Ratusan Pemuda Kritisi Akses Jalan Buruk Menuju KBK, Apa Yang Merasuki Pemerintah?

Kondisi infrastruktur Kemah Buku Kebangsaan Jilid III.
Akses jalan berbatu dan beralaskan tanah dilalui peserta Kemah Buku Kebangsaan Jilid III (26/10/19).

AMBAE.co.id – Bantaeng. Satu hal menarik sekaligus memukul bagi Pemerintah yang muncul pada perhelatan Kemah Buku Kebangsaan (KBK) Jilid III di Trans Muntea Bantaeng, Sabtu siang (26/10/19).

Ratusan Pemuda dan Pemudi yang menjadi peserta kegiatan itu meneriakkan “Beri kami jalan bagus”. Diikuti dengan teriakan “Entah apa yang merasuki Pemerintah” dari beberapa pemuda diantaranya.

Dipicu ucapan Jumaris selaku Panitia yang didapuk sebagai MC (Master of Ceremony) pada siang itu. Dijelaskan dengan gamblang bahwa jalanan yang menjadi akses menuju lokasi KBK Jilid III sangat tidak refresentatif.

“Disini ada masyarakat yang tinggal dan ada sekolah jarak jauh. Mereka itu kesusahan karena jalannya belum maksimal dan masih perlu diperhatikan”, tutur Jumaris.

Dia berharap pasca KBK dihelat tahun ini, Pemerintah bisa memperhatikan infrastruktur yang ada. Minimal kata dia, survey segera dilakukan selama KBK berlangsung.

Read:  PINUS Duta Lilin Bergulir, Mentor dan Pendamping Saling Menguatkan

Paling banter kata dia, datanglah menghadiri KBK sebagai bentuk kepedulian. Jika tidak dapat undangan, mestinya publikasi melalui sosial media akan lokasi KBK Jilid III itu sudah menjadi acuan bagi Pemerintah yang dituntut melayani masyarakatnya dengan metode menjemput bola.

“Kalau jalanan bagus, maayarakat bisa dengan nyaman bertani. Masyarakat juga bisa dengan nyaman menyekolahkan anak-anaknya”, ujarnya.

Pasalnya kondisi jalanan sekira 500 Meter itu hanya berupa jalan tanah dan dipenuhi batu lepas yang siap menggelincirkan pengguna jalan khususnya pengendara. Sementara antusias untuk mengikuti KBK terus meningkat, ditandai bermunculannya peserta baik dari dalam maupun luar Bantaeng mulai usia balita, remaja, dewasa hingga kalangan orang tua.

Parahnya lagi seperti disampaikan Rahman bahwa Pemerintah tidak maksimal memberi dukungan terhadap kegiatan KBK. Secara mendasar, KBK lahir karena gotong royong dengan memanfaatkan hubungan harmonis dengan tokoh berpengaruh baik di Bantaeng, SulSel hingga tingkat nasional maupun internasional.

“Pendanaan Kemah Buku Kebangsaan ini datangnya dari para panitia. Ditambah dukungan pribadi beberapa pihak, seperti sumbangan pribadinya Bapak Hamsya Ahmad, selaku Ketua DPRD, pribadinya Bapak Syahrul Bayan sebagai Kadis Kominfo dan sumbangan lain secara pribadi”, urai Pembina KBK, Rahman.

Dengan kondisi jalanan itu, Ketua DPRD Kabupaten Bantaeng, Hamsyah Ahmad tidak menjadikannya penghalang untuk datang sekaligus membuka kegiatan itu.

Read:  Modal Bambu, Aliansi Pemuda Ulu Ere Bikin Rumah Hobbit, Lantas Siapa Hobbitnya

Sama seperti peserta, dia berjalan kaki melewati debu jalanan serta menerobos tebalnya kabut yang memenuhi lembah yang berada di Desa Bonto Lojong, Kecamatan Ulu Ere, Kabupaten Bantaeng tersebut.

Hamsyah membenarkan pentingnya akses jalan yang ada di Trans Muntea itu diperhatikan oleh Pemerintah. Betapa tidak dampaknya sangat besar, tidak terbatas dinikmati para Pemuda Ulu Ere yang melaksanakan KBK.

Read:  Disbudpar SulSel Meriahkan Pembukaan Toraja International Festival 2019

Lebih luas secara berkesinambungan, masyarakat Ulu Ere pada khususnya dan masyarakat dari luar Kabupaten Bantaeng akan merasakan manfaat sama. Apalagi Aliansi Pemuda Ulu Ere sebagai penggagas KBK menyiapkan lokasi itu menjadi destinasi wisata untuk rentang waktu berkelanjutan.

“Tentunya persoalan akses jalan ini bukan kewenangan kami. Tetapi Insya Allah kami akan memberikan masukan kepada instansi terkait, dalam hal ini Dinas PUPR”, tegasnya.

Menyangkut masalah akses jalan itu menurutnya, perlu dan harus dilakukan secepatnya. Dia merasa punya kewajiban untuk mendesak Pemerintah khususnya OPD yang menangani pekerjaan jalan. (*)