap hadir dalam perbedaan-perbedaan. Orang Milenial itu suka berbeda”, ucap Penulis Botak itu.

Di atas perbedaan ini kata Sulhan akan diwariskan warisan tersebut untuk didedahkan kepada para pewaris. Informasi awal yang disampaikan Karaeng Imran menurutnya bisa dijadikan awal untuk menelusuri lebih dalam akan budaya dan sejarah Bantaeng.

Read:  33 Peleton Ikuti Upacara HBN 71 Bantaeng

Makam La Tenri Ruwa yang kini menjadi Taman Purbakala itu pula bagian dari sejarah saling bertaut antara dua Kerajaan besar di masanya yakni Kerajaan Bantaeng dan Kerajaan Bone. La Tenri Ruwa merupakan Raja ke-XI Kerajaan Bone yang memilih tinggal di Bantaeng hingga akhirnya dimakamkan di “Taman Purbakala Kompleks Makam La Tenri Ruwa dan Makam Raja-raja Bantaeng” di Jalan Pemuda, Kelurahan Pallantikang, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng. (*)