Masjid Nurut Tarbiyah Makassar Dibuka Kembali, Diawali Aksi Sapta Pesona

 

Gerakan bersama Sapta Pesona di Masjid Nurut Tarbiyah.
Jajaran Disbudpar Sulsel bergotong royong membersihkan halaman Masjid Nurut Tarbiyah (11/02/22).

AMBAE.co.idMakassar. Masjid Nurut Tarbiyah yang berlokasi di Kawasan Gedung MULO, Kota Makassar bakal dioperasikan lagi pemanfaatannya. Rumah ibadah umat Islam itu direnovasi dengan skala rehabilitasi berat sekira 4 bulan lalu dan kini memasuki tahap akhir.

Bahkan di beberapa bagian, dikategorikan sebagai pembangunan, mengingat konsepnya berupa perluasan area indoor Masjid. Kondisi sebelumnya diketahui sudah tidak mampu lagi menampung jumlah jama’ah yang melaksanakan Shalat baik Shalat Fardhu 5 kali sehari semalam, maupun Shalat Sunnah, apalagi Shalat Fardhu Jum’at yang wajib berjama’ah dengan makmum minimal 40 orang.

Pembersihan pun mulai dilakukan pada Jum’at pagi (11/02/22) dengan melibatkan jajaran Disbudpar Sulsel dari 5 Bidang, 3 UPT dan Sekretariat. Muhammad Jufri selaku Kadisbudpar Sulsel menjadi inisiatornya.

“Pagi ini kita gerak bersama (geber), kita bersihkan sampah dan material bangunan yang tidak terpakai lagi. Teman-teman bergerak serentak, bisa kita lihat disini, ada yang menyapu dan mengangkat pasir,” jelasnya pada Jum’at pagi di Halaman Masjid Nurut Tarbiyah.

Harapannya, hari ini sudah mulai digunakan untuk Shalat Jum’at berjama’ah. Alhasil, ratusan Muslim memadati Masjid Nurut Tarbiyah yang beralamat di Jalan Gunung Batu Putih Makassar itu.

Read:  Bicara Homestay, Prof Jufri Minta Pengelola di Maros Menggandeng EO

Kadisbudpar tidak lupa menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pada donatur yang dengan ikhlas hati menyisihkan sebagian rezekinya untuk memuliakan Masjid. Masyarakat cukup familiar dengan Masjid itu.

Salah seorang jama’ah yang ditemui di lokasi menyebutkan bahwa mereka yang berjama’ah datang dari berbagai kelurahan di Kota Makassar. Panitia pun ekstra sibuk selama Ramadhan guna menyiapkan takjil.

“Mudah-mudahan ini rampung sebelum bulan suci Ramadhan tahun ini. Jadi pegawai dan masyarakat sekitar bisa lagi shalat berjama’ah, buka puasa bersama, mungkin juga sahur bersama,” harap dia.

Pagi itu, Jufri yang bergelar Professor turut ambil bagian, mengenakan kaos oblong berwarna merah, terjun memungut sampah. Tangan dinginnya sebagai pemikir dan pengambil kebijakan di sektor budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif tak menyurutkan semangatnya mengayunkan sekop guna meratakan gundukan di halaman Masjid Nurut Tarbiyah.

Read:  DisBudPar SulSel Bebas Nyamuk

Karenanya, dapat dipastikan jajaran Disbudpar Sulsel ramai-ramai menggelorakan LISA (Lihat Sampah Ambil). Bruno S Rantetana selaku Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata yang dikonfirmasi AMBAE menjelaskan, bakti sosial bagi insan pariwisata bukanlah hal baru.

Sapta Pesona telah membuatnya terbiasa sejak lama. Merupakan konsep sadar wisata dalam upaya mendorong masyarakat sebagai tuan rumah destinasi wisata untuk menciptakan lingkungan kondusif.

“Dimana-mana ini kita suarakan, malah kita ikut bersama masyarakat memberi contoh kepada yang lainnya supaya kawasan di destinasi wisata tetap bersih, indah. Unsur terakhir Sapta Pesona adalah Kenangan, ini juga sering dilupakan, jadi bukan cuma oleh-oleh tapi bagaimana kita memberi kesan yang baik untuk mereka bawa pulang, lalu datang kembali di kesempatan berikutnya,” kata Bruno.

Sehingga terjadi percepatan pengembangan kepariwisataan dari hulu ke hilir diantaranya penciptaan produk UMKM yang berkualitas hingga pelayanan maksimal berstandar kepada wisatawan. Sapta Pesona itu sendiri kata Bruno mencakup tujuh unsur yakni aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah, dan kenangan.

Read:  Кэшаут в Бк%3A Примеры%2C возможности И Недостатки Выкупа Ставк

Ditambahkan, keberadaan rumah ibadah seperti Masjid, Gereja, Pura, Vihara, Kuil, dan sebagainya tidak terlepas sebagai destinasi wisata. Disamping sebagai tempat menunaikan ibadah, jama’ah maupun pengunjung bisa datang belajar, saling berbagi pengetahuan agama serta sebagai wadah menyebarkan informasi peradaban.

“Wisata religi namanya. Pariwisata luas cakupannya, sepanjang tidak menyalahi ketentuan dan kaidah yang ada, konsepnya jelas dan terarah, Saya kira semua hal itu adalah pariwisata. Orang ke sawah saja bisa jadi bagian dari pariwisata,” paparnya.

Bruno yang sudah puluhan tahun bergelut di dunia kepariwisataan mencontohkan lagi, wisatawan suka dengan tatanan hidup bermasyarakat di Indonesia. Tidak banyak bisa ditemukan di tempat asalnya, khususnya wisatawan mancanegara (wisman).

Sebut saja seorang wisman rela tinggal dalam waktu lama di salah satu desa selama kunjungannya ke Indonesia. Saat tuan rumah ke kebun, wisman ini ikut menanam dan menggembala kerbau petani, begitu juga ikut beribadah dengan keyakinan yang dianutnya. (*)