Permainan Rakyat Warnai Launching TIC Benteng Somba Opu

 

Festival permainan rakyat dan TIC Benteng Somba Opu.
Ibrahim Halim (kemeja orange) bersama jajaran Poltekpar Makassar di Benteng Somba Opu (11/12/21).

AMBAE.co.idGowa. Bekerja sama dengan UPT (Unit Pelaksana Teknis) Taman Budaya Benteng Somba Opu, Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan (Disbudpar Sulsel), Poltekpar (Politeknik Pariwisata) Makassar menggelar Launching Tourism Information Center (TIC) Benteng Somba Opu.

Diadakan sejak pagi hingga sore pada Sabtu (11/12/21) di kawasan Benteng Somba Opu, kegiatan itu dirangkaikan dengan festival permainan rakyat bertajuk Traditional Games Festival 2021.

Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat, M Ibrahim Halim mendapat amanah penting dari Muhammad Jufri selaku Kadisbudpar Sulsel untuk menghadiri acara tersebut. Dia kemudian membacakan sambutan tertulis.

Dikatakan bahwa permainan rakyat atau permainan tradisional merupakan bagian tak terpisahkan dari proses mengenang sejarah, melestarikannya dan menjaganya agar tetap dapat dirasakan generasi saat ini dan nanti.

Festival bertema “Back to old, forever young” itu menampilkan engrang, ban, gasing, lompat karet dan dende. Bahkan dilombakan dalam dua sesi hingga sekira pukul 16:00 WITA.

“Sejarah memberi manfaat yang besar bagi kita untuk bisa memahami perkembangan teknologi dan juga identitas masyarakat sejak masa lalu, untuk selanjutnya menjadi salah satu dasar berpikir di masa kini dan masa depan,” ucap Bram, sapaan akrab Ibrahim yang membacakan sambutan Jufri.

Lanjut Bram, Benteng Somba Opu menyimpan segudang informasi yang perlu diketahui masyarakat. Pelajar dan Mahasiswa misalnya yang bersentuhan langsung dengan proses menimba ilmu, sepatutnya diajak sesering mungkin mengunjungi museum.

Read:  Marak Diterjang Bencana, Ketua PKK SulSel Studi Gempa di Negeri Sakura

Sehingga akan menambah wawasan, berikut memberi peluang lebih besar kepada pengelola museum ataupun cagar budaya lainnya untuk makin proaktif melakukan pemeliharaan, pelestarian, dan perlindungan.

“Dengan belajar sejarah, banyak hal bisa kita ketahui terkait peradaban masa lalu sampai sekarang,” tambahnya.

Memahami sejarah berimplikasi pada bertambahnya pengetahuan terhadap ragam aspek kehidupan. Erat kaitannya dengan upaya membangkitkan kembali budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif yang terhempas akibat Pandemi COVID-19 selama kurun waktu dua tahun terakhir.

Dampaknya, kunjungan wisatawan akan makin meningkat, seiring terjaganya koleksi museum dan cagar budaya yang ada. Selanjutnya dibutuhkan inovasi untuk menyediakan informasi aktual, akurat, terpercaya, dan up to date terhadap kebutuhan data dan layanan bagi calon wisatawan ataupun pelancong.

“Tourism Information Center yang ada di Benteng Somba Opu, hari ini dilaunching, Saya yakin akan meningkatkan upaya kita dalam mempromosikan Benteng Somba Opu ini lebih luas lagi,” kata Bram.

TIC ditekankan harus memenuhi prasyarat agar dapat lebih optimal penggunaannya ataupun pemanfaatannya. Bram berharap ada pengelola khusus yang menangani sebagai Admin. Disamping itu, hal mendasar adalah sajian informasinya mesti mengikuti perkembangan zaman dan perkembangan peradaban yang kini lebih menyasar kalangan milenial dan zilenial.

“Mohon TIC ini ditempatkan di lokasi yang benar-benar tepat dan tersedia full time pada destinasi karena dibuka setiap hari. Perlu diperhatikan juga, konten-kontennya mampu memikat calon pengguna, saat melihatnya langsung tertarik,” tegasnya yang nyentrik dengan kemeja orange-nya.

TIC Benteng Somba Opu saat dilaunching pagi itu ditandai dengan show simulation TIC dan maket exhibition. Muhammad Jufri yang dihubungi AMBAE menyampaikan selamat atas launching fasilitas berbasis teknologi digital itu.

“Ini pencapaian luar biasa, selalu ada inovasi untuk menyajikan informasi yang Inshaa Allah cocok dan akan disukai semua kalangan, kita di Disbudpar Sulsel bisa berkolaborasi dengan Poltekpar Makassar. Dan yang pasti kita selalu beradaptasi dengan kemajuan yang ada, perkembangan, dan perubahan-perubahan yang seakan wajib, mau tidak mau kita harus ada di dalamnya. Inilah kebangkitan pariwisata yang kita harapkan,” pungkasnya.

Jufri yang bergelar Professor itu berharap, kunjungan ke museum akan makin meningkat, mesti perlahan tapi upaya konkrit terus dilakukan. Bahwa Disbudpar Sulsel tidak boleh berdiam dan mengakui kehebatan, sementara unsur lain sangat layak diajak bekerja sama untuk membangun kolaborasi.

“Kita ada kerja sama yang resmi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan. Implementasinya, para Kepala Sekolah, terutama SMA dan SMK yang ada dibawah koordinasi Disdik, kita dorong agar mengajak siswa dan siswinya mengunjungi museum untuk belajar dan menjadikannnya lokasi Proses Belajar Mengajar yang efektif selain kelas indoor,” terang Prof Jufri.

Menyinggung tentang permainan rakyat, dia menyatakan, ke depan bisa dilombakan dalam berbagai kegiatan. Metode dan polanya akan disusun sedemikian rupa, sebagaimana Disbudpar Sulsel sebagai leading sector kebudayaan dan kepariwisataan, Jufri menyebutnya punya tanggung jawab besar untuk melestarikan permainan rakyat.

“Permainan rakyat ini salah satu atraksi pariwisata. Saya kira wisatawan khususnya wisatawan mancanegara sangat suka dengan dende-dende, engrang, main gasing dan yang lainnya, kenapa tidak kita lombakan agar wisatawan domestik juga makin tertarik dan makin cinta sejarah kita,” kunci dia. (*)