Menuju UGGp Maros-Pangkep, Destinasi Wisata Maros-Pangkep Mesti Ditingkatkan Kualitasnya

 

Optimisme Geopark Nasional Maros-Pangkep.
Bruno S Rantetana (kedua dari kiri) bersama jajaran Disbudpar Sulsel (20/06/22).

AMBAE.co.idMakassar. Geopark Nasional Maros-Pangkep (GNMP) yang berada di dua Kabupaten yakni Maros dan Pangkep diyakini telah siap menuju UNESCO Global Geoparks (UGGp). Optimisme itu disampaikan Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Provinsi Sulawesi Selatan (Disbudpar Sulsel), Bruno S Rantetana.

“Kita optimis tentunya, Geopark Maros-Pangkep yang sudah berstatus National Geoparks ini, akan menyandang status sebagai UNESCO Global Geopark Maros-Pangkep,” kata Bruno, yang dikonfirmasi setelah Upacara Pengibaran Bendera di halaman kantor Disbudpar Sulsel, Senin (20/06/22).

Assessment di tingkat visitasi lapangan terhadap Kawasan Geopark Nasional Maros-Pangkep telah tuntas. Terlaksana selama 4 hari berturut-turut, dari tanggal 14 hingga 18 Juni 2022.

UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menerjunkan dua Asesor ke Maros dan Pangkep. Masing-masing Ms Martina Paskova dari Republik Ceko (Czech Republic) dan Mr Jakob Walløe Hansen dari Denmark, yang mana diterima langsung Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman saat tiba di Makassar, 14 Juni lalu.

Read:  Pencairan TPP Catat Rekor Sepanjang Sejarah Disbudpar Sulsel

Bruno yang sebelumnya bertindak sebagai Inspektur Upacara melanjutkan, tugas terberat menanti seluruh stakeholder, terutama unsur pentahelix tourism. Menanti predikat itu diraih ataupun belum, seyogyanya Kawasan Geopark Nasional Maros-Pangkep semakin dijaga, dipelihara, dan ditingkatkan kelestariannya.

“Utamanya itu kebersihan, keindahan, keamanan, dan terjaganya lingkungan yang seutuhnya bisa memanjakan wisatawan ataupun masyarakat yang berkunjung, baik itu untuk berwisata maupun untuk penelitian. Pastinya, 7 unsur Sapta Pesona yaitu aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan harus terpenuhi,” tegas pria asal Toraja yang karib disapa BSR.

Kawasan geopark ini menurutnya cenderung mengarah kepada sektor pariwisata, diantaranya wisata budaya, wisata alam, wisata bahari, dan wisata edukasi. Sehingga unsur kepariwisataan yang tergabung dalam pentaheliks pariwisata diharapkannya lebih proaktif menunjukkan kepeduliannya menciptakan suasana yang nyaman bagi wisatawan dan juga masyarakat.

“Kupu-kupu misalnya yang orang tahu persis ada di Bantimurung, Saya yakin Pemerintah setempat punya strategi tersendiri, bersama semua pihak. Untuk melestarikannya agar semakin banyak beterbangan di Bantimurung sana, mungkin ada tanaman yang diperbanyak ditanam, jadi hinggapnya disitu. Mungkin juga dengan cara lain, satu hal lagi, Saya tekankan ini dimana-mana agar tidak ada eksploitasi terhadap kupu-kupu,” imbuhnya.

Kekhawatirannya, assessment tidak hanya berlangsung selama 4 hari itu. Justru asesor yang lain bisa saja datang ke Maros-Pangkep tanpa diketahui.

“Namanya menjaga dan melestarikan bukanlah untuk memuaskan Asesor saja. Apa yang dilakukan sekarang sudah luar biasa, apalagi Geopark Maros-Pangkep menuju UGGp ini sudah diperjuangkan sejak 2015,” ujarnya.

Senada itu, Muhammad Jufri, Kadisbudpar Sulsel menyampaikan optimisme yang sama. Baginya, perjuangan belum tuntas dan tidak akan terhenti sekarang.

“Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui beberapa OPD, khususnya kami di Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan punya komitmen, geopark ini terus kita support, baik itu penganggaran maupun pada sisi kebijakan,” tutur Jufri.

Dia membeberkan, selama 4 hari assessment, melakukan pengawalan dan pendampingan kepada Badan Pengelola Geopark Nasional Maros-Pangkep (BP GNMP). Begitu pun Pemerintah Kabupaten Maros dan Pemerintah Kabupaten Pangkep, para petingginya mulai dari Bupati dan Wakil Bupati turut membersamai tim di lapangan.

Read:  KadisBudPar SulSel: Manfaatkan Dunia Digital Agar Museum Lebih Informatif

Hari kedua, Asesor menyambangi Maros, lanjut di daratan Pangkep pada hari ketiga. Kemudian di hari keempat, Jum’at, 17 Juni 2022, asesor dan tim menjelajahi Kepulauan Supermonde di sekitar perairan Pangkep dan Makassar.

“Hari terakhir itu, tanggal 18 Juni 2022, sebelum Asesor ini terbang kembali ke negaranya, menyampaikan hasil sementara assessment kepada tim. Beberapa rekomendasi selama 4 hari, menjadi masukan yang sangat berarti bagi seluruh tim, terima kasih Saya sampaikan kepada Ms Martina Paskova dan Mr Jakob Walløe Hansen,” jelas Kadis bergelar Professor itu.

Jufri sepakat dengan pernyataan BSR, bahwa seluruh pihak harus menunjukkan kepekaan dan kepeduliannya. Terlebih disaat UGGp sudah disematkan kelak, akan ada revalidasi setiap 4 tahun yang menuntut adanya peningkatan kualitas dibanding sebelum UGGp. (*)