Gegara Komunitas Literasi Menjamur, Pemkab Bantaeng Gelar Rakor Perpustakaan

Rakor Perpustakaan di Gedung PGRI Bantaeng.
Peserta Rakor Perpustakaan menyimak materi dari Pustakawan Provinsi SulSel (27/03/2019).

AMBAE.co.id – Bantaeng. Komunitas Literasi yang semakin menjamur belakangan ini di Kabupaten Bantaeng dijadikan satu dari sekian dalih bagi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bantaeng untuk semakin memantapkan pengelolaan perpustakaan baik perpustakaan daerah, perpustakaan kecamatan dan perpustakaan desa/kelurahan maupun perpustakaan

Sehingga digelarlah Rakor (Rapat Koordinasi) Bidang Perpustakaan Tahun 2019 di Gedung PGRI Bantaeng di Kelurahan Lembang, Kecamatan Bantaeng, Rabu siang (27/03/19). Hadir saat itu selaku tuan rumah yakni Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bantaeng, Estha Karim bersama jajaranya.

Read:  Perpustakaan EXPO 2019, Asisten II Setda Bantaeng: Lebih Penting Literasi Keuangan

Rakor dibuka secara resmi Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Bantaeng, H Syamsul Suli. Dikatakan bahwa perpustakaan memiliki peran penting dalam mewujudkan kualitas SDM yang berkualitas, mandiri dan mampu berdaya saing di era global.

“Peran perpustakaan ada 3, salah satunya sebagai penguatan literasi masyarakat”, ujar dia.

Untuk mewujudkan peran itu kata dia, perpustakaan harus bertransformasi dalam memberikan layanan yang berbasis inklusi sosial.

Read:  Duta Lilin yang Menggoda Segera Grand Launching

Hal itu ditanggapi Abby, Pengelola Serambi Baca Tau Macca di Desa Bonto Marannu, Kecamatan Ulu Ere. Dia menjelaskan agar Pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan para pengelola perpustakaan, khususnya yang dibawahi Pemkab di tingkat Kecamatan, Desa dan Kelurahan.

“Jangan setengah-setengah mengawal teman-teman. Saya harap pengelola perpustakaan desa bisa diajak study ke luar sana”, pintanya.

Ditambahkan bahwa sebagai pengelola perpustakaan yang bergerak secara swadaya pada tatanan komunitas-komunitas. Pihaknya lebih mengejar pembaca ketimbang kesejahteraan karena mereka tidak bergaji layaknya petugas perpustakaan pemerintahan. (*)