Disbudpar SulSel Gaet Komunitas Lari Kenalkan Budaya Lokal

Berlari dengan pakaian adat.
Pemenang lomba lari dengan pakaian adat kategori Best Traditional Costume Female.

Pakaian adat yang dikenakan peserta kemudian dinilai panitia terutama untuk kategori lomba tersebut karena ada juga lomba lari kategori umum dengan penilaian pada kecepatan tibanya di garis finish.

Namun bagi Syam, sapaan akrab Kabid yang intens disektor promosi itu, kostum bernuansa pakaian adat senantiasa terus dibudayakan untuk digunakan masyarakat SulSel dan Indonesia pada umumnya.

Read:  Wabup Saiful Arif Konsultasi Prof Jufri Guna Menyambut Wisman Diving ke Selayar

Betapa tidak, dari hari ke hari perkembangan zaman dengan modernisasi yang seakan sulit dibendung semakin menggerus budaya lokal yang ada.

“Harapan terbesar kita pakaian adat ini kembali kita jadikan kebiasaan dan membudaya di tengah masyarakat. Semoga event ini memacu semangat dan kepedulian kita untuk melestarikannya”, pungkasnya.

Pelari melalui rute sejauh 7 Kilometer. Dimana panitia sengaja mengarahkan peserta untuk melewati beberapa destinasi wisata untuk ikut dipromosikan diantaranya Fort Rotterdam, Pantai Losari, Masjid 99 Kubah, Monumen Mandala dan Lapangan Karebosi yang menjadi kebanggaan warga SulSel dan Kota Makassar pada khususnya.

Read:  Bupati Majene Harap Terjadi Peningkatan Kinerja Pengelolaan Keuangan

Keterlibatan para pelari itu pun dihargai dengan cukup memuaskan. Disbudpar menghadiahi masing-masing 800 ribu Rupiah bagi Juara I, 700 ribu Rupiah bagi Juara II dan Juara III untuk kedua kategori pemenang Best Traditional Costume Male/Female dihadiahi dengan uang tunai sebesar 600 ribu Rupiah ditambah dengan trophy untuk ketiga pemenang.

Event itu dihadiri langsung Gubernur SulSel, HM Nurdin Abdullah dan Plt Kepala Dinas Pariwisata SulSel, Denny Irawan yang sekaligus melepas peserta di titik start. (*)