Digawangi Dr Fachirah Ulfa, Tim UNHAS Bina Petani Jeneponto Meningkatkan Produksi Bawang Merah

 

Perbanyakan bawang merah dengan biji.
Petani di Jeneponto mengikuti pelatihan yang digelar UNHAS untuk meningkatkan produktivitas bawang merah (13/07/2022).

AMBAE.co.idMakassar. Petani di Kabupaten Jeneponto akhirnya dapat mengenali lebih mendalam, metode untuk meningkatkan produksi bawang merah. Hasil berlipat ganda dapat dicapai berkat kehadiran jajaran Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar melaksanakan pelatihan, pembimbingan hingga pendampingan.

Tim beranggotakan para Dosen dan Mahasiswa dari UNHAS Makassar membersamai petani di wilayah yang dijuluki Butta Turatea (Tanah Orang Di Atas) itu selama kurang lebih 5 bulan lamanya. Dr Ir Fachirah Ulfa MP sebagai Ketua memboyong sejumlah Dosen dari berbagai bidang keahlian.

Adalah Prof Dr Ir Elkawakib Syamun MP pada Bidang Pertanian Organik, dan Dr Ir Abd Haris B MSi untuk Klimatologi sebagai anggotanya. Lalu Dr Ir Vien Sartika Dewi MS dengan keahlian spesifik pada Hama dan Penyakit, Dr Ir Katriani Mantja MP untuk PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria), dan Dr Ir Heliawaty MS yang fokus pada bidang Agribisnis.

“Jadi kita melaksanakan kegiatan ‘Pelatihan dan Pendampingan Demplot Bawang Merah Produksi Lipat Ganda’ di Kabupaten Jeneponto sejak bulan Juli sampai dengan bulan November 2022. Sasarannya, mitra dari Kelompok Tani (Poktan),” ungkap Ulfa, sapaan Ketua Tim Pengabdian Hibah UNHAS Makassar, Ahad, 13 November 2022.

Lanjut disampaikan, selama ini petani di Jeneponto pada khususnya, masih banyak belum memahami jika menanam bawang merah dengan memanfaatkan biji mampu memberikan hasil lebih tinggi ketimbang dengan umbi. Serta merta dengan produksi yang berlipat ganda itu, Ulfa meyakini akan memberi keuntungan yang juga lebih besar.

Read:  Isteri NA Intens Turun ke Daerah Bawa Pelatih Industri Kerajinan

Karenanya, penanaman bawang merah dengan biji menjadi hal yang relatif baru bagi petani Jeneponto. Dapat dikatakan menurut Ulfa sebagai inovasi di tingkat petani.

Dengan begitu, kesejahteraan petani bisa lebih meningkat dari sebelumnya. Tim sendiri membekali petani terkait peluang bisnis, serta membimbing sejak pesemaian hingga panen dan pengeringan terhadap komoditi bawang merah, agar bisa memiliki kualitas tinggi untuk bersaing di pasar.

“Penanaman bawang merah dengan biji memberikan banyak keuntungan. Hemat 5 kg/ha, biaya bibit jadi murah sekitar Rp 6 juta perhektar, lebih tahan simpan selama 2 tahun. Umbi yang dihasilkan lebih besar serta produksinya lebih tingggi dibandingkan dengan menggunakan umbi,” terangnya.

Lantas umbi yang dihasilkan bisa digunakan untuk perbanyakan tanaman bawang merah pada musim tanam berikutnya. Disamping produksi tinggi dengan kualitas tinggi pula dan jumlahnya yang relatif banyak, untuk digunakan sebagai bibit, hasil dari program perbanyakan ini diyakini toleran terhadap infeksi virus.

“Dibandingkan dengan biji, petani di Jeneponto yang selama ini, untuk perbanyakan tanaman menggunakan umbi, mudah terinfeksi virus. Belum lagi, dibutuhkan dalam jumlah besar, mencapai 1,5 ton untuk setiap hektarnya. Mudah rusak, ditambah umur simpannya singkat, cuma 3 bulan,” pungkasnya.

Parahnya, metode perbanyakan tanaman menggunakan umbi, biayanya lebih mahal daripada menggunakan biji. Kebiasaan yang turun temurun oleh para petani ini disebut Ulfa menjadi permasalahan klasik yang perlu diperbaharui.

Read:  Deciding on a Mexican Seeing Site

Dampaknya, produktivitas bawang merah di Jeneponto terbilang rendah jika disandingkan dengan Kabupaten/Kota lainnya di Sulawesi Selatan (Sulsel). Dosen Program Studi Agroteknologi UNHAS itu menegaskan bahwa, timnya terpanggil ke Jeneponto meng-upgrade kemampuan petani yang kerap merugi karena harus mengeluarkan biaya sekira 40 persen dari total biaya produksi, untuk menanam bawang merah dengan memanfaatkan umbi.

“Alhamdulillah, kita sudah menyelesaikan kegiatan kita di Jeneponto. Kegiatan ini bagian dari Pengabdian pada masyarakat, dalam rangka melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” jelas dia.

Ulfa berharap petani di Jeneponto dapat melanjutkan program perbanyakan tanaman bawang merah dengan biji. Kedepan, Jeneponto bisa tampil sebagai salah satu daerah penghasil bawang merah yang terbaik di Sulsel maupun di kancah nasional. (*)